Syarat Etik Calon Ketum PB PGRI

  • Whatsapp
banner 768x98

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Dewan Pembina PGRI Kota Sukabumi)

Bila dalam sebuah organisasi tidak ada dinamika, sama dengan organisasi tidur atau organisasi gaya ideologi komunis. Pemimpin komunis biasanya menolak dinamika, dialektika dan inginnya dipuji puja.

Pemimpin anti kritik, emosional dan menolak berbeda dan otoriter, sangat komunistik. Lebih parah lagi merasa menjadi seorang raja atau ratu. Raja atau ratu, akan menganggap sebuah organisasi sebagai milik pribadi dan warisannya.

Beda dengan pemimpin humanis edukatif, moderat, demokratis, sangat terbuka pada kritik. Bahkan bila tak mampu bekerja dengan baik, bila mendapat mosi tidak percaya, Ia akan segera pamit mundur.

Nah, terkait kisruh PB PGRI saat ini, semoga dapat diambil hikmah dan tindak antisipatif ke masa depan. Jangan ada lagi Ketua Umum PB PGRI yang menebar konflik.

Saat ini mulai dari PB, sampai ke daerah daerah melebar konflik. Di internal PB PGRI ada tim 9, di daerah ada para ketua PGRI provinsi dan Kokab yang menolak kepemimpinan Ketua Umum PB PGRI. Ada pula yang menerima dan menyanjung.

Salah satu tindakan antisipatif agar kisruh dan kisah Mosi Tidak Percaya tidak terulang pada masa depan, maka calon ketua umum PB PGRI harus benar-benar terpilih, punya rekam jejak terbaik diantara yang terbaik.

Berikut syarat etik calon Ketua Umum PB PGRI di masa depan : 1) calon tidak pernah mendapatkan Mosi Tidak Percaya, 2) calon tidak pernah melanggar AD/ART, 3) calon tidak punya jejak buruk dengan Kemdikbud Ristek, 4) calon tercatat di ranting, bayar iuran, pernah menjadi pengurus daerah dan 5) penganut ajaran agama yang baik.

Setidaknya syarat etik di atas dapat menjadi rujukan dan cara antispasi agar tidak terjadi lagi seorang Ketum PB PGRI dapat Mosi Tidak Percaya, gaya kepemimpinan yang membelah daerah, otoriter dan jauh dari minta maaf atau sadar diri dan organisasi.

Setidaknya kita punya standar pemimpin Ketum PB PGRI semirip Basyuni Suriamiharja, Prof. Surya dan Dr. Sulistiyo. Semoga ke depan tidak ada lagi Ketum PB PGRI yang dimosi, disharmoni dengan Kemdikbud ristek dan dianggap gagal saat memimpin.

Saya Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd., menuliskan ini demi adik adik Ku pecinta PGRI di masa depan. Hidup Guru! Hidup PGRI! Solidaritas Yes! Dari Guru, Oleh Guru, Untuk Guru, menuju pendidikan Indonesia lebih baik

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90