Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Ungkapan Kang Dedi Mulyadi (KDM) kalau kita pelajari sangat substantif. Ia mengatakan bahwa memberi harapan tidak lebih baik dari memberi legacy. Legacy identik dengan karya nyata yang bisa ditinggalkan pada sesama.
Kebanyakan pemimpin itu memberi harapan yang kadang hanya harapan hampa. Sebuah harapan yang dikemas dalam dialektika komunikasi poltik yang cantik. Komunikasi harapan sebelum dan sesudah terpilih kadang “kontras” berbeda. Publik mengatakan harapan hampa. Harapan hampa itu identik omon omon.
Hal yang bukan omon omon adalah aksi nyata yang akan melahirkan legacy dan manfaat langsung pada realitas kebutuhan masyarakat. Walau pun karya nyata dan legacy itu sangat kecil dan tidak besar, tetap lebih baik dari kata kata besar, omon omon besar dan janji besar.
Ungkapan bijak mengatakan, “Sekecil apa pun perbuatan baik, lebih utama dari ucapan besar yang hanya janji dan omon omon”. Tindakan, perbuatan, mengalahkan 1000 kata kata. Masyarakat lebih membutuhkan tindakan yang melahirkan manfaat dan legacy dibanding kata kata baik yang indah dan menawan. Kata kata semua orang bisa mengucapkan, tidakan memberi manfaat tidak semua orang bisa melakukan.
Pesan KDM seolah menjelaskan hal terpenting dalam hidup bukan cerita nanti akan bagaimana, melainkan apa yang bisa dilakukan hari ini, saat ini, sekarang. Ini sama persis dengan apa yang disampaikan KH Syaiful Karim. Hidup itu intinya ada di kehidupan, bukan di pasca kehidupan.
Pasca kehidupan itu otomatis buah dari kehidupan saat ini, hari ini, sekarang. Saat ini, sekarang, detik ini, apa yang kita lakukan, itulah inti kehidupan, bukan nanti dalam bentuk harapan dan “omon omon” spiritual. Aktualitas dan fungsionalitas hari ini adalah senter dan utama berkehidupan.
Bagaimana kita hidup lebih penting dari bagaimana kita setelah mati. Mengapa demikian? Karena setelah kita mati adalah buah dari bagaimana kita hidup hari ini, saat ini, sekarang. Mindfulness diri setiap saat adalah utama. Allah bersama yang sadar, berkata dan bertindak baik setiap saat.
Harimau mati meningalkan belang, manusia mati meninggalkan legacy. Allah, Tuhan yang maha esa sebenarnya menuntut kita untuk fungsional di dunia dalam ridaha_Nya, bukan imajinatif di alam sesudah kematian. Nilai manusia bukan di sesudah kehidupan melainkan di saat Ia hidup.
Tidak ada agama, kitab suci, tempat ibadat, saudara, sejawat, anak istri dan orangtua setelah kematian. Semuanya menjadi misteri, pasti dalam kepastian misteri. Makanya pastikan saat hidup dalam ridha_Nya, awali segala giat dengan basmallah. Atas nama_Nya kita berkata, bertindak dan meninggalkan legacy.
Pastikan setiap saat, mulai hari ini, saat ini, sekarang, kita semua bisa melakukan hal terbaik, meningalkan hal terbaik. Pastikan ada legacy terbaik, kecil atau besar yang bisa kita tinggalkan. Hal terbaik amalan apa yang bisa kita tingalkan, bukan amalan apa yang bisa kita bawa. Memberi lebih baik dari mendapatkan atau membawa. Cukup Allah saja yang kita bawa.







