Mode Cantik Versi Islami

  • Whatsapp
banner 768x98

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr RA, Nabi SAW bersabda :
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
“Dunia ini adalah perhiasan. Dan perhiasan dunia yang paling baik adalah wanita shalihah.” [HR Muslim]

Fitrah setiap pria adalah menyukai wanita. Allah SWT berfirman :
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita… [QS Ali Imran : 14]
Semua pria normal akan menyukai wanita tak terkecuali Rasul SAW. Rasul SAW bersabda :
إِنَّمَا حُبِّبَ إِلِيَّ مِنْ دُنْيَاكُمُ النِّسَاءُ وَالطِّيبُ وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ
“Dijadikan kecintaan pada diriku dari dunia kalian ; wanita-wanita dan wewangian serta dijadikannya penyejuk hatiku dalam shalat” [HR Baihaqi]
Wanita, parfum dan shalat. Dari tiga perkara itu, dua yang pertama adalah berlaku untuk kebanyakan manusia namun tidak untuk yang ketiga. Secara fitrah lelaki akan lebih tertarik kepada wanita yang cantik. Hal ini sebagaimana Rasul menjelaskan kecondongan manusia dalam menikah. Beliau bersabda :
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا
Wanita itu (biasanya terpilih untuk) dinikahi karena empat hal yaitu karena hartanya, nasabnya, kecantikannya dan karena agamanya. [HR Bukhari]

Istri yang cantik akan berpotensi lebih besar untuk menjadikan suami senang ketika memandangnya. Dan ini merupakan salah satu unsur yang menjadikan istri sebagai wanita shalihah yang disabdakan oleh Nabi SAW pada hadits utama di atas : “Dunia ini adalah perhiasan. Dan perhiasan dunia yang paling baik adalah wanita shalihah.” [HR Muslim]
As-sindy berkata :
قَوْلُهُ مَتَاعٌ أَيْ مَحَلٌّ لِلْاِسْتِمْتَاعِ
Sabda Nabi “perhiasan” dalam hadits itu maksudnya adalah tempat untuk bersenang-senang. [Hasyiyah As-Sindy]
Al-Qurtubi berkata : Wanita shalihah dalam hadits tersebut dijelaskan dalam sabda Nabi yang lain yaitu :
اَلَّتِي إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ، وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ، وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ
Wanita yang tatkala suami memandangnya maka ia membahagiakannya, jika suami memerintahnya maka ia mentaatinya, dan ketika suami pergi maka ia bisa menjaga diri sendiri dan harta saumi. [Tathriz Riyadis Shalihin]
Rasul SAW sendiri memuji sang istri, sayyidah Aisyah yang berkulit putih dengan memanggilnya “Humaira”. Diriwayatkan bahwa suatu ketika orang-orang Habasyah masuk masjid dan menunjukkan atraksi permainan di dalam masjid, lalu Rasulullah SAW berkata kepada Aisyah :
يَا حُمَيْرَاءُ أَتُحِبِّيْنَ أَنْ تَنْظُرِي إِلَيْهِمْ
“Wahai Humaira, apakah engkau mau melihat mereka?”
Lalu Aisyah menjawab, “Iya.” Maka Nabi SAW berdiri di depan pintu, lalu aku datang dan aku letakkan daguku pada pundak Rasulullah SAW dan aku tempelkan wajahku pada pipi beliau.” [HR An-Nasa’i]

Ibnu Mandzur berkata :
كاَنَ يَقُولُ لَهَا أَحْيَاناً تَصْغِيْرُ الْحَمْرَاءِ يُرِيْدُ الْبَيْضَاءَ
Rasulullah terkadang memanggil Aisyah dengan sebutan “Humaira” yang merupakan bentuk tasghir dari kata “Al-Hamra” (merah) yang dimaksud beliau adalah wanita yang berkulit putih. [Lisanul Arab]

Mengapa Humaira (merah) bermakna putih? Al-Asqalany menyebutkan :
وَالْعَرَبُ تُطْلِقُ عَلَى الْأَبْيَضِ الْأَحْمَرَ كَرَاهَةَ اسْمِ الْبَيَاضِ لِكَوْنِهِ يُشْبِهُ الْبَرَصَ ، وَلِهَذَا كَانَ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ لِعَائِشَةَ يَا حُمَيْرَاءُ
Orang Arab menyebut (kulit yang) putih dengan kata “Ahmar” (merah) karena mereka tidak menyukai sebutan putih sebab putih itu serupa dengan putihnya barash (penyakit belang). Maka dari itu Rasul memanggil Aisyah dengan “Ya Humaira”. [Fathul Bari]

Dengan demikian, jika istri memakai make up dan skincare supaya tampil cantik di hadapan suami sehingga suami senang saat memandangnya, bukan untuk pamer kecantikan atau kesombongan maka hal itu adalah perbuatan terpuji. Istri yang shalihah akan menjaga penampilannya untuk suami agar tetap terlihat cantik dan menarik. Umamah Bintul Harits berpesan kepada putrinya ketika menikah :
يَا بُنَيَّةُ … فَلَا تَقَعْ عَيْنَاهُ مِنْكِ عَلَى قَبِيْحٍ ، وَلَا يَشُمَّ أَنْفُهُ مِنْكِ إِلَّا أَطْيَبَ الرِّيْحِ
Wahai putriku, jangan sampai padangan suamimu melihat sesuatu yang jelek darimu, dan jangan pula hidungnya mencium darimu melainkan bau yang wangi. [Jamharatul Amtsal]

Dan sebaliknya, suami juga harus berpenampilan baik. Ibnu Abbas RA berkata :
أُحِبُّ أَنْ أَتَزَيَّنَ لِلْمَرْأَةِ كَمَا أَحَبَّ أَنْ تَتَزَيَّنَ لِي
Aku senang berhias untuk istriku sebagaimana aku senang istriku berhias untukku. [Tafsir At-Thabari]

Kalau dalam hadits utama disabdakan “perhiasan dunia yang paling baik adalah wanita shalihah” maka ingat Rasul SAW juga bersabda :
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا اَلزَّوْجُ الصَّالِحُ
Dunia dalah perhiasan dan perhiasan terbaiknya adalah suami yang shalih. [HR Thabrani]

Dan yang tak boleh terlewatkan, mempercantik wajah jangan sampai melupakan mempercantik akhlak, bahkan hal itu yang lebih penting sehingga Nabi menambahkan “jika suami memerintahnya maka ia mentaatinya”. Dan Nabi SAW mengajarkan doa :
اللَّهُمَّ كَمَا حَسَّنْتَ خَلْقِي فَحَسِّنْ خُلُقِي
Ya Allah, sebagaimana Engkau baguskan fisikku, maka baguskanlah akhlakku.” [Al-Adzkar lin Nawawi]

Wahai para istri, tampillah di hadapan suami dengan mode cantik maksimal. Jangan lupa, jika bibir pakai lipstik maka hiasi pula bibir dengan kata kata lembut. Jika pipi sudah pakai blush on maka hiasi pula pipi dengan lesung pipi seyum. Jika mata dihiasi dengan celak maka jadikan mata dengan pandangan cinta dan memuliakan. Jika jari jemari sudah dihiasi hena maka hiasi pula jari itu dengan sentuhan lembut.

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk menghargai rizki dari Allah termasuk makanan yang kita makan sehari-hari yang sering terlupakan.

Penulis: Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90