Wisata Religi Dayeuh Luhur, Prabu Geusan Ulun Dan Sekelumit Kisah Cintanya

  • Whatsapp
banner 768x98

Pewarta : Gervan Epsa.

Koran Sinar Pagi, Sumedang- Prabu Geusan Ulun atau dikenal juga dengan nama Angkawijaya merupakan Raja Padjajaran terakhir yang juga merupakan trah dari Pangeran Santri.

Diketahui Pangeran Santri ayah dari Prabu Geusan Ulun menikah dengan Ratu Pucuk Umum mempunyai 6 orang anak,diantaranya, 1. Prabu Geusan Ulun, 2. Kiyai Rangga Haji 3. Kiyai Demang Watang 4. Santowan Wirakusumah 5. Santowan Cikeruh 6. Santowan Awiluar.

Alasan mengapa Prabu Geusan Ulun dimakamkan di daerah Dayeuh Luhur, Desa Dayeuh Luhur, Kecamatan Ganeas, Kab. Sunedang, Jawa Barat, karena dari sejarah diterangkan bila Prabu Geusan Ulun sebelumya pernah terlibat asmara dengan Ratu Harisbaya asal Cirebon. Kerajaan Sumedang Larang saat itu yang berada di daerah Kutamaya Desa Padasuka, segera dipindahkan ke Dayeuh Luhur dengan maksud untuk menghindari serangan dari Cirebon akibat Harisbaya ikut ke Sumedang bersama Prabu Geusan Ulun.

Saat itu Harisbaya yang sudah menikah dengan raja Cirebon secara tidak sengaja bertemu dengan Geusan Ulun yang saat itu mampir ke Keraton Cirebon sepulang berkunjung dari Demak. Dari pertemuan itu Harisbaya rupaya masih memendam cinta lama yang pernah terjalin saat mondok di pesantren Demak.

Akibat cintanya yang masih membara maka pada tengah malam Harisbaya memaksa masuk ke tempat penginapan Prabu Geusan Ulun untuk ikut serta pergi, dengan ancaman bila tidak dibawa oleh Prabu Geusan Ulun dia akan bunuh diri.

Kondisi itu membuat bingung Prabu Gusan Ulun. Namun usai bermusyawarah dengan para pengawalnya salah satunya Eyang Jaya Perkosa akhirnya disepakati untuk membawa Harisbaya.

Esoknya Usai diketahui hilangnya Harisbaya yang juga ditelusuri lenyap bersama rombongan Prabu Geusan Ulun membuat Raja Cirebon murka. Maka beliau memerintahkan pasukanya untuk mengejar rombongan Prabu Geusan Ulun ke arah Barat yang diperkirakan menuju wilayah kerajaan Sumedang Larang.

Dalam perjalanan pernah terjadi bentrok tapi pertempuran itu dimenangkan oleh pihak Sumedang Larang berkat kegagahan Eyang Jaya Perkosa yang sebelumnya menjadi Patih Kerajaan Padjajaran.

Diceritakan juga, pada pertempuran berikutnya Eyang Jaya Perkosa sempat berpesan dengan menandai pohon Hanjuang, ” Lihat saja bila Hanjuang ini mati maka aku berarti kalah dan mati dimedan perang. Namun bila pohon ini masih hidup maka aku pun masih hidup dan pasti kembali”, tandas Jaya Perkosa saat itu.

Pada kenyataanya Prabu Geusan Ulun gusar atas keadaan Eyang Jaya Perkosa yang lama tidak ada kabar dan sesuai masukan dari penasihat kerajaan diputuskan agar Ibu Kota Kerajaan Sumedang Larang dipindahkan segera ke Dayeuh Luhur untuk menghindari serangan mendadak dari Cirebon.

Maka sebelum Jaya Perkosan datang dan tanpa mengindahkan pesan Eyang Jaya Perkosa dengan tanda pohon Hanjuang yang masih hidup, Prabu Geusan Ulun memindahkan ibu kota kerajaan dari Kutamaya ke daerah Dayeuh Luhur. Hal itu sempat membuat murka Eyang Jaya Perkosa namun akhir nya Jaya Perkosa menerima penjelasan dari Prabu Geusan Ulun.

” Nah itulah alasan mengapa makam Prabu Geusan Ulun berada di daerah Dayeuh Luhur karena erat kaitanya dengan kepindahan ibu kota Kerajaan Sumedang Larang dari Kutamaya ke Dayeuh Luhur”, terang Radya Anom Keraton Sumedabg Larang, Rd. Luky Djohari Soemawilaga, kepada koransinarpagijuara.com, di Srimanganti, Selasa, ( 1 /8/2023).

Selain makam Prabu Geusan Ulun dan Ratu Harisbaya, di Dayeuh Luhur juga ada makam keturunanya yaitu, Rangga Gempol I ( Rd. Arya Surya Diwangsa), Demang Cipaku, dan petilasan Eyang Jaya Perkosa.

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90