Menilai PPG, Rumah Belajar & Guru Penggerak

  • Whatsapp
banner 768x98

Oleh : Adi Tama – Guru Sekolah Dasar

PPG (Pendidikan Profesi Guru) dikenal sebagai sebuah program bersyarat untuk mendapatkan TPG (tunjangan profesi guru). Melalui PPG juga seseorang dinilai cukup mumpuni untuk menjadi guru atau pendidik.

Perlu diperhatikan bahwa awal mula pemberian TPG atau yang lebih familiar disebut sertifikasi adalah pemberian tunjangan/ penghargaan atas profesi guru, bukan syarat meningkatkan mutu guru atau pendidikan.

Seiiring berjalannya waktu PPG menjadi jembatan bukan hanya pemberian tunjangan atau apresiasi terhadap profesi guru tetapi juga langkah strategis untuk meningkatkan mutu guru yang akhirnya meningkatkan mutu kualitas pendidikan atau pembelajaran.

Seorang guru yang lulus PPG telah sah atau mumpuni untuk menjadi guru, untuk itu, ia berhak mendapat TPG atau tunjangan sertifikasi. Harapannya guru tersebut akan mampu memberikan pengajaran berkualitas yang akan meningkatkan kinerja dan kualitas pendidikan.

Pertanyaannya, apakah PPG berhasil meningkatkan kualitas pendidikan? TIDAK!

Kenyataannya PPG hanya syarat mendapat TPG. Pendidikan PPG hanya sebatas workshop berjangka. PPG hanya ritual wajib untuk mendapatkan tunjangan profesi. Bahkan jika lihat di lapangan, seorang guru yang telah lulus PPG tidak terlalu berdampak atau terlihat juga peningkatan kinerjanya.

Tetapi hal ini tidak salah, sekali lagi tidak salah. Karena awal mula pemberian TPG adalah sebagai apresiasi terhadap profesi guru atas pengabdiannya, bukan kinerjanya.

Rumah Belajar

Sebuah portal digital milik Kemendikbud Ristek, portal ini memiliki banyak program, banyak menu di dalamnya sumber belajar, buku ajar, game edukasi, video pembelajaran, media pembelajaran digital, dan lain sebagainya. Tidak hanya itu rumah belajar juga rutin mengadakan pelatihan terstruktur dari tingkat kec, kota, hingga nasional (kementerian pendidikan), lulusannya menjadi Duta Rumah Belajar.

Orang-orang yang bergerak dan menggerakan orang lain dalam memanfaatkan portal rumah belajar. Duta Rumah Belajar cukup eksis dengan agendanya. Duta Rumah belajar membawa perubahan ke arah peningkatan kinerja dan kompetensi guru.

Satu lagi, portal rumah belajar lebih atraktif dan kaya menu dibanding dengan PMM (platform merdeka mengajar) hanya saja pendalaman materi di rumah belajar masih sangat sedikit, dan ini seharusnya lebih dikembangkan lagi.

Bagaimana dengan PMM? Bagian terbaik dari PMM adalah adanya pencerahan atau tutorial modul versi video. Guru tidak perlu repot untuk membaca, cukup membuka mata dan mendengarkan penjelasan dari video yang disajikan. Cara cerdas yang dihadirkan kemendikbud dalam upaya membuat guru mau belajar.

Pertanyaannya kenapa tidak kembangkan saja rumah belajar yang sudah eksis lebih dari 10 tahun? Kenapa menu PMM tidak masuk saja dalam portal rumah belajar agar satu pintu, satu aplikasi untuk menggali ilmu? Sila jawab sendiri.

Jika jawabanya karena rumah belajar hadir lebih lama dan bukan bagian dari kurikulum merdeka, sedangkan PMM hadir sebagai media pelengkap kurikulum merdeka. Maka itu bukan jawaban! Alasannya portal rumah belajar juga bisa dikembangkan, disesuaikan dengan program yang baru sekarang. Bisa saja kan?

Guru Penggerak

Sebuah program terobosan baru era Mas Nadiem Makarim. Program Pendidikan Guru Penggerak dilaksanakan bertahap atau per gelombang. Pendidikan ini berlangsung 6-9 bulan lamanya. Calon guru penggerak dilatih, dibangun, dan dibentuk untuk menjadi pemimpin pembelajaran di kelas. Seorang agen yang bisa membawa perubahan di sekolahnya. Seorang guru yang diharapkan dapat membuat terobosan atau gerakan baru guna meningkatkan mutu pembelajaran atau mutu sekolahnya.

Terlebih yang spesial adalah lulusan guru penggerak dianggap layak menjadi pemimpin atau kepala sekolah. Putusan ini tertuang dalam permendikbudristek No 40 Tahun 2021.
Luar biasa sekali bukan? Seorang calon guru penggerak dilatih berbulan-bulan, disiapkan untuk menjadi agen perubahan dan dianggap layak untuk menjadi pemimpin di sekolahnya.

