7 Alasan Mengapa Orang Suka Berjudi?…

banner 768x98

Penulis: Drs. H. Sukadi, M.I.L. (Guru Pendidikan Pancasila SMA Negeri 1 Bandung, Jawa Barat)

Saat ini, judi online sedang marak terjadi di masyarakat kita. Pelakunya sangat bervariasi, ada laki-laki, perempuan, orang dewasa, remaja, bahkan anak-anak. Jika kita bicara tentang judi, maka ada dua kelompok manusia yang terlibat di dalamnya, yakni bandar dan pemain. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa dalam permainan judi, apakah online maupun off line, yang diuntungkan adalah mereka yang menjadi bandar. Mengapa bandar selalu “diuntungkan”? Sebab, ada kelicikan-kelicikan di dalamnya. Itulah sebabnya, sehingga budaya dan agama melarang kita melakukan perbuatan syetan ini.

Anehnya, tidak sedikit orang yang tertarik dengan permainan judi. Bahkan, ketika mereka sudah kalah berkali-kali sekalipun. Pemain yang sudah berkali-kali kalah malah memiliki kecenderungan untuk mengulang kembali demi mencapai ekpektasinya, memenangkan judi. Banyak pemain judi yang rela menjual apa yang ia miliki untuk melakukan permainannya. Sungguh, “luar biasa” daya tarik  judi bagi mereka yang sudah ketagihan. Ibarat candu. Jika seseorang telah kecanduan judi, maka apa pun ia lakukan, tak peduli habis hartanya. Bahkan, ada yang rela berutang. Itulah sebabnya, sehingga judi menghasilkan kebangkrutan hidup.

Mengapa Orang Suka Berjudi?

Ada beberapa penyebab orang suka berjudi, diantaranya seperti berikut ini.

Pertama, awalnya orang melakukan judi lantaran ingin mencoba-coba. Saat mencoba-coba dengan jumlah uang yang kecil, ia dapat memenangkan permainan. Itulah salah satu trik bandar dalam permainan judi. Saat masih kecil yang dipasang, ia menangkan pemain agar tertarik untuk menambah. Demikianlah seterusnya, akhirnya setelah pasangnya dengan nilai besar, maka bandar akan menyikat habis setiap apa yang dipasang oleh pemain dengan trik-trik kelicikannya. Akibatnya, si pemain merasa tertantang untuk mengalahkan bandar pada hari berikutnya. Namun, bandar akan selalu cerdik, karena dia yang mengaturnya sehingga pemain sering kali kalah dalam permainan. Akibat iseng-iseng dan coba-coba, akhirnya muncul ketertagihan. Oleh sebab itu, bagi yang belum terlibat dengan judi, jangan pernah coba-coba.

Kedua, kultur atau budaya. Ada sekelompok orang atau masyarakat yang sejak awal memang suka dengan permainan judi. Bahkan, ada yang tergambar dari kebiasaan-kebiasaan hidupnya. Acara dan kegiatan apa pun seringkali dijadikan sebagai media judi. Misalnya, saat ada pertandingan sepak bola. Ada sekelompok orang yang suka main “tumpangan” atas kesebelasan yang mereka dukung. Jika kesebelasan yang didukung menang, maka tumpangan itu diberikan kepada yang menang, sementara yang kalah harus menyerahkan uangnya untuk yang kesebelasannya menang.

Ketiga, lemahnya kontrol sosial.  Kontrol sosial, baik di rumah, di masyarakat, maupun di tempat lain memegang kendali yang cukup besar untuk mengerem perilaku manusia. Jika kontrol sosialnya sudah lemah, maka judi (online maupun off line) akan marak. Masyarakat kita masih belum semua memiliki kesadaran internal untuk menaati ajaran Allah, norma masyarakat, dan hukum negara. Masih banyak orang yang mau taat kepada hukum dan ajaran Allah kalau ada kontrol dari lingkungannya. Oleh sebab itu, kita perlu meningkatkan kontrol sosial terhadap perilaku hidup manusia di lingkungan sekitar kita. Masyarakat tidak boleh membiarkan perilaku maksiat itu tumbuh dan hidup di lingkungan sekitar kita.

Keempat, lemahnya penghayatan terhadap ajaran agama. Iman, ternyata mampu menjadi pengendali perilaku manusia secara internal. Jika seseorang memiliki keimanan yang tinggi, maka ia akan cenderung taat kepada Allah SWT. Sebaliknya, mereka yang berani melanggar ketentuan Allah SWT adalah mereka yang lemah imannya. Orang dengan iman kuat, mereka menyadari bahwa semua perbuatan yang dilarang Allah SWT wajib dijauhi, termasuk di dalamnya judi.

Kelima, kondisi psikologis yang terganggu/lemah. Tekanan hidup dan tuntutan perkembangan zaman yang semakin kuat dan kompleks tidak bisa disikapi dengan cara mudah. Perlu kematangan, ketabahan, kesabaran, kekuatan, dan kecukupan ilmu serta strategi untuk mengatasinya. Jika tidak sanggup, maka kondisi psikologis seseorang dapat terganggu. Misalnya, di masyarakat banyak orang yang dapat hidup sukses secara ekonomi dan pendidikan. Mereka yang ekonominya lemah dan ingin sejajar dengan orang lain, akhirnya memutuskan jalan hidup yang salah. Salah satunya melalui judi. Mereka ingin mendapatkan kesuksesan dengan cara-cara yang cepat (pragmatis), akibatnya apa pun jalan yang bisa ditempuh, maka mereka tempuh.

Keenam, terlalu mencintai dunia (hubbud dunya). Cinta dunia seringkali membuat manusia menjadi buta akan kebenaran. Yang tergambar dalam pikirannya hanyalah dunia, dunia, dan dunia. Sehingga, apa pun jalannya asalkan bisa mendapatkan uang (dunia), maka mereka akan lakukan. Mereka menjadi hambanya dunia, sehingga rela diperbudak oleh dunia. Bukan dunia yang diperbudak oleh mereka, tetapi merekalah yang diperbudak oleh dunia. Itulah sebabnya, sehingga dalam ajaran Islam Nabi SAW mengatakan bahwa “Cinta dunia merupakan sumber segala kemaksiatan”.

Ketujuh, lemahnya institusi negara (hukum). Apa pun alasannya,  dalam pandangan Pancasila judi merupakan perbuatan yang bertentangan dengan sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Mengapa? Sebab, judi merugikan salah satu pihak, sehingga tidak bisa menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Judi juga menurunkan semangat untuk bekerja keras. Karena itu, pelaku judi wajib mendapatkan sanksi hukum yang tegas dan nyata, terutama untuk bandar judi. Jika institusi negara (hukum) menyatakan dengan tegas tentang larangan berjudi disertai dengan penegakan hukum yang tegas dan nyata, maka meskipun tidak bisa hilang sama sekali, mudah-mudahan aktivitas judi dapat diberantas dan tidak lagi tumbuh subur seperti sekarang ini. Carikanlah solusi pekerjaan untuk mereka yang terlanjur bangkrut akibat judi, berikan hukuman yang tegas dan nyata bagi bandar judi, sebab karena ulah bandar-bandar inilah masyarakat pemain judi terus melakukan aktivitas judinya.

Demikian uraian ini, semoga bisa menjadi bahan bacaan untuk menghindari judi sebagai perbuatan syetan yang merugikan kehidupan manusia di dunia, apalagi di akhirat kelak.

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90