Solusi Permasalahan Stunting Hanya Dengan Islam

  • Whatsapp
banner 768x98

Oleh : Neng Tintin (Ibu Rumah Tangga)

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menilai, untuk mewujudkan mimpi Indonesia menjadi negara adidaya pada 2045, perlu ditunjang dengan penduduk yang berkualitas. Menurunkan kasus tengkes (stunting) harus dituntaskan dengan inovasi dan kolaborasi semua pihak.

Ridwan Kamil mengatakan, melalui program Jabar Zero New Stunting secara bertahap dari 2018, Premprov Jabar menurunkan angka prevalensi stunting secara signifikan dari 31,5 persen hingga 2022 menjadi 20,2 persen. Prevalensi tersebut berada di bawah angka nasional sebesar 21,6 persen.

“Ditargetkan jumlah balita tengkes pada 2024 tersisa 14 persen sesuai dengan target nasional”, ujar Ridwan Kamil yang sering disapa Emil saat bersilaturahmi dengan 2.000 petugas lini lapangan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) se – Jawa Barat, di gor Saparua Kota Bandung.
Kepada kepala perwakilan BKKBN Jabar yang baru, Ridwan Kamil berpesan agar mempertahankan prestasi dan membuat sebuah inovasi, salah satunya dalam menekan kasus stunting.

“Kepada Kepala BKKBN terbaru, (Fajar Supriyadi Sentosa) agar mempertahankan prestasi dan membuat inovasi. Masukan dari saya, inovasi dari Pemkab Sumedang dalam penanganan stunting bisa diterapkan diseluruh wilayah Jabar”, Katanya.
Percepatan penurunan kasus stunting menjadi atensi khusus dimasa kepemimpinan Gubernur – Wakil Gubernur Jabar, Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum, guna menjamin kualitas dan keberlangsungan daya saing generasi muda di masa depan.

Dimasa kepemimpinannya, Emil menerapkan Jabar Zero New Stunting, yang merupakan program pentahelix melibatkan semua unsur, mulai dari Pemerintah, Swasta, sampai masyarakat. Titik finis program ini akan terlihat pada 2045, saat Indonesia meraih bonus demografi. Sumber: REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG.

Harus kita fahami bersama, bahwa ada banyak hal yang menjadi penyebab stunting di Indonesia ini.Namun, kemiskinanlah yang menjadi penyebab paling utama. Kemiskinan erat kaitannya dengan kemampuan menyediakan bahan pokok/ kebutuhan makanan yang bergizi, yang berhubungan dengan kecukupan pemenuhan gizi itu sendiri.
Artinya, lagi lagi karena minimnya kesejahteraan rakyat lah yang menjadi masalahnya.

Jika program yang ada hanya sekedar wacana tanpa ada solusi yang diberikan, maka penuntasan stunting dinegeri ini hanya akan menjadi impian belaka.
Memang benar upaya untuk mengurangi masalah stunting ini sudah dilakukan, dengan cara penyuluhan-penyuluhan dan pemberian makanan bergizi untuk balita, setiap bulan nya di berbagai posyandu-posyandu ditiap daerah, ataupun di sarana kesehatan lainnya.
Akan tetapi penyuluhan dan pemberian makanan bergizi yang dilakukan setiap satu bln sekali saja dirasa tidak cukup, karena nutrisi dari makanan bergizi itu harus terpenuhi setiap hari. Serta penyebab stunting ini bukan hanya kurangnya pengetahuan akan pemenuhan gizi, karena sepertinya hampir semua ibu pun mengetahui asupan makanan yang bergizi itu apa.

Akan tetapi lagi-lagi karena kemiskinanlah yang memaksa masyarakat/ para ibu hanya bisa memberikan makanan yang seandanya saja/serba kurang. Jangan kan untuk membeli lauk pauk, susu, buah-buahan atau sayuran (empat sehat Lima sempurna) sebagai penunjang gizi, Bahkan tidak sedikit orang yang hanya sekedar mengganjal perut saja, memerlukan perjuangan yang luar biasa. Bagaimana mereka bisa memenuhi kebutuhan nya? hal ini diperparah lagi dengan sulitnya ara ayah mencari lapangan kerja.

