Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Entitas Dewan Pembina PGRI)
Saat Kongres PGRI tahun 2019 ada angka yang menarik dicermati. Angka 767, yakni angka perolehan suara F1 Ketua Umum PB PGRI dan F3 Sekjen PB PGRI.
Sosok Ketua Umum PB PGR, Unifah Rosyidi dan sosok Sekjen PB PGRI, Ali Rahim mendapatkan suara yang sama. Suara F2 lainnya, semua beragam, tidak sama.
Unik memang, hanya dalam Kongres 2019 ada suara yang sama antara Ketua Umum dan Sekjen PB PGRI. Keduanya punya “jamaah” pendukung yang sama jumlahnya.
Ali Rahim dan Unifah Rosyidi dua orang hebat. Keduanya kini sebagai pengurus besar PGRI. Keduanya punya pendukung suara yang sama saat Kongres 2019.
Unik, sebagai saksi sejarah di internal PB PGRI banyak terjadi dinamika. Itulah organisasi, tak menarik bila tidak ada dinamika. Hal paling menentukan dinamika dan geliat organisasi adalah Ketua Umum dan Sekjen.
Secara mental dan faktual, nampaknya bayang-bayang sejarah suara 767 memberi dampak performa pada keduanya. Ketika keduanya seirama dalam satu hal tentu tak menarik.
Hal menarik terbaru adalah saat PB PGRI mengadakan giat webinar. Dua kegiatan ini beda hari, beda spirit dan beda pola perjuangan. Ini dinamika organisasi PB PGRI yang menarik dicermati.
Organisasi PB PGRI yang dianggap terbelah dalam dua metode perjuangan bela guru wajar. Ketua Umum dalam pola non kooperatif, Sekjen dalam pola kooperatif pada pemerintah.
Startegi ini mengingatkan Saya dalam pola perjuangan kaum pergerakan kebangsaan. Ada strategi kooperatif Hatta dan Bung Karno. Ada strategi Tan Malaka dan tokoh komunis lainnya yang non kooperataif.
Strategi diplomasi, agresi, kooperatif dan non kooperatif dalam menghadapi pemerintah Belanda saat itu adalah sebuah jejak digital histori kita. Kini, pola perjuangan masa lalu masih bisa terjadi keduanya dalam semua organisasi.
Bahkan Bung Karno dan Hatta saat pertama terkenal dengan “Dwi Tunggal”, bersatu dalam organisasi perjuangan, namun Sang waktu menjadikan keduanya terbelah menjadi “Dwi Tanggal”.
Bung Karno yang dianggap otoriter dan tak bisa diingatkan Hatta, membuat Hatta berbeda startegi perjuangan. Dwi Tunggal terbelah jadi Dwi Tanggal. Itulah dinamika
