Sepenggal Cerita Perjalanan ke Tanah Baduy

  • Whatsapp
banner 768x98

Penulis: Jujun Suryana (Humas DPMD Jabar)

Baduy memang keren. Sangat eksotik dan menarik. Bisikku dalam hati ketika pertama kali langkah kaki memasuki kawasan permukiman masyarakatnya.

Kekagumanku tidak berhenti disitu saja, terus berlanjut memandangi lingkungannya yang asri dan bersih, pepohonan ‘héjo ngémploh’ betul-betul memanjakan mata dan membuatku betah.

Bangunan rumah-rumah penduduk yang berbentuk panggung dengan dinding biliknya yang terbuat dari anyaman bambu dan ditutupi atap ijuk atau rumbia terlihat sederhana namun berderet rapi dan sangat tertata dengan baik.

Sementara itu, rumah adat Baduy dibagi dalam 3 (tiga) bagian yaitu sosoro (depan), tepas (tengah) dan imah (belakang)

Kesederhanaan bangunan rumah tersebut mencerminkan kehidupan warganya yang sangat bersahaja dan bersahabat dengan alam.

Hal itu terlihat dari cara berpakaian yang dikenakan oleh masyarakat dalam kesehariannya. Pakaian suku Baduy ini telah menjadi ciri yang dibedakan atas warna, desain, dan bahannya.

Sehingga tidak mengherankan jika disetiap rumah akan sangat mudah ditemui perempuan-perempuan suku Baduy yang pandai menenun kain.

Proses pembuatannya pun dilakukan oleh sendiri (handmade), tidak dijahit menggunakan mesin.

Begitu pula warna pakaiannya lebih banyak didominasi warna hitam dan putih, dimana kedua warna pakaian ini sekaligus menjadi pembeda antara penduduk Baduy Luar dan Baduy Dalam.

Secara penampilan, suku Baduy Dalam memakai baju dan ikat kepala serba putih (jamang sangsang), sedangkan suku Baduy Luar memakai pakaian hitam dan ikat kepala berwarna biru (baju kamprét kelelawar).

Bagitu pula pakaian perempuan Baduy Dalam hampir sama warna dan coraknya, hanya berwarna hitam atau putih saja, dengan sarung berwarna hitam.

Sedangkan untuk perempuan suku Baduy Luar, baju biasanya hitam atau putih dan mengenakan kain sarung bercorak batik berwarna biru.

Perbedaan paling mencolok yang bisa diamati adalah antara perempuan yang sudah menikah atau belum. Bagi perempuan yang sudah menikah biasanya baju bagian dada lebih terbuka, sedangkan bagi perempuan yang belum menikah lebih tertutup hingga batas dada.

Bagiku, suasana kehidupan di Baduy adalah sebuah ‘de javu’. Mengingatkan kembali pada masa-masa kecilku puluhan tahun lalu saat di kampung halaman.

Aku sangat beruntung bisa menginjakan kaki di tanah suku Baduy yang masih menjunjung tinggi dan memegang teguh nilai-nilai adat istiadat dan budaya kasundaan warisan para leluhur.

Terlebih lagi kedatanganku ke Baduy kali ini bertepatan dengan tibanya musim panen durian. Sehingga rasa lelahku usai menyusuri perkampungan suku Baduy dapat terbayarkan saat menikmati manisnya buah durian yang banyak ditawarkan dengan penuh keramahan oleh penduduk di tepas-tepas rumahnya.

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90