Pewarta : Ok
Koran SINAR PAGI, Kab. Tulungagung,- Candi Boyolangu atau dikenal pula oleh masyarakat disekitarnya dengan nama Candi Gayatri adalah sebuah candi yang berada di tengah pemukiman penduduk di wilayah Dusun Boyolangu, Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, provinsi Jawa Timur, Indonesia. Untuk memasuki percandian ini, harus melalui sebuah lorong selebar 2,5 m yang dibatasi tembok setinggi 75 cm dengan panjang sekitar 50 m. Candi ini pernah disebutkan dalam Oudheidkundige verslag tahun 1917,serta N.J.Krom dalam bukunya Inleiding tot De Hindoe-Javaansche Kunst yang menyebutnya sebagai Punden Gilang,dan juga menurut Agus Aris Munandar (1955) candi ini merupakan candi yang digunakan sebagai bangunan resi karena bentuk arsitekturnya yang sederhana dan letaknya terpencil, sementara itu Hariani Santiko(1999) menyebut Candi ini sebagai candi yang memiliki arsitektur Candi Naga.
Candi ini ditemukan kembali pada tahun 1914 dalam timbunan tanah. Candi berbahan bata ini berdenah segi empat dengan tangga masuk di bagian barat. Candi ini berukuran 11,40 m x 11,40 m, dan ukuran penampil/ tangga masuknya adalah 2,68 m x 2,08 m. Candi Boyolangu merupakan kompleks percandian yang terdiri dari tiga bangunan perwara yakni candi induk dan dua candi perwara yang masing-masing berada di kiri-kanannya (utara dan selatan). Masing-masing bangunan menghadap ke barat. Bangunan pertama disebut dengan bangunan induk perwara yang terletak ditengah bangunan lainnya, karena bangunan ini berukuran lebih besar dibanding dengan bangunan kedua dan bangunan lainnya. Dua candi perwara kini hanya tersisa reruntuhanya, berderet ke utara. Di dinding kakinya candi perwara terdapat hiasan motif ragam hias tapak dara. Sementara itu, candi perwara diselatan hanya tersisa kakinya, berdenah persegi.
Candi tampak berpusat pada tokoh utama berupa arca wanita berukuran besar yang diletakkan pada candi induk. Arca terebut berukuran tinggi 120 cm dengan lebar 168 cm dan tebal 140 cm. Saat ini arca tersebut ditempatkan di bawah naungan sebuah cungkup tanpa dinding. Tokoh wanita tersebut adalah Gayatri atau seorang pendeta wanita Budha masa kerajaan Majapahit yang bergelar Rajapadmi. Tokoh tersebut adalah isteri ke empat Raja Wijaya pendiri kerajaan Majapahit. Bentuk arca menggambarkan perwujudan Dhyani budha Wairocana dengan duduk diatas padmasanan (singgasana) berhias daun teratai. Sikap tangan arca adalah Dharmacakramudra (mengajar). Badan arca dan padmasana tertatah halus dengan gaya Majapahit.
Candi ini dahulu berfungsi sebagai tempat penyimpanan abu Jenasah Gayatri dan sekaligus tempat pemujaan agama Budha. Pada masa Indonesia kuno, candi dikenal sebagai tempat pemujaan, temapat raja/penguasa yang telah meninggal dimanifestasikan sebagai arca perwujudan yang sekaligus dijadikan sarana pemujaan masyarakat pendukungnya. Artinya tempat tersebut selain berfungsi sebagai tempat pemujaan juga sebagai tempat penyimpanan abu jenazah raja/penguasa. Fungsi candi persinggahan itu cukup menonjol mengingat berbagai sumber menyebutkan peran Candi Boyolangu sebagai tempat keramat yang di sekar para pembesar Majapahit setiap bulan Badrapada.
Dengan literasi yang tersebut diatas, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten melalui Sekretaris Dinas Aris menerangkan bahwa, Candi Gayatri Sendiri merukapan Ibu dari Kerajaan Majapahit dan cikal bakal dari NKRI. Candi Gayatri sendiri tidak terlepas dari Candi Sanggrahan yang mana pada jamanya abu dari Ibu Gayatri di bawa menuju Candi Sanggrahan untuk peristirahatan terakhir. Kedepan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan akan mengadakan event tahunan yang di lakukan untuk di jadikan kalender wisata, seperti jamasan kyai upas, yang menjadi agenda resmi tahunan Kabupaten Tulungagung. Ini juga akan menjadi wisata sejarah yang dapat di kunjungi wisatawan selain wisata pantai.




