Kades Cibodas Minta Perhutani & Bupati Tangani Banjir Akibat Penanaman Kopi

  • Whatsapp
banner 768x98

Pewarta: Dwi Arifin
Koran Sinar Pagi (Bandung)-, Program penanaman kopi di wilayah hutan desa berdampak munculnya banjir bandang di desa Cibodas. Sehingga banyak permukiman warga, masjid dan lahan pertanian padi rusak terendam air.

Kepala Desa Cibodas Pasir Jambu, Willy Wirasasmita menyampaikan kondisi di wilayah desa sekarang dengan adanya program LMDH wilayah Perhutani di desa Cibodas. Hampir 100 % ditanami kopi, hasil pengamatan kami di wilayah sekitar sering mengalami fenomena Banjir bandang saat musim hujan. “Dampak dari program penanaman kopi LMDH ini memberikan andil terjadinya banjir di wilayah desa sekitar. Karena dulu kondisi hutan cukup rindang dan hijau, ada alang-alang, rumput, tananaman kayu-kayu kecil. Kalau sekarang kondisinya bersih, karena ada kebun kopi, apalagi nanti di bulan januari febuari saat panen raya lebih bersih/gundul,” jelasnya saat wawancara khusus bersama media cetak dan online Koran Sinar Pagi di ruang kerjanya.

“Dampaknya air dari hujan deras di pegunungan tidak nyangkut atau terserap, tetapi langsung tumpah ruah ke pemukiman warga. Sehingga kalau hujan besar di hutan akan ada luapan air yang berdampak banjir, meredam rumah warga, masjid dan puluhan hektar sawah terendam di saat musim panen, menjadi kerugian besar bagi para petani,”katanya

Sementara ini saya sarankan agar ada penataan kembali, misalnya jangan sampai 100 % hutan ditanami kopi. Tetapi harus ada tanaman keras atau hijauan layaknya fungsi hutan, lalu dibuat sengkedan penahan air atau kawasan yang khusus penyerapan air untuk menahan laju air hujan. Sudah seharusnya dampak itu di minimalisir dengan program reboisasi / penanaman lagi penghijuan area hutan.

Pemerintah Desa Cibodas juga mempertanyakan bagi hasil progam penanaman kopi yang telah berlangsung. “Dulu ada rencana profit sharing, cuman sampai saat ini 8 tahun menjabat sebagai kepala desa, tidak ada hasilnya ke pemerintah desa dari profite sharing sekitar 5-10% persen. Profite sharing untuk petani, Perhutani dan pemerintah desa tidak jelas, kalau panen juga pemerintah desa tidak diajak,”ucapnya

Menurutnya dari sejak awal penanaman kopi ini jadi rebutan, masyarakat kami hanya 200 orang yang menjadi petani kopi, paling hanya mengelola 1-2 hektar perorangnya. Tapi yang lebih luas itu warga luar, pendatang dan investor yang mengelola banyak di hutan Cibodas yang totalnya ada 400 hektar.

Berdasarkan data yang ada bajir di bulan desember 2022, banjir bandang sudah 2 kali. “Tolong dievaluasi oleh Pemda antara Bupati dengan Perhutani perihal dampak itu. Walaupun ada dampak kesejahteran yang bagus bagi warga yang menanam kopi, cuman ada dampak negetif yang seperti tadi harus ditangani. Seperti petani padi gagal panen, rumah warga, gorong-gorong yang baru selesai dihantam air hancur lagi,”ungkapnya

Hingga saat ini kerugian petani juga belum diperhatikan, padahal ada wacana kartu si Bedas tapi belum ada tindakan nyata bagi petani yang rugi. Dari luapan air sekitar 20-30 hektar sawah terendam. Kalau itu dibiarkan saya tidak tau kejadian yang lebih parah di 5-10 tahun kedepan dengan kondisi hutan seperti ini.

Willy menyarankan jangan semua gunung-gunung Perhutani ditanami kopi atau penanaman sayur. Supaya kedepan tidak banjir bandang, apalagi selalu ada penyempitan sungai. Intinya petani kopi itu punya andil terjadinya banjir di wilayah desa.

Informasi yang dihimpun koransinarpagijuara.com, saat ini Kopi Priangan yang identik dengan wilayah Perhutani Bandung Selatan. Tanamannya tersebar di 8 (delapan ) Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) yang terdiri dari BKPH Ciparay seluas 63,04 ha,BKPH Banjaran seluas 440,54 ha, NKPH Pangalengan seluas 377,23 ha, BKPH Ciwidey seluas 189,26 ha, BKPH Tambak ruyung Timur seluas 207,03 ha,BKPH Tambak ruyung Barat seluas 128,76 ha, BKPH Gn.Halu seluas 11,66 ha dan BKPH Cilin seluas 9,86 ha.

Pola penanamannya dilakukan dengan pola Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) yang tak lepas dari peran serta masyarakat sekitar hutan yang terbentuk dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Dengan pola ini masyarakat bisa menanam tanaman Kopi disela-sela tanaman kehutanan. Sementara ini untuk KPH Bandung Selatan yang sudah melakukan perjanjian dengan 72 LMDH khususnya untuk komoditi kopi dengan luas 2.238 ha dan target sharing 56,633 ton sejak tahun 2015.

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90