Guru 1,6 Juta, Rindu RUU Sisdiknas

  • Whatsapp
banner 768x98

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikian)

Saat dialog internal PGRI, seorang guru SMAN, Dian Anggraeni mahasiswa program doktoral, Ia pun Ketua PC PGRI, mengeluh. Ia kebetulan belum PPG, dan sulit naik pangkat. Keluhannya disaksikan sejumlah pengurus PGRI. Bahkan Ia sempat mau mengundurkan diri dari PNS sebagai guru. Mengapa? Karena Ia terkendala kenaikan pangkat dan mengikuti PPG.

Namun saat mendengar akan adanya UURI Sisdiknas baru yang akan memberi kemudahan bagi dirinya tanpa harus ikut PPG. Ia merespon dengan baik. Ia berharap kenaikan pangkatnya akan segera terkobul dan sama-sama mendapatkan tunjangan yang lebih baik.

Satu lagi pemilik tiktok @ammaleeya26 dengan berseragam PGRI begitu semangat menyambut RUU Sisdiknas. Ribuan respon dan ratusan komentar masuk di tiktoknya. Apakah ini representasi 1,6 juta guru yang ingin segera berubah nasibnya?

Apakah mungkin 1,6 juta guru yang belum tersertifikasi dan belum ikut PPG karena berbagai hal, rindu RUU Sisdiknas? Apakah guru semuanya “resah” karena RUU Sisdiknas? Atau 1,6 juta resah karena ingin segera mendapatkan kesejahteran?

Satu juta lebih guru, resah takut hilang TPG karena RUU Sisdiknas. Satu juta lebih guru, rindu RUU Sisdiknas segera disahkan? Bisa saja ini terjadi pada entitas guru kita. Wacana dan pernyataan Mendikbud Nadiem Makarim terkait peningkatan kesejahteraan bagi 1,6 juta guru tanpa harus PPG, adalah angin segar.

Sebagian lagi pro kontra, yang menduga akan hilangnya TPG di RUU Sisdiknas adalah bagai angin topan. Walau pemerintah menjanjikan tidak akan menghilangkan dan tetap menjamin TPG tetap ada sampai pensiun, masih ditafsir “modus”. Inilah realita sudut pandang publik guru pada RUU Sisdiknas.

Dilapangan para guru terbelah sudut pandang, optimis dan pesimis. Guru optimis percaya pada pemerintah akan mensejahterakan guru. Guru pesimis ragu dan tak percaya pemerintah akan mensejahterakan guru.

Pertanyaan nalar bisa kita tanyakan pada guru. Mungkinkah pemerintah mensejahterakan guru di RUU Sisdiknas? Mungkinkah pemerintah mensengsarakan guru di RUU Sisdiknas? Sebagai guru dan sebagai aktivis organisasi guru, lebih mungkin pemerintah mensejahterakan guru dibanding mensengsarakan.

Tiktok berbatik PGRI dan suara Ketua PC PGRI adalah diantara suara kebatinan optimis guru yang belum tersertifikasi dan belum mendapatkan TPG. Optimis menyambut RUU Sisdiknas. Istilah bijak mengatakan, “Sukses hanya bagi orang optimis dan gagal hanya bagi orang yang pesimis dan peragu”.

Iseng Saya telephon seorang Kepala Sekolah terkait RUU Sisdiknas. Ternyata Ia pun merespon optimis, akan ada perbaikan nasib dan kesejahteraan guru. Ia pun mengatakan semoga bagi guru yang belum PPG, ketika nanti mendapatkan tunjangan fungsional, pasca RUU Sisdiknas berlaku, ekuivalen dengan nominal TPG.

Terakhir sangat menarik pernyataan Anindito Aditomo. Ini seirama dengan sepuluh tahun yang lalu apa yang Saya sampaikan dalam sebuah tulisan. Apa itu? Guru harus sejahtera dahulu, baru dituntut profesionalismenya. Sering Saya sampaikan tak boleh menuntut profesionalisme pada guru, bila guru masih “sengsara”.

Mungkinkah guru dengan gaji dibawah UMR sejahtera dan profesional? Mungkinkah guru dengan ekonomin pas-pasan dan sambil nyambi Gojek, sejahtera, profesional? Sangat tak mungkin! Ia harus “membelah” dirinya dalam dua posisi, fokus jadi guru atau fokus cari tambahan? Tidak ada “mendua” membaik, yang ada adalah konflik.

Penjelasan Anindito Aditomo di Cokro TV, seirama dengan aspirasi dan suara guru. Sejahterakan dulu gurunya, baru profesionalisme akan merambat lebih baik. Terutama generasi guru baru yang menjadikan profesi guru sebagai pilihan hidup, panggilan hati karena terjamin kesejahteraanya. RUU Sisdiknas priority kesejahteraan guru? Waktu akan menjawab!

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90