Putus Sekolah VS Putus Bertani

  • Whatsapp
banner 768x98

Oleh : Dudung Nurullah Koswara

Adalah H. Jajang, seorang kepala sekolah senior di Kabupaten Bogor merefleksi terkait masa depan pertanian kita. Ia mengirim pesan reflektifnya ke WA pribadi Saya. Hal ini sama dengan sejumlah pemikir masa depan lainnya. Bagaimana dunia pertanian kita ketika generasi muda teralienasi dari dunia pertanian? Tak mau jadi petani.

Ini pun seolah mengingatkan Saya sebagai kepala sekolah yang selama dua tahun sudah “berhasil” menaikan peminatan bersekolah SMA sekitar 500 orang. Apakah diantara 500 orang anak SMA ini adalah mereka yang akan “meninggalkan” dunia pertanian, eksodus menjadi pekerja di kota?

Wah, bisa jadi ada kaitan antara sukses aksesibilitas pendidikan dengan mengecilnya generasi muda yang mau jadi petani. Bagaimana bila keberhasilan dunia sekolah jenjang SLTA dan perguruan tinggi bila menggerus generasi muda petani. Siapa yang mau bertani kelak?

Sahabat Saya seorang kepala sekolah menuliskan, “Problematika Hidup para petani sederhana, asal ada beras dirumah sudah tenang, kalau lauk pauk gampang ada ayam, bebek peliharaaan, tapi yang jadi masalah adalah anak saya tidak mau bertani seperti orang tuanya”

“Setelah saya sekolahkan dan menjadi sarjana, anak saya kurang berminat untuk bertani, sampai bertanya dalam 10 tahun lagi, anak anak lulusan SMA tidak ada yang mau turun ke sawah, karena dunia pemikirannya berbeda, satu pihak saya bangga bisa dapat menyekolahkan sampai sarjana, tapi di lain pihak bagaimana kalau semua anak petani beralih ke dunia di luar tani, siapa yang akan menggarap lahan pertanian”.

Selanjutnya Ia mengatakan, “Untuk mencari orang yang mencangkul sekarang katanya sulit, itu rata rata yg tidak sekolah atau orang orang tua di atas 30 tahun. Hidup menjadi petani atau jadi orang sukses adalah pilihan terbaik bagi anak anaknya, tapi bagaimanakah dengan lahan tanah yang subur harus beralih kedunia industri lainnya, masih bagus kalau industri pertanian moderen”.

Faktanya saat ini tanah makin mahal, generasi milenial tak tertarik menjadi petani, lebih baik menjadi karyawan pekerja selain bertani. Ini sebuah realitas generasi muda yang jenjang pendidikannya berhasil diraih tapi mayoritas tak tertarik menjadi generasi muda petani.

Idealnya di masa depan ada petani muda terdidik, sarjana petani unggul yang memberi dampak kesejahteraan bagi umat petani khususnya. Jangan sampai sarjana dari Institut Pertanian dan Universitas jurusan pertanian malah kerja di bank dan lainnya. Quo Vadis generasi muda petani kita?

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90