Apakah program ini bagus ?

Secara konsep program pendidikan guru penggerak ini sangat bagus, bagus sekali. Secara program juga bisa dikatakan rapi, program guru penggerak ini tersusun, terstruktur, dan sistematis. Materi dan ilmu yang diberikan di dalamnya sangatlah mahal. mahal dalam arti memiliki makna mendalam yang memang harus diketahui dan dikuasai guru.

Lalu, pertanyaan selanjutnya Apakah program guru penggerak berhasil meningkatkan kualitas guru atau meningkatkan mutu pendidikan?

Ini baru harapan. Harapannya memang itu. Membawa perubahan mulai dari mindset hingga implementasi dalam pembelajaran, lebih luas bisa menggerakan rekan guru lain, hingga menciptakan banyak perubahan-perubahan budaya sekolah ke arah yang lebih baik lagi.

Apakah sudah berhasil?

Terlalu dini mengatakan berhasil, program guru penggerak baru saja dimulai, tiga tahun terbilang sangat singkat jika untuk menilai sebuah perubahan dalam pendidikan. Perubahan pendidikan setidak-tidaknya akan terlihat setelah berproses 10-20 tahun.

Indikator yang pasti adalah keberhasilan program guru penggerak ini terletak pada lulusannya. Jika lulusan guru penggerak bisa membuat perubahan lebih baik dalam pembelajaran atau dalam menyajikan pendidikan yang selalu belajar dan berbagi hingga berujung pada semakin meningkatnya budaya dan nilai sekolah, semakin banyaknya rekan-rekan guru yang ikut tergerak, maka program ini berhasil. Namun, jika lulusan guru penggerak sama seperti lulusan PPG berarti program ini gagal atau tidak berhasil!

Lebih lanjut, jika guru penggerak hanya mampu bergerak sendiri dalam menyajikan pembelajaran yang lebih kreatif saja, lalu apa bedanya dengan duta rumah belajar? Duta rumah belajar juga sudah bergerak dan menggerakan rekan guru lain. Duta rumah belajar juga sudah atau lebih lama membuat proses belajar menjadi lebih menarik, hidup, menyenangkan, dan berpihak pada murid.

Poin terakhir adalah jika seorang guru penggerak tidak mampu menggerakan guru lain hingga membuat perubahan di sekolah hingga nilai sekolah semakin baik lagi, maka ada yang salah dalam PP 40 2021. Artinya guru penggerak baru sebatas tergerak, bergerak, dan membuat perubahan dalam pembelajaran yang berpihak pada murid, menjadi pemimpin pembelajaran. Belum pada fase mengelola sekolah.

Perlu digarisbawahi bahwa kepala sekolah lebih berfokus pada manajemen sekolah. mengelola SDM (guru, tendik, komite, menjalin kerjasama dengan orang tua murid), menganalisis kebutuhan, mengevaluasi, merancang kurikulum satuan pendidikan, membuat program-program sekolah, mengelola keuangan, dan lain sebagainya. Ujungnya memang tetap pada murid, namun fokusnya adalah manajemen sekolah, sedangkan guru fokusnya adalah murid. Ini berbeda, sangat berbeda!

Buktinya apa kalau berbeda? Gampang saja, buktinya ada program sekolah penggerak yang lebih berfokus pada manajemen sekolah keseluruhan. Kalau program guru penggerak dirasa sudah dapat meng-handle semua-muanya lalu buat apa harus ada program sekolah penggerak lagi ? Iya kan. Nah, Kembali pada PP 40 2021 apakah poin guru penggerak menjadi syarat menjadi kepala sekolah sudah tepat? Atau sebagai motivasi agar calon guru penggerak lebih bersemangat mengikuti program? Sila nilai sendiri saja.

Hal yang membuat rasa penasaran juga sebagai tantangan dari program ini adalah melihat sejauh mana kiprah kepala sekolah lulusan guru penggerak bisa membuat perubahan. Ini poinnya!

Menarik melihat eksistensi PPG, Rumah Belajar, & Guru Penggerak. Semua program ini bertujuan pada meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan. Sejauh mana keberhasilannya, program mana yang matang dan dikatakan lebih baik. Kita lihat dan nilai bersama!

Bagaimana jika berhasil? Berikan apresiasi luar biasa untuk upaya pemerintah (kemendikbudristek dan semua yang terlibat) dalam meningkatkan pendidikan.

Bagaimana jika gagal? Sesuai dengan ilmu guru penggerak, evaluasi dan refleksi itu penting! Jangan ragu untuk menuangkan gagasan dalam suara atau aksara untuk mengkritisi. Hajar!

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90