BPS Jabar: “Jangan Sampai Panen Raya Berbarengan Dengan Impor Beras Merugikan Petani”

Kepala BPS Jabar saat berinteraktif bersama Kepala Diskominfo Jabar (1/3/2024)
banner 768x98

Pewarta: Dwi Arifin

(Koran SINAR PAGI)-, Badan Pusat Statistik Jawa Barat secara berkala menghitung perkembangan indeks harga konsumen, nilai tukar petani, harga gabah, dan beras. Selain itu juga tentang pariwisata, transportasi, ekspor impor, luas panen dan produksi padi.

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat Marsudijono S.Si, M.M menjelaskan selama tahun 2023 luas panen dan produksi beras di Jawa Barat turun, jika dibandingkan dengan tahun 2022. Di antara sebabnya dampak dari El Nino yang menyebabkan musim kemarau menjadi lebih panjang.

Menurutnya pada tahun 2022 ada 1.662, 40 ribu hektar, sedangkan tahun 2023 menjadi 1.583, 66 ribu hektar. Sehingga ada penuruan sekitar 78,75 hektar atau -4,74%. Kalau untuk produksi padi tahun 2022 mencapai 9.433,72 ribu ton, pada tahun 2023, hanya 9.140,04 ribu ton, ada penurunan sekitar -3,11% atau -293, 68 ribu ton GKG.

Selain itu di tahun 2024 Provinsi Jawa Barat diperkirakan akan mengalami pergeseran puncak panen padi. Dikarenakan mundurnya masa tanam padi akibat kemarau berkepanjangan.

“Angka sementara luas panen dan produksi pada periode januari – april tahun ini sekitar 1.319,73 ribu ton beras mengalami penurunan -33,73 %, jika dibandingkan tahun sebelumnya,”ungkapnya

Marsudijono S.Si, M.M menyatakan penurunan produksi beras membuat harga dipasaran mengalami kenaikan hingga mencapai 17.200 / kg. Namun jangan sampai saat panen raya justru menurun dratis, karena berbarengan dengan waktu pendistribusian beras impor ke daerah.

“Kalau nanti impor beras berbarengan dengan puncak panen raya di bulan april, jangan sampai merugikan petani. Makanya Presiden mengintruksikan berbagai pihak agar memperhatikan tentang itu,”ucapnya saat wawancara bersama media cetak dan online setelah menyampaikan berbagai data statistik di kantornya.

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90