Kampung Adat Cireundeu Butuh Perhatian Pemerintah Untuk Bisa Lestari

  • Whatsapp
banner 468x60

Pewarta : Avenk

Koran SINAR PAGI, Kab.Sukabumi,- Sejak berdirinya Komunitas Adat Terpencil (KAT) yang ditandai dengan peresmian “Tugu” yang ditandatangani oleh Menteri Sosial, Bachtiar Chamsah pada tahun 2009 lalu, Kasepuhan Cireundeu, yang terletak di Kampung Cireundeu, RT 01 dan 02 RW 01, Desa Caringin, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, kini seakan tidak lagi mendapat perhatian dari pemerintah.

“Kampung Adat Cireundeu ini, tidak pernah diperhatikan lagi oleh pihak – pihak terkait, khususnya Dinas Sosial,” ungkap Abah Sumri, Sesepuh Kaolotan Kampung Adat Cireundeu, kepada tim koransinarpagijuara.com saat mendampingi Ketua Fraksi Gerindra, Usep Wawan melakukan kunjungan ke wilayah tersebut, untuk bersilaturahmi sekaligus sebagai bentuk kepedulian Fraksi Gerindra terhadap kelestarian budaya lokal.

Abah Sumri dan para sesepuh lainnya serta tokoh masyarakat, sangat mengharapkan adanya bantuan, baik segi materi, pikiran dan tenaga untuk kebutuhan semua pihak dalam melestariakan Komunitas Adat Terpencil (KAT), tambahnya.

“Kami memiliki adat kasepuhan seperti kesenian Topeng dan Angklung yang harus dilestarikan, karena itu peninggalan sejarah,” ungkapnya.

Diakui, pihak sudah sejak lama melampirkan permohonan bantuan perbaikan fasilitas termasuk infrastruktur jalan, ke dinas terkait, namun hingga saat ini hari belum ada jawaban yang pasti.

“Terima kasih atas kunjungan pak dewan, mudah – mudahan ini jadi pertanda baik untuk upaya pelestarian Kampung Adat Cireundeu,” ucap Abah Sumri.

Menanggapi hal ini, Fraksi Gerindra DPRD Kab.Sukabumi mendorong Pemerintah Kab.Sukabumi untuk memberi perhatian terhadap upaya pelestarian kearipan lokal di wilayahnya, termasuk Kampung Adat Cireundeu.

Diungkapkan, kondisi Kampung Adat Cireundeu saat ini seolah tidak terurus, akses untuk menuju daerah ini, sangat tidak mendukung, terlebih pasca bencana longsor yang terjadi beberapa waktu lalu.

“Akses menuju kampung ini sangat jelek, kendaraan roda empat tidak bisa masuk, padahal kalau jalannya bagus, waktu tempuh dari kantor desa ke Cireundeu hanya sekitar 10 menit,” katanya.

“Ini adalah aset budaya, untuk itu, mari kita jaga dan dukung kelestariannya,” ajaknya, Sabtu (13/06/20).

Disebutkan, maksud kedatangannya ke Kampung Adat Cireundeu adalah untuk melihat keunikan apa yang dimiliki kampung tersebut, untuk kemudian diinformasikan kepada masyarakat luas, sehingga akan menjadi sebuah tujuan wisata yang menarik bagi wisatawan yang mencintai kebudayaan.

“Ini kunjungan pertama Fraksi Gerindra ke Kampung Adat Cireundeu, Insya Allah sekalian menghadiri acara “Seren Taun” Bulan Juli nanti, kami akan datang lagi, mudah – mudahan sambil membawa kabar baik untuk perkembangan Kampung Adat Cireundeu kedepannya,” pungkas Usep.

Pos terkait

banner 468x60