Pilkada Bersama Guru, Semua Sukses

  • Whatsapp
banner 468x60

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Pendidik dan Politisi Pendidikan)

Dalam jejaring WA pergerakan PGRI se Indonesia Saya banyak mendapat japri terkait Pilkada yang sukses karena dukungan guru. Gerakan PGRI saat ini dan kedepan akan terus bergerilya, bersinergi mendukung para kepala daerah yang berpihak pada pendidikan. Berpihak pada guru dan mengutamakan kesejahteraan masyarakat. Berpihak pada guru adalah berpihak pada pelayan masyarakat dalam pendidikan.

Ketua Umum Pengurus Besar PGRI Dr.Unifah Rosyidi selalu mengatakan bahwa PGRI harus menjadi organisasi yang kontributif dan melayani terhadap kepentingan pendidikan. PGRI harus menjadi mitra terbaik bagi pemerintah dan masyarakat dalam mencerdasakan kehidupan bangsa. Terkait euforia Pilkada, PGRI idealnya menjadi bagian dari suksesnya dinamika politik yang teduh, santun, kooperatif dan saling mendukung. Pilkada idealnya sudah bukan pesta demokrasi lagi, melainkan jadikan sebagai ibadah demokrasi.

PGRI hadir dan terlibat dalam euforia demokrasi sebagai ibadah dan khidmat pada kepentingan masyarakat. Agar masyarakat lebih memiliki bekal dalam berdemokrasi, maka guru harus “menceburkan diri” dengan tidak melanggar aturan teknis berdemokrasi dalam Pilkada. Semua guru dan pengurus PGRI pada hakekatnya adalah komunitas politisi pendidikan. Bukan politisi praktis partai politik. Politisi pendidikan selalu mengusung dan berjuang demi pendidikan dan kesejahteraan masyarakat.

Saat ini diantara puluhan kepala daerah yang unggul karena dukungan para guru akan Saya narasikan sepuluh orang kepala daerah saja. Bila semua Saya tulis takut kepanjangan dan takut dipersepsi PGRI tidak tawadhu dan terlihat show up. Beberapa kepala daerah yang dimaksud adalah sebagai berikut : pertama, saya dapat Japri dari Dr.Haryadi Ketua PGRI Madiun. Ia mengirim WA bahwa jagoannya mantan Ketua PGRI Madiun yang bernama Drs.H.Maidi,SH,MM,M.Pd, unggul dan dipastikan jadi Walikota Madiun.

Kedua Saya dapat japri dari H.Pipin Mansur Aripin,M.Pd, Ketua PGRI Kuningan yang mengatakan, “Alhamdulillah paslon Bupati Kuningan yang didukung PGRI menang.” H.Pipin Mansur Aripin,M.Pd banyak berkisah tentang Bupati Kuningan yang sangat sinergik dengan PGRI. PGRI Kabupaten Kuningan sangat hebat dan saling menghebatkan dengan pemerintah Kabupaten Kuningan. Ini simbol harmoni antara Ketua PGRI dan Kepala daerah.

Ketiga, Saya dapat kabar dari Ketua PGRI Kota Bekasi H.Yana Suptiana, M.Pd, Ia mengatakan bahwa Pilkada Kota Bekasi dimenangkan oleh pasangan yang di dukung PGRI. Dalam tulisan sebelumnya Saya pernah menuliskan bahwa Pilkada akan selalu dimenangkan oleh paslon yang sayang guru dan ulama. Bahkan Walikota yang unggul ini, sudah berjanji akan memberi gaji guru honorer sampai Rp.5 juta. Saat ini baru Rp.3,9 juta. Sebuah perhatian luar biasa pada guru honorer. Untuk guru PNS mendapatkan TKD yang terbesar di Jawa Barat.

Keempat, saya dapat kabar dari Ketua PGRI Karanganyar, Dr.H.Arismunandar dan H.Srwiyanto,M.Pd yang mengetik WA mengatakan, “Kabupaten Karanganyar, berkat dukungan dan kerja keras guru, Bapak Yulianto memenangkan Pilkada”. Sambil mengirimkan photonya, saya komentari dan apresiasi. PGRI Kabupaten Karanganyar dibawah pimpinan ketuanya luar biasa sinergik. “Saatnya berpolitik, siapa yang berkeringat, layak dapat bintang.” Guru harus berpihak pada kepala daerah terbaik, yang peduli pada pendidikan dan masyarakat.

Kelima, Saya dapat photo dari Ketua PGRI Provinsi Sumut, Drs.H.Abdul Rahman Siregar yang memperlihatkan sedang berjabat tangan mesra dengan Edy Rahmayadi. Photo ini diambil sehari sebelum Pikada Sumut. Terbukti Edy Rahmayadi unggul dan siap menjadi Gubernur baru Sumatra Utara. Ketua PGRI Sumut Drs.H.Abdul Rahman Siregar adalah senior di PGRI yang aktif “berteriak” membela guru honorer. Ia mengatakan cagub terpilih Edy Rahmayadi, siap menuntaskan maslah guru honorer.

Keenam, Saya dapat pesan dari Sekertaris Umum PGRI Provinsi Sulawesi Selatan Dr.H.Saripudin telah lama mendukung Prof.Dr.Nurdin Abdullah. Diiantaranya dua tahun yang lalu Prof.Dr.Nurdin Abdullah diperkenalkan dihadapan 30 ribu guru. Nurdin Abdullah saat menjabat Bupati Bantaeng, mulai pendidikan dari sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA) semuanya gratis. Bus sekolah juga tersedia di beberapa tempat di daerah Bantaeng. Setidaknya Seorang pemimpin yang baik, adalah mereka yang peduli pada pendidikan. PGRI Provinsi Sulawesi Selatan mendukung pemimpin peduli pendidikan.

