Kekeringan krisis Air Bersih

  • Whatsapp
banner 768x98

Oleh : Amanah Tya (Ibu Rumah Tangga)

Seiring masuknya musim kemarau, sekitar juni 2024, Indonesia juga dipredeksi Mengalami fenomena El Nino. Fenomena El Nino merupakan fenomena akubst pemanasan suhu muka laut (SMK) dikawasan samudra pasifik bagian tengah hingga timur. Hal ini meningkatkan potensi pertumbuhan awan samudra Pasifik Tengah dan mengurangi curah hujan di wilayah sekitarnya, termasuk Indonesia.

Kepala BMKG menyebut fenomena El Nino makin menguat dengan adanya Indian ocean dipole (IOD) yang menuju positif. IOD sendiri adalah perbedaan suhu permukaan laut antara wilayah timur dan barat samudra Hindia.

Hingga akhir juni, kekeringan sudah terjadi di sejumlah daerah. Di antara dampaknya adalah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Plt. Kepala pusat Data, Informasi, dan Komunikasi kebencanaan BNPB memaparkan, selama 2_3 bulan terakhir, terjadi 131 kali Karhutla. Di Kalimantan Selatan.

Kekeringan yang terus meluas berakibat puluhan ribu masyarakat mengalami kesulitan mendapat air bersih. BPBD provinsi DIY menyatakan 20 kecamatan di empat kabupaten di provinsi tersebut sudah berstatus siaga kekeringan meteorologis. Ribuan masyarakat disana sudah mengandalkan pemenuhan air bersihnya dari bantuan pemerintah.

Dengan demikian Jawa Barat tidak ketinggaln, mengalami krisis air bersih di berbagai kabupaten Bandung di pantura, hingga ke garut dan kabupaten lain nya.

Kekeringan ini pun berisiko pada ketahanan pangan. Kesulitan air untuk bertani menyebabkan sebagian daerah menunda masa tanam hingga masuknya musim hujan. Kementrian pertanian mengeluarkan peta risiko kekeringan yang mungkin terjadi selama musim kemarau.

Kekeringan akibat bencana hidro meteorologi memang bagian dari fenomena alam. Namun minimnya langkah antisipasi dan mitigasi menyebabkan makin parahnya akibat yang dirasakan masyarakat, khususnya krisis mendapatkan air bersih.

Sayangnya, belum terlihat langkah serius dan signifikan untuk mengatasi krisis air bersih ini. Terlihat dari terus berulangnya krisis, bahkan dengan intensitas yang lebih luas dan parah. Pemerintah lebih mengandalkan pada langkah kebijakan kuratif, seperti distribusi dan dropping air bersih pada daerah yang terkena kekeringan.

Hal ini pun sangat terbatas karena anggaran dan fasiltas yang terkadang tidak memadai. Ataupun pembangunan waduk, bendungan, dan yang semisal dengan target bisa menjadi penampung air pada musim hujan, padahal langkah-langkah tersebut terbukti tidak menyelesaikan masalah.

Indonesia merupakan negara terkaya ke-5 dalam ketersedian air tawar, yaitu mencapai 2,83 triliun meter kubik pertahun. Dari jumlah besar ini, kuantitas air yang dimanfaatkan baru sekitar satu pertamanya, yaitu 222,6 miliar meter kubik dari 691 miliar meter kubik per tahun.

Berbagai hasil penelitian menunjukan masifnya laju deforestasi bertanggung jawab terhadap ketidaksimbangan dan perubahan iklim yang pada akhirnya merusak keseimbangan siklus hidroligi.
Pada akhirnya ber konsekuensi pada krisis air bersih yang makin parah.

Begitu pula krisis air bersih yang dialami masyarakat di Bali, DKi jakarta, juga ketimpangan akaes.
Korporasi swasta yang mengelola perhotelan, gedung perkanroran, atau tempat wisata memperoleh keistimewaan akses terhadap air bersih di bandingkan masyarakat menengah ke bawah.

Oleh karenanya, tidak ada harapan akan berakhirnya krisis air bersih selama negara masih menggunakan konsep kapitalistik. Solusi hakiki yang bisa rakyat harapkan hanyalah solusi yang diturunkan oleh Allah SWT. Kepada Rasullah saw, yakni syariat islam.

Sebagai agama dan ideologi, islam memiliki konsep unggul dan paripurna di seluruh aspek kehidupan. Apalagi sejumlah kebijakan pemerintah selama ini hanyalah tindakan jangka pendek yang tidak benar-benar menyelesaikan masalah. Solusi yang diambil baru sebatas dropping air bersih k daerah yang kekeringan, yang juga sering terkendala bagi daerah yang lokasinya jauh.
Bahkan, embung ataupun bendungan yang pembangunannya di gencarkan, tidak bisa mengatasi kesulitan air yang dirasakan rakyat.

Penyelesai krisis air bersih ini hanya akan teratasi dengan konsep Islam yang tampak dalam kebijakan politik ekonominya.
Secara politik, Islam menegaskan bahwa negara harus hadir sebagai pengurus/penanggung jawab dan pelindung umat.

Rasulullah saw. bersabda,

“Imam/Khalifah itu laksana penggmbala dan hanya ialah yang bertanggung jawab terhadap gembala annya.
(HR Bukhari dan Muslim).

Di sisi lain, pemerintah Islam akan menerapkan sistem ekonomi islam secara kaffah termasuk dalam pengelolaan harta.
Islam menetapkan bahwa air termasuk harta milik publik sebagaimana halnya energi, hutan, laut, sungai, dan sebagainya.
Harta tersebut bisa dinikmati rakyat. Prinsip pengelolaan ini semata-mata untuk pelayanan bukan berbisnis sehingga negara tidak di perbolehkan menyerahkan nya pengelolaan apalagi kepemilikan kepada swasta yang akhirnya digunakan untuk kepentingan saja.

Dengan menggunakan paradima dan prinsip pengelolaan sumber daya air dan lingkungan sesuai Islam, di tambah peran politik negara yang sahih, sumber daya Air berlimpah yang dianugrahkan Allah akan ter manfaatkan secara optimal dan kebutuhan rakyat pun akan terpenuhi.

Wallahu’alam bishwab.

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90