Dosa Besar Entitas Pendidik

  • Whatsapp
banner 768x98

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)

Kisah seorang preman pembunuh yang telah membunuh 100 orang mendapatkan ampunan Allah, cukup populer. Ia sedikit pun belum melakukan kebaikan tapi sudah mendapatkan ampunan walau membuat entitas malaikat berselisih. Apakah Ia tak termaafkan atau dimaafkan?

Mengapa ia diampuni ? Diantara asbabnya adalah Ia sedang berproses menuju taubat dan upaya perbaikan diri. Ia akan belajar untuk hidup lebih baik pada seseorang yang akan Ia jumpai. Dalam perjalanan Ia meninggal. Ternyata Allah, Tuhan yang maha Esa memaafkan.

Betapa ikhtiar mau menuntut ilmu pada seseorang menyebabkan pembunuh 100 orang diampuni. Nah bagaimana dengan anak didik yang mau belajar serius, berangkat ke sekolah? Tentu saja ini adalah ikhtiar terbaik bagi anak didik?

Bagaimana Sang Pendidik yang setiap hari berangkat menuju sekolah, masuk ruang kelas dan mendidik anak? Sungguh sebuah ibadah bernilai luar biasa. Maka tak heran Saya sebut sekolah sebagai Rumah Ibadah Pendidikan Terbaik bagi peradaban manusia.

Ketika 100 orang dibunuh bisa terampuni karena seseorang benar-benar mau bertobat dan mau belajar memperbaiki diri. Apalagi bila anak didik dan guru keduanya sama-sama belajar untuk memperbaiki diri. Agar hidup bermanfaat dan memberi kebaikan pada sesama.

Bila Sang Preman di atas telah membunuh 100 orang dan Allah ampuni karena bertaubat dan mau belajar, bagaimana bila ada pendidik malah “tidak belajar”. Tidak belajar dalam artian tidak masuk ruang kelas untuk melayani anak didik?

Sungguh sebuah dosa besar bila masih ada pendidik yang masih menyepelekan sakralitas ruang kelas. Bila masuk ruang kelas sering terlambat dan menganggap mendidik dan mengajar sebagai pekerjaan biasa. Anak didik di ruang kelas adalah ladang ibadah terbaik bagi setiap guru.

Bila ada puluhan anak menjadi tidak belajar karena pendidiknya bolos dan sengaja mengabaikan hak belajar anak didik maka ini lah dosa besar yang luar biasa. Waktu belajar anak didik hilang, hak belajar anak didik tidak di dapatkan di ruang kelas. Jam mengajar di ruang kelas adalah waktu istimewa.

Korupsi uang itu bisa diganti. Korupsi waktu tak bisa diganti. Dalam ajaran agama dikatakan “demi waktu” bukan demi uang atau materi. Artinya waktu adalah sesuatu yang nilainya sangat istimewa. Istimewa melintasi nilai material atau uang.

Sehebat apa pun istana, kendaraan dan jabatan, masih bisa dibeli. Umur atau waktu jatah hidup kita tak bisa dibeli. Jatah waktu hidup kita tak bisa dibeli. Waktu adalah dimensi tak ternilai harganya yang Allah, Tuhan yang maha Esa berikan.

Termasuk waktu di ruang kelas. Hak waktu menerima pendidikan dan pengajaran adalah hak teristimewa dan termahal bagi setiap anak didik.

Menyia-nyiakan waktu hak belajar anak di ruang kelas adalah musibah bagi masa depan dan pembentukan karakter anak didik. Putus cinta itu biasa. Putus mendidik adalah binasa.

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90