Asal Usul Jembatan Pameuntasan Hingga Nama Desa

  • Whatsapp
banner 768x98

Oleh : Lili Guntur (Direktur Kantor Berita Forpena)

Asal usul dibangunnya jembatan Pameutasan yang melintasi aliran Sungai Citarum adalah upaya untuk meminimalisir kondisi kemacetan di wilayah Jln. Kopo-Sayati. Juga sebagai interchange Margaasih, penghubung pintu tol Soreang – Pasirkoja (Soroja).

Jembatan yang dibiayai dana APBD Kabupaten Bandung dengan total angaran mencapai 8 miliar rupiah ini, mulai dikerjakan pembangunannya tahun 2008, sejatinya selesai tahun 2009. Namun banyak kendala yang dihadapi, seperti cuaca dan adanya peristiwa kecelakaan yang menimpa salahsatu pegawai, tertimpa besi penyangga, hingga tewas. Sehingga jembatan yang semula harus selesai pada 2009,ahirnya terbengkalai sampai 2010.

Sejak dibangunnya jembatan Pameuntasan mobilisasi masyarakat berkembang pesat, sehingga pengaruhnya sangat cepat terhadap pertumbuhan ekonomi.

Dengan dibangunnya jembatan Pameuntasan, masyarakat, terutama kaum petani dan pedagang sangat terbantu dalam upaya pemasaran hasil bumi. Bukan saja warga Desa Pameuntasan, bahkan warga tetangga desa pun sangat merasakan manfaat dibangunnya jembatan tersebut. Yang semula jika ingin memasarkan hasil bumi ke Kota Bandung harus diangkut menggunakan rakit atau eretan guna menyebrangi sungai Citarum. Bahkan sampai antri sehingga cukup memakan waktu. Sejak ada jembatan, aktifitas warga menjadi lancar.

Konon katanya, nama Desa Pameuntasan yang berada di wilayah Kecamatan Kutawaringin Kabupaten Bandung, juga berasal dari sebutan kata pameuntasan, yang artinya tempat penyebrangan. Hingga dijadikan nama desa.

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90