Penjualan Miras via Online Memakan Korban, Luput Dari Razia

  • Whatsapp
banner 768x98

Oleh : Ai Sumiati (Ibu Rumah Tangga)

Lagi-lagi kejadian yang sangat miris, seorang anak berusia 12 tahun tewas keracunan setelah pesta minuman keras oplosan bersama teman-temannya di Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung. SOREANG,AYOBANDUNG.COM.

Kapolresta Bandung Kombes Pol Kusworo Wibowo mengatakan, pesta miras oplosan yang menewaskan seorang anak tersebut terjadi beberapa waktu lalu di Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung.

“Korban anak tewas di tempat setelah menenggak miras oplosan bersama 7 orang teman-temannya di sebuah rumah kosong,” ujar Kusworo, Senin 28 November 2022.

Kedelapan orang tersebut membeli miras secara daring dari Bali yang kemudian dioplos sendiri oleh teman-temannya.
Nahasnya, korban harus meregang nyawa karena keracunan miras oplosan dan tidak sempat mendapatkan perawatan medis.

Sehari sebelum kejadian tersebut, Tim gabungan Polsek Kertasari Polresta Bandung, Babinsa, Satpol PP, aparatur desa, dan Linmas mengamankan
86 botol miras berbagai jenis dan merek yang dirazia di sejumlah rumah warga, kios, warung dan toko.

Dengan diadakannya razia tersebut berharap agar tidak ada lagi yang meresahkan masyarakat dengan minum-minuman keras.

Tetapi sangat disayangkan, sekalipun razia itu sering dilakukan tetapi masih tetap banyak orang yang meminum miras. Bahkan sampai menimbulkan korban meninggal dunia.

Seperti tidak pernah mengambil contoh dari kejadian-kejadian sebelumnya sudah sering kita dengar dan melihat di media-media informasi tentang bahayanya miras oplosan.

Kenapa dalam sistem saat ini sekalipun banyak contoh kejadian yang mengakibatkan kematian tetapi tidak pernah dijadikan pelajaran? Ya, karena sistem saat ini adalah sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan dimana agama tidak dijadikan sebagai aturan didalam kehidupan. Terlebih kebebasan berprilaku membuat seseorang bebas melakukan apa saja yang menurutnya baik bagi dirinya. Sehingga sangat wajar ketika keburukan itu akan senantiasa berulang.

Terlebih tidak ada hukuman yang membuat efek jera. Adapun hukuman bagi orang yang minum-minuman keras, hanya diberi peringatan agar supaya tidak melakukannya lagi.

Juga tidak adanya pencegahan dari negara yang mengontrol adanya informasi atau media sosial yang menjual barang-barang haram baik secara langsung maupun lewat aplikasi online.

Berbeda dengan sistem Islam yang memiliki aturan yang jelas-jelas berasal dari sang Khaliq. Aturan yang akan membuat efek jera bagi orang yang melakukan kemaksiatan.

Dengan kata lain selain sebagai wujud ketakwaan kepada Allah SWT, penerapan hukum Islam sebagai zawajir (pencegahan) dan jawabir (penebus dosa).

Sebagai contoh QS an Nur ayat 2 yang berisi tentang hukuman bagi pelaku zina didunia maupun diakhirat. Bagi pelaku zina yang berstatus belum menikah ( ghairu muhsan) dijatuhi hukuman cambuk 100 kali. Sedangkan bagi pelaku zina yang berstatus sudah menikah diberi hukuman mati dengan cara dirajam(dilempari batu).

Sebagaimana larangan perbuatan lain, Islam menentukan had atau hudud yang berarti hukuman atas pelanggar larangan Allah SWT. Hukuman bagi peminum khamar adalah dengan cambuk 80 kali pada bagian punggungnya. Had ini sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw. bagi para pelanggar larangan minum khamar.

Kendati demikian, pelaksanaan had ini hanya boleh dilakukan oleh lembaga pengadilan resmi dan sah memberlakukan hukum hudud. Tidak dibolehkan melakukan hukuman secara semena-mena oleh warga biasa meskipun mempunyai dua orang saksi yang adil.

Syarat pemberlakuan had bagi peminum khamar juga haruslah seorang muslim, berakal, baligh, minum dengan sengaja tanpa dipaksa, mengetahui keharamannya dan tidak dengan kondisi sakit. Pengharaman khamar dalam Islam bertujuan menjaga keselamatan agama seorang Muslim, akalnya, badannya dan hartanya.

Wallahu’alam bishshawab

 

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90