Jumat, Maret 6, 2026

Penanaman Nilai – Nilai Melalui Peneladanan Biografi Pahlawan

Penulis : Eha Julaeha, Dra, MPd
(Motivator, Instruktur Nasional, Narasumber Nasional, Fasilitator Nasional, Koordinator TPK Prov. Jabar, Kepala SMAN 16 Bandung)

Kegelisahan orangtua dan guru dewasa ini dirasakan sangat berat akibat adanya penyimpangan perilaku siswa dan pergeseran nilai-nilai, serta norma-norma yang mereka anut baik dalam bergaul maupun dalam mengaktualisasikan dirinya pada lingkungan dimana mereka berada, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, maupun sekolah.

Hal ini terlihat dari cara mereka berkomunikasi, menampilkan diri, maupun sikap lainnya yang cenderung mengarah pada sisi negatif, seperti rasa iri ketika melihat temannya lebih baik; kurang mendorong pada arah kemajuan pendidikannya, seperti tidak disiplin, mencontek, budaya konsumtif, hedonisme; daya juang yang kurang, kurang peduli terhadap lingkungan, cepat marah, mudah tersinggung yang akhirnya memicu perkelahian; kurang menghargai budaya sendiri dan lebih menyukai budaya barat, dan yang lebih mencengangkan lagi adalah adanya pergaulan bebas yang dilakukan oleh siswa karena mengikuti pola kehidupan barat dan mengikuti seorang public figure yang dijadikan sebagai idola.

Dari fenomena di atas maka diasumsikan bahwa masyarakat, khususnya remaja (siswa), kemungkinan besar memandang bahwa tidak ada yang patut menjadi contoh keteladanan bagi pengembangan dan pembentukan karakter mereka. Rasa jenuh dan kecewa terhadap realita yang ada serta proses pencarian jati diri, diaktualisasikan pada kegiatan-kegiatan yang mereka contoh dari perilaku dan hal-hal yang kurang baik.

Perilaku para idola yang mereka ikuti tentu saja tidak sepenuhnya benar karena gaya hidup yang berbeda, lingkungan yang berbeda bahkan jauh dari nilai-nilai keteladanan yang patut ditiru oleh para penerus bangsa.

Disinilah peran seorang pendidik dituntut untuk peduli dan peka terhadap perkembangan karakter para penerus estafet kepemimpinan bangsa di masa depan. Ryan & Thomas Likcona dalam Megawangi (2004: 2) mengemukakan bahwa, Societies, of course, must do more than merely survive. They must also grow in their understanding of what it means to be a human community, in the range of opportunities they offer each member for full human development, and their capacity to handle the new ethical problems wrought by technology and other sosial changes. In addition, they must learn to functional part of increasingly complex world community, where global peace and justice demand ever increasing levels of cooperation. But whether the task is survival or development, any society ultimately depends for its success on character of its citizens.

Seluruh masyarakat, tentu saja, harus melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar bertahan hidup. Mereka juga harus tumbuh dan memahami makna menjadi sebuah komunitas, dalam memberikan kesempatan kepada setiap anggotanya untuk tumbuh secara utuh dan dalam kapasitasnya untuk menangani problema etika yang timbul dari perubahan teknologi maupun perubahan sosial lainnya.

Lagi pula mereka harus belajar untuk mengambil bagian dari kumunitas dunia yang kompleks, dimana untuk terwujudnya perdamamian dunia dan kebutuhan akan keadilan membutuhkan suatu hubungan kerjasama yang kuat. Meskipun demikian, apakah bertugas untuk bertahan atau tumbuh kembang, setiap masyarakat, mau tidak mau bergantung terhadap keberhasilan dalam membentuk kualitas karakter masyarakat negara tersebut.

Pendidikan karakter lebih efektif ditularkan kepada siswa dengan keteladanan, karena dengan demikian siswa melakukan sesuatu disebabkan oleh kesadarannya sendiri. Pada dasarnya karakter dapat diubah, dibentuk, dan dikembangkan seperti halnya keterampilan. Karena itu, menjadi suatu hal yang realistik untuk mengembangkan karakter generasi muda, terutama dengan nilai-nilai yang juga digunakan oleh tokoh-tokoh sejarah. Pembangunan dan pembentukan karakter harus ditularkan kepada siswa dengan keteladanan yang merupakan perilaku paling riil di masyarakat.

