Gibran Fenomena Demokrasi

0
251

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Dewan Pembina PGRI)

Proses politik dan dinamika demokrasi di Indonesia selalu menarik, hangat bahkan memanas. Masyarakat kelas elite sampai kelas alite selalu menjadi bagian dari hangatnya proses dinamika politik.

Dahoeloe masyarakat alite, wong cilik banyak yang ngumpul, asyik diskusi terkait Lotre, Nalo atau jenis judi lainnya. Masih ingat zaman Porkas? Masyarakat begitu terlibat.

Kini fenomena itu ngumpul di warung kopi masih terjadi, temanya lebih ke politik. Ya, dinamika politik, tahun politik menjadi bagian dari “hiburan” demokrasi.

Bila sebelumnya kehadiran sosok fenomenal Jokowi dalam kancah politik, mulai Pilgub DKI sampai Pilpres, sangat-sangat memanas dan menghangat. Bahkan sampai saat ini.

Bukankah tema ijazah palsu, people power dan memakhjulkan Jokowi masih terus menggelinding ? Itulah diantara sisi dinamika politik dari fenomenologi kehadiran seorang tokoh yang tak terduga.

Kini kehadiran Gibran Rakabuming Raka, lebih “membuming” dibanding tokoh lainnya. Mengapa? Karena sejumlah sudut pandang publik baik elite atau pun alite menerpa pada dirinya.

Dunia netizen, dunia nyata banyak yang fokus pada munculnya Gibran. Tentu saja ada yang berkomentar positif, ada pula yang negatif.

Komentar positif mendukung Gibran maju sebagai wapres mewakili generasi muda dan Jokowi mania. Komentar negatif menolak karena “anak ingusan”, politik dinasti, nepotisme dan belum saatnya.

Kehadiran Gibran dalam Pilpres tahun ini menjadi fenomenologi. Agak mirip dengan fenomenologi kehadiran Jokowi yang sama – sama tidak dikehendaki oleh sejumlah elite politik. Jokowi adalah “wong cilik” jadi raja.

Kini Gibran adalah “wong ingusan” yang jadi calon wakil raja. Betapa “disruptifnya” kehadiran Gibran yang telah “menenggelamkan” sejumlah tokoh nasional dan senior yang sebelumnya digadang – gadang di posisi Wapres.

Prabowo cerdik, Ia memilih Gibran untuk memenangkan Pilpres 2024. Bisa jadi fenomenologi Jokowi terjadi pula pada fenomena Gibran. Gibran adalah Jokowi dalam versi moderen. Sejarah akan mencatat.