Mencegah Banjir Dengan Kolam Retensi, Efektifkah ??

  • Whatsapp
banner 768x98

Oleh : Sri M Awaliyah (Guru SD di Kabupaten Bandung)

Dibangun Presiden Joko Widodo (Jokowi) Rp 141 Miliar, kolam retensi yang berlokasi di Jawa Barat ini hadir untuk mengendalikan banjir, namun apakah efektif?.
Banjir yang terjadi di setiap musim penghujan terjadi di Bandung, Jawa Barat adalah permasalahan yang sejak dulu seolah tak ada habisnya. Genangan banjir sering kali timbul khususnya pada daerah padat industri seperti Baleendah dan Dayeuhkolot, Bandung, Jawa Barat. Sebagai upaya pemecahan masalah tersebut, Jokowi bersama Kementrian PUPR telah membuat kolam Retensi Andir untuk mengendalikan banjir di sana. Kolam retensi Andir dibangun dengan luas daerah tangkapan air seluas 149 hektare (ha) dengan dilengkapi pompa 3 unit berkapasitas masing-masing 500 liter/detik. Namun, apakah kolam retensi yang dibangun dengan biaya yang cukup besar ini efektif untuk mengatasi banjir? Diketahui, pada Januari 2024 lalu daerah Baleendah serta Dayeuhkolot masih saja tergenang banjir yang cukup parah, walaupun saat ini setelah seringkali hujan terjadi di Bandung, kedua daerah tersebut belum mendapatkan banjir yang parah seperti tahun-tahun sebelumnya. (www.ayobandung.com)

Mengapa Bandung kerap terjadi banjir? Ahli Hidrologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) M Pramono Hadi mengatakan bahwa karakteristik fisiografi Bandung yang berupa cekungan menjadi salah satu faktor utama penyebab banjir di kota itu. Disisi lain pemukiman di Bandung yang terus berkembang, tetapi tidak disertai dengan resapan air yang memadai.

Banjir berulang di perkotaan menunjukkan gagalnya tata kelola ruang yang dilakukan oleh pemerintah. Sudah semestinya pemerintah memilih dan memilah pengelolaan lahan, mana yang bisa dipakai untuk industri, perumahan, termasuk mana area yang diperuntukan sebagai daerah resapan. Namun dengan disahkannya UU cipta kerja jelas bahwa Pemerintah lebih mengedepankan kepentingan investasi, dan lebih berpihak pada penguasa-penguasa (oligarki). Kebijakan pro-oligarki ini sangat lumrah dalam sistem kapitalis ini. Kapitalisme berasas manfaat dan menghalalkan cara apa pun untuk menyejahterakan kepentingan pribadi, meskipun yang menjadi korban adalah rakyat kalangan menengah ke bawah.

Ini berbeda dengan manajemen tata wilayah dan lahan di dalam negara yang menerapkan Islam kaffah. Pada kasus banjir yang disebabkan karena keterbatasan daya tampung tanah terhadap curahan air, baik dari hujan, glester, rob dll., maka sistem Islam akan membangun bendungan-bendungan yang mampu menampung curahan air hujan, air sungai, dan yang lainnya. Salah satu contoh bendungan yang dibangun pada masa sistem Islam berjaya dan masih digunakan sampai saat ini adalah bendungan Mizan yang berada di Provinsi Khuzastan daerah Iran Selatan.

Sistem Islam juga akan memeratakan daerah-daerah rendah yang rawan terkena genangan air akibat dari rob ataupun kapasitas serapan yang mini dan selanjutnya melarang masyarakat membangun pemukiman di wilayah tersebut. Jika ada dana yang cukup, maka negara akan membuat kanal-kanal baru agar air yang mengalir di daerah tersebut bisa dialirkan alirannya. Penguasa dalam Islam bahkan memastikan bahwa pembangunan dan tata kelola kota benar-benar ditujukan untuk kemaslahatan umat. Sebagai muslim, sudah sepatutnya kita menjadikan bencana yang terjadi di sekitar kita sebagai alat untuk bermuhasabah diri.

Saat ini, banyak kerusakan yang terjadi akibat ulah tangan manusia, disebabkan sistem yang diterapkan bukanlah sistem yang datang dari Sang Pencipta, melainkan sistem buatan manusia. Sudah saatnya kita kembali pada sistem yang sahih, yang sesuai dengan fitrah manusia, sistem yang aturannya datang langsung dari Allah Swt, yaitu sistem Islam Kaffah.

Wallahu ‘alam Bishowwab.

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90