Nilai-nilai dan kebajikan yang dimiliki oleh para tokoh sejarah ataupun para pahlawan sangat baik untuk ditanamkan pada generasi penerus bangsa. Peneladanan melalui biografi pahlawan akan menjadikan suatu strategi yang tepat bagi pembentukan karakter bangsa terhadap para siswa di sekolah. Karena saat ini para generasi bangsa banyak mengidolakan orang-orang yang dirasa akan mengganggu pembentukan karakter mereka dan sangat disayangkan banyak para pemimpin kita yang kurang sadar bahwa penampilan mereka memberikan contoh keteladanan yang kurang baik dengan perilaku yang ditampilkannya. Maka salah satu solusi yang terbaik adalah dengan mengintegrasikan nilai-nilai yang dimiliki oleh para pahlawan kita melalui biografi mereka pada seluruh mata pelajaran di sekolah.

Strategi peneladanan biografi pahlawan merupakan salah satu strategi yang belum biasa diterapkan sebelumnya dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Mulai dari konsep umum strategi yang dimaksud, sampai dengan tahapan-tahapan dalam pembelajaran yang telah disusun dalam sebuah rancangan pembelajaran.

Hal tersebut didukung oleh teori imitasi yang dikemukakan oleh Tarde bahwa bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk melakukan peniruan. Tarde beranggapan bahwa seluruh kehidupan sosial sebenarnya berdasarkan faktor imitasi. Walaupun pendapat ini ternyata berat sebelah, peranan imitasi dalam interaksi sosial itu tidak kecil. Misalnya bagaimana seorang anak belajar berbicara. Mula-mula ia mengimitasi dirinya sendiri kemudian ia mengimitasi kata-kata orang lain. Ia mengartikan kata-kata juga karena mendengarnya dan mengimitasi penggunaannya dari orang lain.

Lebih jauh, tidak hanya berbicara yang merupakan alat komunikasi yang terpenting, tetapi juga cara-cara lainnya untuk menyatakan dirinya dipelajarinya melalui proses imitasi. Misalnya, tingkah laku tertentu, cara memberikan hormat, cara menyatakan terima kasih, cara-cara memberikan isyarat tanpa bicara, dan lain-lain.

Selain itu, pada lapangan pendidikan dan perkembangan kepribadian individu, imitasi mempunyai peranannya, sebab mengikuti suatu contoh yang baik itu dapat merangsang perkembangan watak seseorang. Imitasi dapat mendorong individu atau kelompok untuk melaksanakan perbuatan-perbuatan yang baik.

Peranan imitasi dalam interaksi sosial juga mempunyai segi-segi yang negatif, yaitu, apabila hal-hal yang diimitasi itu mungkinlah salah atau secara moral dan yuridis harus ditolak. Apabila contoh demikian diimitasi orang banyak, proses imitasi itu dapat menimbulkan terjadinya kesalahan kolektif yang meliputi jumlah serba besar. Maka dari pada itu, untuk menghindari peniruan yang berdampak pada pembentukan karakter buruk siswa diperlukan penyajian atau diberikan contoh-contoh yang baik yaitu melalui proses pembelajaran biografi pahlawan yang akan menjadi role model mereka.

Hal senada diungkapkan oleh Bandura bahwa proses mengamati dan meniru perilaku dan sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku dan pengaruh lingkungan. Kondisi lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh pada pola belajar social jenis ini. Contohnya, seseorang yang hidupnya dan dibesarkan di dalam lingkungan judi, maka dia cenderung untuk memilih bermain judi, atau sebaliknya menganggap bahwa judi itu adalah tidak baik.

Menurut Bandura, sebagian besar tingkah laku manusia dipelajari melalui peniruan maupun penyajian, contoh tingkah laku (modeling). Dalam hal ini proses pembentukan karakter peserta didik diarahkan pada hal-hal yang positif melalui pemaparan tokoh-tokoh pahlawan sebagai role model melalui biografi pahlawan yang disajikan dan dipahami oleh para siswa. Kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air.

Pengembangan nilai-nilai etika inti menyiratkan keyakinan tentang apa saja sifat-sifat karakter dan bagaimana caranya menjadi pribadi yang benar dan baik secara moral. Etika adalah aturan dasar yang digunakan untuk memperoleh seluruh nilai-nilai yang lain. Seluruh keyakinan tentang apa yang benar dan salah adalah nilai-nilai etika. Nilai etika inti bersifat universal dan objektif. Nilai-nilai yang menyediakan standar-standar karakter baik dan etika eksternal dan bersifat sepanjang masa.

Nilai-nilai etika inti menurut Lickona adalah nilai-nilai yang menjunjung tinggi hak azasi manusia dan memperkokoh martabat manusia. (1) Nilai-nilai yang berlaku berlaku secara universal di seluruh dunia. Nilai-nilai inti menyuguhkan tanggung jawab sipil dalam alam demokrasi demikian juga dipahami oleh pribadi-pribadi rasional dalam kebudayaan yang berbeda. Nilai-nilai moral itu mencakup kejujuran dan tanggungjawab yang menjadi kewajiban dalam bertindak sekalipun hal itu tidak kita inginkan.

