Mustajabah Do’a Orang Tua

banner 768x98

Diriwayatkan Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ لَا شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ
“Tiga macam doa yang dikabulkan tanpa ada keraguan, yaitu: doa orang yang dizhalimi, doa orang yang sedang bepergian dan doa (baik) dari orang tua kepada anaknya [HR Ibnu Majah]

Doa ibu begitu dahsyat. Imam Bukhari pernah membuktikan kedahsyatan doa ibunya. Ayahnya yang bernama Isma’il wafat ketika bukhari masih kecil. Iapun diasuh oleh ibunya secara single parent. Bukhari kecil terkena penyakit mata yang menyebabkan kebutaan pada kedua matanya. Tiada dokter yang berhasil menyembuhkannya. Hal ini membuat ibunya gundah gulana dan terus berdoa memohon kepada Allah agar penglihatan anaknya dikembalikan hingga pada satu malam ia bermimpi melihat Khalilullah, Nabi Ibrahim AS. Ia berkata :
يَا هَذِهِ قَدْ رَدَّ اللهُ عَلىَ ابْنِكِ بَصَرَهُ بِكَثْرَةِ دُعَائِكِ
Wahai perempuan, Sungguh Allah telah mengembalikan penglihatan anakmu sebab bayaknya do’amu. [Hadyus Sariy]
Lantas di pagi hari itu ternyata benar, Bukhari kecil bisa melihat lagi dan semubh dari kebutaan berkat doa ibunya.

Doa ibu itu mustajabah sebagaimana disebutkan pada hadits utama : “Tiga macam doa yang dikabulkan tanpa ada keraguan, yaitu: doa orang yang dizhalimi, doa orang yang sedang bepergian dan doa (baik) dari orang tua kepada anaknya [HR Ibnu Majah] Meskipun dalam redaksi hadits disebutkan “Dua’ul Walid” (doanya bapak) namun hal ini juga mencakup “dua’ul Walidah” (doa’nya ibu) bahkan ulama Mufti Qatar berkata :
بَلْ هِيَ أَوْلَى مِنْهُ لِأَنَّ حَقَّهَا أَعْظَمُ
Bahkan doa ibu itu lebih mustajabah karena haknya ibu itu lebih besar (atas anaknya). [islamweb net]

Hak ibu yang lebih besar daripada ayah tergambar pada hadits dimana ada seorang lelaki (bernama Muawiyah bin Haydah) [Fathul Bari] bertanya:
يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي
“Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?”
Nabi menjawab: “Ummuka” (Ibumu). “Lalu siapa lagi?” Nabi menjawab: “Ummuka” (Ibumu).” “Lalu siapa lagi?” Nabi menjawab: “Ummuka” (Ibumu). “Lalu siapa lagi?” Nabi menjawab: “Abuka” (Ayahmu). [HR Bukhari]

Ibnu Batthal berkata :
مُقْتَضَاهُ أَنْ يَكوُنَ لِلْأُمِّ ثَلَاثَةُ أَمْثَالِ مَا لِلْأَبِ مِنَ الْبِرِّ
Hadits ini menunjukkan bahwa ibu itu memiliki hak untuk mendapat kebaktian anak yang lebih besar tiga kali lipat dari pada haknya ayah. [Fathul Bari]

Ibnu Batthal menjelaskan bahwa hal itu dikarenakan seorang ibu mengalami kesulitan ketika hamil, melahirkan dan menyusui. Lalu bapak dan ibu mendidik dan membesarkan bersama-sama. [Fathul Bari]

Inilah rupanya yang menjadi dasar dari lagu jadul berjudul ibu yang dipopulerkan oleh nasidah ria yang berbunyi : “Ibu… Ibu kaulah wanita yang mulia. Derajatmu tiga tingkat di banding ayah. Kau mengandung melahirkan menyusui. Mengasuh dan merawat Lalu membesarkan putra-putrimu Ibu…”. [smule com]

Hal ini juga diperkuat dengan adanya hadits yang mengisahkan Jahimah As-Sulami yang bertanya : “Wahai Rasulullah, aku ingin ikut jihad dan aku datang untuk memohon nasihatmu.” Rasul SAW lalu bertanya: “Kamu masih punya ibu?” Jahimah menjawab: “Ya, masih.” Lalu Rasul SAW bersabda:
فَالْزَمْهَا فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا
“Berbaktilah kepada ibumu, karena sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua kakinya”.” [HR An-Nasa’i]
Suatu ketika ada ada seorang lelaki datang kepada
Ibnu ‘Abbas RA. Ia berkata : “aku melamar seorang wanita, namun ia enggan menikah denganku. Lalu ada orang lain yang melamarnya, lalu si wanita itu menerimanya. Akupun cemburu lalu aku bunuh wanita itu. Apakah aku masih bisa bertaubat?” Ibnu Abbas menjawab: “Apakah ibumu masih hidup?” Lelaki tadi menjawab: “Tidak, sudah meninggal.” Lalu Ibnu Abbas mengatakan: “Kalau begitu bertobatlah kepada Allah dan dekatkanlah diri kepada-Nya sedekat-dekatnya.” Perawi (Atha’) bertanya kepada Ibnu Abbas: “Kenapa Anda bertanya kepada lelaki itu tentang ibunya masih hidup atau tidak?” Ibnu Abbas RA menjawab:
إِنِّي لَا أَعْلَمُ عَمَلاً أَقْرَبَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ بِرِّ الْوَالِدَةِ
“Aku tidak tahu amalan yang paling bisa mendekatkan diri kepada Allah daripada berbakti kepada ibu.” [HR Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad]

Tidak hanya doa baik dari ibu yang akan mustajabah, namun doa jelekpun demikian. Hal ini sesuai dengan hadits yang serupa dengan hadits utama namun dalam riwayat ini disebutkan dengan redaksi “Ala” :
دُعَاءُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ
doa (jelek) dari orang tua kepada anaknya. [HR Baihaqi]

Hal ini sebagaimana terjadi menimpa Juraij, seorang laki-laki Bani Isra’il, yang dipanggil oleh ibunya ketika sedang melaksanakan shalat (sunnah) di mihrabnya namun ia enggan menjawab panggilan ibunya. Dua kali ibunya datang memanggil “Wahai juraij, aku adalah ibumu, jawablah!” namun ia tetap tidak menjawabnya dan memilih untuk meneruskan shalatnya. Akhirnya ibunya kesal seraya berkata : “Ya Allah, dia adalah Juraij anakku. Aku telah berbicara dengannya namun ia enggan menjawabku”. Lalu iapun berdoa jelek untuk anaknya :
اللَّهُمَّ فَلَا تُمِتْهُ حَتَّى تُرِيَهُ الْمُومِسَاتِ
Ya Allah, janganlah Engkau matikan dia kecuali setelah engkau tampakkan (musibah) pelacur kepadanya”. [HR Ahmad]

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk terus berbakti kepada kedua orang tua khususnya ibu hingga mendapatkan doa kebaikan dan ridlo mereka.

Penulis:
Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90