Harus kita sadari dan fahami bersama, bahwa solusi masalah stunting membutuhkan upaya terstruktur/sistemis yang membutuhkan peranan negara didalam nya. Dengan memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan dasar, juga pendidikan dan kesehatan yang gratis dan juga berkualitas.
Karena dari kemiskinan inilah berpengaruh terhadap akses layanan pendidikan, yang terkait dengan pola asuh, begitupun dengan kesehatan yang ikut berpengaruh.
Bahkan dari kemiskinan ini pula terjadi maraknya berbagai kasus kriminal, seperti pencurian, pembegalan, dan kasus kriminal-kriminal yang lainya, karena salah satunya faktor ekonomi.

Miris memang, ditengah kekayaan sumber daya alam yang melimpah ruah, justru kita miskin penguasa yang dapat benar-benar meriayah umatnya. Sumber daya alam yang seharusnya dapat dinikmati masyarakat, justru malah dikuasai oleh kaum penjajah, yakni asing dan aseng, begitupun kaum oligarki. Masyarakat hanya kebagian penderitaan dan keruksakan nya saja. Inilah akibat dari menerapkan sistem kapitalis sekuler, yang hanya menguntungkan sebahagian orang/ kelompok. Padahal Allah SWT sudah menyediakan sumber daya alam itu untuk kesejahteraan bersama, yang hasilnya harus dikembalikan kepada rakyat, sehingga rakyat dapat hidup sejahtera.

Artinya kita semua membutuhkan solusi yang benar- benar dapat mengatasi permasalahan stunting ini, solusi itu tidak lain dan tidak bukan hanya bisa tertuntaskan hanya dengan menerapkan syariat Islam didalam kehidupan. Kenapa harus sistem Islam? Karena Islam bukan hanya sekedar agama ritual, akan tetapi terdapat aturan didalamnya yang bisa menuntaskan seluruh problematika hidup, aturan islam berasal dari Sang pemilik hidup, dan kehidupan, Allah SWT sang Pencipta alam dan kehidupan, yang jelas pasti lebih mengetahui kebutuhan seluruh ciptaan nya. Bukan aturan yang berasal dari akal manusia yang terbatas.

Dalam sistem Islam kesejahteraan rakyat akan dijamin melaui beberapa mekanisme.
Pertama, ditetapkan untuk seluruh muslim laki-laki, terutama kepala rumah tangga, bertanggung jawab bekerja untuk menafkahi keluarga yang menjadi tanggung kawabnya. Hal ini akan di dukung dengan lapangan pekerjaan memadai yang disediakan oleh Negara, sehingga masing -mading keluarga akan hidup sejahtera, sehingga tercukupi kebutuhan pokok nya, anak- anak terpenuhi nutrisinya, sehingga terhindar dari stunting.

Kedua: mendorong masyarakat untuk saling tolong menolong, jika terjadi kesulitan atau kemiskinan yang menimpa individu masyarakat. Keluarga dan tetangga akan membantu mereka yang sedang dalam kondisi kekurangan, yaitu dengan aturan Islam, yakni dengan zakat, sedekah, dan yang lainnya.

Ketiga: Islam menerapkan ekonomi islam, dalam hal kepemilikan, baik itu individu, masyarakat, dan negara. Semua itu diatur untuk kesejahteraan umat. Negara menjamin kehidupan setiap individu masyarakat untuk mendapatkan sandang, pangan, dan papan yang layak.

Islam mengupayakan agar pertanian dapat ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Tidak ada impor pangan yang akan mematikan harga jual masyarakat.
Kebijakan pemimpin Islam dalam ketahanan pangan negara dipastikan agar dapat memenuhi nutrisi kebutuhan gizi masyarakat.

Kebijakan Islam adalah politik untuk melayani rakyat, bukan kapitalisasi kepentingan atau keberpihakan pada korporasi. Pemimpin Islam adalah pengurus yang bertanggung jawab akan rakyatnya, sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
” Imam (Khalifah) raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab terhadap rakyatnya”(HR.Ahmad dan Bukhari).

Semua ini hanya bisa terwujud dengan menerapkan Islam secara kaffah (menyeluruh) oleh negara, sekaligus dijadikan aturan bagi seluruh bidang kehidupan.

WalLahu a’lam..

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90