Unifah Gagal Paham Bela Guru

  • Whatsapp
banner 768x98

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd
(Dewan Pembina PGRI)

Bila sebuah organisasi besar dipimpin oleh orang yang kapasitasnya kurang, bisa menggiring kemunduran organisasi. Pekan ini Saya membaca pernyataan Ketua Umum PB PGRI yang tidak mencerminkan jiwa besar dari pengurus besar PGRI. Kasihan pengurus PB PGRI yang lain akan terbawa mundur atau dianggap sama pemikirannya.

Sebagai entitas Dewan Pembina PGRI Saya harus memberi narasi penyeimbang. Agar PGRI tidak dipandang publik sebagai organisasi berpikiran sempit, mikro dan emosional. Pernyataan Unifah sebagai Ketua Umum PB PGRI dalam JPNN, Selasa tanggal 18 Januari yang tidak mencerminkan kebesaran PGRI.

Unifah mengatakan “Jadi, seleksi PPPK guru ini tidak menyelamatkan guru honorer negeri maupun swasta. Ini malah menarik guru tetap yayasan di sekolah swasta,” pungkas Unifah Rosyidi. (esy/jpnn). Ini jelas tidak tepat. Malah “menghakimi” martabat guru tetap yayasan yang sama berhak untuk menjadi ASN PPPK.

Faktanya sejumlah guru honorer di sekolah negeri dan swasta banyak yang lolos PPPK. Sejumlah guru honorer di sekolah negeri dan swasta terselamatkan menjadi ASN PPPK. Sekolah yang Saya pimpin sejumlah guru honorer negeri dan guru dari sekolah swasta menjadi ASN PPPK. Seleksi PPPK tidak menyelamatkan guru honorer sekolah negeri, tidak benar.

Judul berita “Ketum PGRI: PPPK 2021 Seharusnya untuk Honorer, Bukan Guru Tetap Yayasan” malah membuka konflik baru. Seolah guru tetap yayasan tidak berhak mengikuti seleksi PPPK. Padahal jelas mereka juga sama sudah lama mengabdi untuk negara dan mereka sudah banyak yang bersertifikat pendidik sesuai keinginan pemerintah.

PGRI adalah organisasi guru terbesar di republik ini. Era Basyuni, Prof. Surya dan Dr. Sulistiyo tidak pernah Saya temukan mendiskreditkan guru tetap yayasan atau guru lainnya. PGRI adalah untuk “Semua Guru Republik Indonesia” bukan hanya anggota semata atau para guru di yayasan PGRI saja. Unifah gagal paham dalam membela guru.

Gagal paham Unifah bisa jadi karena Ia tidak berlatar guru sebagaimana Basyuni, Prof. Surya dan Dr. Sulistiyo. Mungkin pula karena Ia tidak pernah menjadi pengurus PGRI di daerah sehingga soalan guru dan masalah guru tidak cukup Ia mengerti. Bila kapasitas diri tidak seimbang dengan jabatan yang diemban maka sejumlah kontroversi interal dan eksternal akan terus hadir.

Semoga para Ketua PB PGRI dan Sekjen PB PGRI bisa memberikan masukan yang baik pada Unifah sebagai Ketua Umum PB PGRI agar apa yang disampaikan tidak “rasis” pada entitas guru lainnya. Atau onprof guru lainnya. PGRI adalah untuk guru Republik Indonesia, semua guru yang ada di republik Indonesia. Bukan hanya anggota semata.

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90