Ketujuh, Sekretaris Forum Guru Swasta (FGS) Ponorogo, Sutrisno mendukung calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elestianto Dardak. Emil Elestianto Dardak mengatakan, “Saya tidak bisa seperti ini tanpa guru. Saya seorang yang bersyukur, pendidikan mengantar saya kepada kehidupan lebih baik”. Plus keluarga besar PGRI Jawa Timur adalah bagian dari suksesnya Pilkada yang kondusif dan edukatif.

Kedelapan, kemenangan Ganjar Pranowo terkait dengan sinergi cantik dengan PGRI Provinsi Jawa Tengah. Ketua PGRI Jawa Tengah Widadi, mengatakan “PGRI mengakui kinerja impresif Gubernur Ganjar pada periode pertama dalam dunia pendidikan sehingga kami siap diajak bicara lagi ke depan.” Sementara itu Rektor UPGRIS Muhdi mengapresiasi inisiatif Ganjar dalam memperjuangkan nasib guru-guru. Muhdi mendoakan Ganjar Pranowo kembali terpilih sebagai Gubernur Jateng periode 2018-2023 sehingga bisa bekerja sama lebih baik lagi dengan PGRI (liputan6.com). Realitasnya Ganjar Pranowo unggul, inilah berkah guru dan PGRI.

Kesembilan, terpilihnya H.Ruhimat dalam Pilkada Kabupaten Subang tahun 2018 ini terkait peran guru-guru. Berdasarkan informasi dari Ade Mulyanam,S.Ag,M.Pd, Sekertaris 2 PGRI Kab.Subang karena dahsyatnya PGRI Kab.Subang yang dipimpin oleh Drs.H.E.Kusdinar,M.Pd yang mampu memberdayakan organisasi dengan efektif dan wow. PGRI Kab.Subang bahkan bersinergi dengan lembaga survai. Maka calon didukung para guru adalah calon terbaik dan mengerti dunia pendidikan. Dari sejumlah komitmen yang dibangun diantaranya adalah meningkatkan kesejahteraan, perlindungan dan memudahkan karir guru berprestasi.

Kesepuluh, ini paling unik. Berkat PGRI dan guru-guru yang solid, ketua PGRI Demak menjadi bupati terpilih. H.M.Natsir,S.Ag.,M.Pd.,MM., adalah Bupati Demak terpilih yang terkait dengan perjuangannya dalam dunia pendidikan. Ia mendedikasikan diri di organiasi profesi PGRI. Berkhidmat pada pendidikan dan dunia guru adalah sama dengan berkhidmat pada kepentingan masyarakat yang paling mendasar. Banyak kemudahan pendidikan yang diperoleh masyarakat bila kepala daerahnya mengerti dunia pendidikan.

Sahabat PGRI di seluruh Indonesia marilah kita terus merangkul para kepala daerah yang sayang pada pendidikan, masyarakat dan guru. Guru dan PGRI harus berpihak pada paslon yang terbaik dan para pemimpin yang terbaik. Siapa saja pemimpin yang memprioritaskan pendidikan kita dukung. Semua hal perbaikan negeri ini berawal dari pembenahan pendidikan. Kepala daerah yang mengerti dan memprioritaskan pendidikan wajib didukung.

Ada sebuah filosofi makan bubur yang dapat kita jadikan “referensi” perjuangan. Setiap makan bubur biasanya dimulai dari pinggir karena panas, terus ke tengah dan akhirnya habis. Sahabat PGRI dan guru-guru di Indonesia, mari kita berjuang dengan filosofi makan bubur. Mulai dari daerah kabupaten kota, terus ke provinsi dan akhirnya ke pusat pemerintahan. Kita usung dan rangkul para kepala daerah yang peduli pada nasib rakyat terkait pendidikan. Kita selesaikan masalah tata kelola pendidikan mulai dari daerah.

Kerjasama para kepala daerah dengan PGRI harus tercipta sejak “berkeringat” di proses Pilkada. Pilkada adalah kesan pertama, selanjutnya terserah anda. Ketua Umum Pengurus Besar PGRI Dr.Unifah Rosyidi mengatakan “Guru adalah kekuatan moral intelektual dan penguat karakter bangsa.” Guru adalah komunitas yang tak butuh money politic. Ia hanya butuh education politic. Demi pendidikan dan masyarakat maka guru akan bahu-membahu berjuang mendukung setiap kepala daerah.

Mari para guru se-Indonesia berfilosofi makan bubur. Kita usung para pemimpin mulai dari kabupaten kota, provinsi dan pemerintah pusat yang menjadikan pendidikan sebagai panglima. Satukan suara, tenaga, pilihan dan keberpihakan pada pemimpin terbaik yang peduli pendidikan. Jangan lupa! Ikuti bahasa tubuh dan “komando” pimpinan tertinggi di organisasi, Arahan Ketua Umum adalah kunci sukses bersama.

Guru bukan “makelar suara” tetapi guru adalah warga masyarakat terdidik yang punya beban moral menyukseskan setiap Pilkada. Para guru harus “belanja aspirasi” dari masyarakat, mengetahui potensi paslon. Kemudian menempatkan paslon terbaik sebagai pilihan masyarakat.

Jauhkan masyarakat dari memilih karung dalam kucing atau memilih kucing dalam karung. Pilihlan kepala daerah yang clear, clen dan tidak terlalu punya kepentingan pribadi, melainkan wakaf diri untuk masyarakat, demi kesejahteraan bersama.

Pos terkait

banner 468x60