Optimalisasi Peran Kepala Sekolah

  • Whatsapp
banner 768x98

Oleh : Dudung Nurullah Koswara

Ibu Saya seorang kepala sekolah. Kakak Saya seorang kepala sekolah. Istri Saya seorang kepala sekolah. Saya pun kini menjadi seorang kepala sekolah. Menjadi guru dan kepala sekolah adalah “warisan” keluarga.

Menjadi seorang kepala sekolah tentu tidak hanya sekedar menjadi. Setidaknya harus terus belajar menjadi kepala sekolah yang sesuai tuntutan formalnya yakni menjadi pemimpin pembelajaran.

Pemimpin pembelajaran akan sukses bila memiliki 5 kompetensi yakni : kepribadian, manajerial, supervisi, kewirausahaan, dan sosial. Plus menurur Prof. Mulyasa seorang kepala sekolah harus EMASLIM yaitu harus menjadi seorang : educator, manager, administrator, supervisor, leader, innovator, dan motivator (Mulyasa, 2009: 98- 121).

Tentu banyak pakar lain yang menuntut peran optimal seorang kepala sekolah. Prof. Dr. Ibrahim Bafadal mengatakan, “Tidak ada anak yang tidak bisa dididik, yang ada guru tak bisa mendidik. Tidak ada guru yang tidak bisa mendidik, yang ada kepala sekolah yang tidak bisa membuat guru bisa mendidik”.

Konon Bung Karno pernah mengatakan, “Pekerjaan yang paling mulia adalah mendidik dan orang yang paling Saya hormati adalah pemimpin para pendidik”. Bisa jadi Bung Karno menyadari bahwa sebagai pemimpin politik memang luar biasa berkuasa tetapi tidak lebih terhormat dari pemimpin pembelajaran.

Dalam sejumlah tulisan sering Saya katakan pemimpin terbaik bukan pemimpin yang berkuasa atas politik dan kekuasaan melainkan pemimpin yang “berkuasa” atas pembelajaran. Optimalisasi peran kepala sekolah adalah bagaimana Ia menciptakan ruang, suasana belajar setiap anak didik dengan efektif.

Selain sebagai pemimpin pembelajaran di sekolahan yang implementasinya mengutama di ruang kelas melalui guru, maka kepala sekolah pun bisa menjadi “pemimpin pembelajaran” di ruang publik. Pemimpin pembelajaran di ruang publik adalah “sisi lain” yang melintasi tuntutan formalnya. Idealnya entitas kepala sekolah bisa menjadi edukater publik.

Cara dan jalannya? Bisa berbagai jenis giat dan pengabdian pada masyarakat di luar tugas utamanya. Tidak sedikit kepala sekolah yang jadi penceramah, seniman, pengusaha, entertainer, penulis dan konsultan. Giat sisi lain ini utamanya adalah edukasi dan pengabdian pada masyarakat.

Optimalisasi peran kepala sekolah selain efektif di satuan pendidikan, mengapa tidak Ia pun aktif di luar perannya sebagai kepala sekolah. Hal yang mudah adalah kepala sekolah yang punya kebiasaan menulis. Ia secara tidak langsung “belajar menulis”, plus mengedukasi publik melalui narasinya.

Terutama era literasi dan narcisdik (narcis mendidik), menulis dan menyebarkan gagasan serta tampil dalam giat mendidik publik adalah penting. Apalagi era dunia maya, begitu banyak hoaxs dan informasi yang tak dapat dipertanggung jawabkan.

Mari para kepala sekolah berbuat terutama mempublikasi, festivalisasi dan beritakan secara masif terkait giat dan dinamika pendidikan yang positif di setiap satuan pendidiikan. Pihak ekternal sekolah proaktif menebar prestasi, pihak internal menyimak.

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90