(2) Secara universal nilai-nilai etika inti meliputi: kesalehan (piety), keterpercayaan (trustworthiness), hormat (respect), tanggung jawab (responsibility), keadilan (fairness), kepedulian (caring), dan kewarganegaraan (citizenship).

Kesalehan berarti percaya kepada Tuhan dan memiliki komitmen untuk melaksanakannya, yakni ibadah kepada Tuhan, menghormati sesama manusia, dan melestarikan dan menjaga lingkungan sebagai habitat hidup. Keterpercayaan berarti menjadi percaya pada dan atau percaya dalam. Keterpercayaan meliputi sifat-sifat seperti integritas, keteguhan hati, kejujuran, kebenaran, ketulusan hati, terus terang, andal, menepati janji, dan loyalitas.

(3) Percaya adalah esensi bagi hubungan yang bermakna, abadi dan menghargai pertemanan, dan perkumpulan (asosiasi) sukses di perguruan tinggi, dalam aktivitas ekstra-kurikuler dan tempat kerja. Hormat memiliki makna yang setara dengan menghargai semua orang, menghargai martabat, privasi, dan kebebasan orang lain, santun, dan toleran atas perbedaan

(4) Esensi hormat adalah menunjukkan kesungguhan dalam menghargai seseorang dan diri sendiri. Memperlakukan orang dengan hormat berarti menghargai keamanan dan kebahagiaan seseorang. Hormat bekerja sesuai dengan kaidah-kaidah luhur (the golden rule), memperlakukan orang lain sebagaimana memperlakukan diri sendiri. Tanggung jawab berarti menjadi pribadi yang terhormat, melakukan tugas secara bertanggung jawab, menjadi pribadi yang bertanggung jawab, melakukan tanggung jawab terbaik demi keunggulan, dan berlatih mengendalikan diri.

(5) Tanggung jawab berarti kesadaran untuk melaksanakan hak dan kewajiban secara seimbang, mengetahui apa yang dilakukan (dan yang tidak dilakukan), dan akibat-akibat yang ditimbulkannya. Tanggung jawab secara literer berarti kemampuan menanggapi. Tanggung jawab dimaknai tugas atau kewajiban positif kita. Tanggung jawab memanggil kita untuk memenuhi komitmen, campur tangan ketika diperlukan untuk menegakkan apa yang benar, dan membenahi apa yang salah. Tanggung jawab menggambarkan tentang keandalan atau keterpercayaan, kemampuan untuk melakukan tugas-tugas dan memenuhi kewajiban baik di rumah, di tempat kerja, dan di lingkungan masyarakat atau komunitas.

Seseorang dapat dinilai bertanggung jawab jika ia dapat melakukan pekerjaannya bagi kelompoknya. Terdapat tiga kategori tanggung jawab, yakni tanggung jawab yang berpusat pada norma atau tanggung jawab kolektif (bertindak sesuai dengan nilai-nilai kelompok tertentu), tanggung jawab empatik atau tanggung jawab personal (digerakkan oleh penderitaan lain), dan tanggung jawab prinsipal atau tanggung jawab sosial (komitmen terhadap etika universal).

(6) Adil berarti bersifat atau bersikap tidak memihak dan konsisten terhadap orang lain, bersedia mendengar dan terbuka terhadap pandangan yang berbeda, dan mengikuti prosedur yang adil terhadap orang lain dalam situasi yang ada.

(7) Kepedulian adalah esensi dari nilai etika. Peduli terhadap nilai, terhadap cinta, kehormatan, memiliki penghargaan tinggi dan berperhatian terhadap makhluk lain, komunitas, kota, negara, dan dunia. Kepedulian, dan kebajikan rasa kasih, berjasa, berbuat baik, mementingkan orang lain, kedermawanan, murah hati, dan kebersamaan adalah esensi etika.

(8) Kewarganegaraan, dalam hal ini kewarganegaraan yang baik, berarti memiliki rasa hormat terhadap hukum dan adat istiadat suatu negara, menghargai bendera dan segala simbol, melakukan gotong-royong membantu komunitas, bermain sesuai aturan masyarakat, dan menghargai figur penguasa dan representasinya.

(9) Kewarganegaraan dimaknai sebagai tugas, hak, perilaku dan tanggung jawab warga negara. Tidak satu pun dari nilai-nilai inti itu dapat diajarkan secara terpisah, hanya dalam suatu kombinasi dan penyatuan ke seluruh mata pelajaran yang diajarkan melalui peneladanan dapat memberi hasil positif.

Related Articles

Media Sosial

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine

Berita Terbaru