Gubernur, Sekda dan Kadisdik

0
294

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Menarik dan nyentrik spirit Jabar Istimewa dalam perspektif ASN pendidik. Mengapa menarik? Diantaranya karena hadirnya tiga sosok yang “menyala” yakni Gubernur, Sekda dan Kadisdik.

Sejumlah ASN merasa diajak “berlari” dalam menyukseskan terwujudnya Jabar Istimewa. Gubernur, Sekda dan Kadisdik adalah pemimpin dirasa bagaikan “Tiga Serangkai” saat perjuangan pergerakan kebangsaan Indonesia dahulu.

Tokoh Tiga Serangkai dalam sejarah pergerakan kebangsaan adalah Ernest Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Ki Hajar Dewantara. Mereka bertiga adalah diantara pelopor pertama berdirinya partai politik pertama.

Bila sa’at ini era sudah merdeka dan dalam upaya pergerakan Jabar Istimewa maka Gubernur, Sekda dan Kadisdik adalah Tiga Serangkai Jabar Istimewa. Dedi Mulyadi, Herman Suryatman dan Purwanto menjadi tokoh Jabar Istimewa.

Bila Tiga Serangkai zaman Belanda menggagas kemerdekaan bangsa maka Tiga Serangkai Jabar Istimewa menggagas “kemerdekaan” karakter Jabar melalui spirit Panca Waluya. Cageur, bageur, bener, pinter dan singer menjadi realitas ideal yang tak bisa ditawar.

Ibarat Lafayette dengan spirit egalite, fraternite dan liberte dalam “mengistimewakan” masyarakat Prancis. Revolusi Prancis memberi dampak mendunia, nilai nilai persamaan, persaudaraan dan kebebasan menjadi rujukan kemanusiaan.

Nampanya egalite, fraternite dan liberte versi Tiga Serangkai Gubernur, Sekda dan Kadisdik adalah Cageur, Baguer, Bener, Pinter dan Singer yang akan membawa masyarakat Sunda Jabar khususnya “sejajar” dengan kualitas bangsa lain.

Lafayette ber “Tri Waluya” kemanusiaan dalam Egalite, Fraternitte dan Liberte. Sementara Gapura Panca Waluya dalam Cageur, Bageur, Bener, Pinter dan Singer. Sebuah spirit dan substansi yang sama tentang derajat dan karakter entitas umat manusia.

Terutama Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM) sangat memahami bahwa hanya dengan karakter terbaik sebuah bangsa akan punya masa depan. Plus terikat, tersambung dan melekat pada “baju” budayanya.

Bila kita baca kisah Malin Kundang sebagai ayat kauniyah maka simpulannya adalah siapa saja yang lupa leleuhur sebagai ibu kandung akan bernasib jadi batu. Mati dan tidak hidup, sementara bangsa lain hidup lebih hidup.

KDM menghendaki masyarakat Jabar jangan jadi masyarakat Malin Kundang yang lupa leluhur, lupa kita berasal dari mana, dan lupa bumi dipijak. Kearifan lokal adalah bagian dari keberadaan sebuah entitas masyarakat, harus menjadi bagian melekat.

Bangsa yang lupa ibu kandung, lupa leluhur, lupa lemah cai akan jadi bangsa yang mati. Mengapa mati? Karena tidak tersambung dengan ruh dan identitas dirinya berasal dari mana? Dimana bumi dipijak, disitu bumi dijunjung.