Meningkatkan Kualitas Para Pemuda Dengan Hibah, Solusikah?

  • Whatsapp
banner 768x98

Oleh Geni Chintia (Guru & Aktivis Remaja Muslimah)

Belum lama ini, Bupati Bandung menghadiri Wisuda di Pondok Pesantren Tahfidz, Kitab dan Dakwah DTA, TK, SDIT, SMPIT, SMAIT Addzimat Da’i Indonesia tahun ajaran 2023. Pada kesempatan tersebut, Bupati Bandung menyampaikan janji akan terus mendukung peningkatan kualitas para pemuda yang ada di sekolah maupun di lembaga pendidikan lainnya seperti pesantren. Dan salah satu bentuk dukungan peningkatan kualitas pemuda di wilayahnya, bupati Bandung berencana ingin memberikan bantuan hibah sebesar Rp250 juta. Bupati juga mengatakan bahwa bantuan dana hibah tersebut bisa digunakan untuk kegiatan pendidikan para calon pemimpin di masa yang akan datang.

Sebenarnya, rencana pemerintahan dalam memberikan bantuan hibah menunjukan bahwa negara tidak memberikan jaminan pendidikan kepada seluruh anak didik, padahal bantuan dana sangat dibutuhkan oleh lembaga-lembaga pendidikan yang kecil dan kurang dari segi fasilitas atau jumlah siswanya. Adapun jika tujuannya untuk meningkatkan kualitas para pemuda maka, bukan hanya dana hibah yang dibutuhkan, namun, lebih tepatnya para pemuda membutuhkan bimbingan khusus agar mereka menjadi pribadi yang mempunyai pemahaman agama yang baik dan memiliki daya juang tinggi,

Jika kita lihat hari ini, kualitas agama anak muda makin terpuruk akibat kampanye kontra radikalisme dan terorisme, terutama di dunia pendidikan sekolah. Masih teringat saat ada lontaran tuduhan bahwa rohis sekolah adalah sarang perekrutan para teroris. Sejak itu kondisi pengajian-pengajian di sekolah–juga di kampus–makin dijauhi anak-anak muda. Sementara itu sungguh sayang, dimana hari ini banyak anak muda justru hidup dalam kondisi tidak beruntung.

Mereka terjerat kemiskinan, putus sekolah, terlibat kriminalitas, hedonis, dan tidak punya tujuan hidup. Mereka teracuni budaya hedonisme; memburu kesenangan fisik, hiburan, mencari materi, dan popularitas. Maka sejatinya dana hibah tidaklah menjadikan kualitas para pemuda yang sukses dan memiliki intelektual juga spritual yang tinggi, tetapi dengan adanya bantuan hibah tersebut akan memicu adanya permasalahan baru. Semua ini merupakan fakta dari buruknya tata kelola dalam dunia pendidikan yang berlandaskan kepada sistem kapitalisme sekulerisme.

Maka, jika ingin menyelamatkan dan meningkatkan kualitas pendidikan para pemuda saat ini semata-mata bukan dengan hibah malainkan dengan mengukuhkan akidah Islam sebagai landasan kehidupan dunia dan akhirat, memahamkan para pemuda bahwa tujuan hidup yang tertinggi adalah mendapatkan rida Allah Swt, membimbing para pemuda untuk membangun habit/kebiasaan islami sejak awal, menaati Allah Swt., dan meninggalkan kemaksiatan, serta mendorong para pemuda memiliki kepedulian terhadap kondisi umat serta menjadikan mereka pengemban dakwah yang akan memperjuangkan tegaknya agama Allah Swt..

Tengoklah para pemuda zaman dahulu, seperti muhammad al-fatih dalam usia 21 tahun, muhammad al-fatih bisa menaklukkan konstantinopel. Ada juga atab bin usaid yang diangkat oleh rasulullah menjadi gubernur makkah, ketika atab bin usaid berusia 18 tahun. Begitu hebatnya para pemuda di zaman kejayaan islam.

Peran orang tua juga sangat penting dalam pembentukan pemuda yang berkualitas. Orang tua harus menjadi pendidik yang utama, tidak sekedar menitipkan anaknya ke sekolah saja, lalu dibiarkan sesuka hatinya. Tetapi orang tua harus menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya, harus turut menanamkan nilai-nilai agama dari sejak dini agar kelak mereka bisa menjadi pemimpin yang berkualitas, adil, amanah dan bertanggung jawab. Muhammmad al-fatih pun tidak langsung hebat ketika dewasa, akan tetapi ibundanya lah yang mendidiknya hingga bisa menjadi pemimpin yang hebat.

Yang terpenting adalah peran negara dalam pembentukan para pemuda yang berkualitas untuk menjadikannya pemimpin masa depan, maka hanya dengan sistem islamlah para pemuda bisa dibuktikan kulitasnya.

Wallahu’alam

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90