Meutya Hafid Mantan Wartawan Perang Pimpin “Fit and Proper Test” Calon Panglima TNI

  • Whatsapp
banner 468x60

Pewarta: Dwi Arifin

Koran SINAR PAGI (Jakarta)-, Komisi I DPR RI memberikan persetujuan pengangkatan calon Panglima TNI atas nama Jenderal Andika Perkasa. Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid menyampaikan keputusan tersebut usai Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dan Rapat Internal Komisi I DPR RI dengan calon Panglima TNI tersebut. Selain persetujuan pengangkatan itu, rapat juga menyetujui pemberhentian Panglima TNI saat ini, Marsekal Hadi Tjahjanto.

“Setelah mendengarkan dan mempertimbangkan pandangan fraksi-fraksi. Rapat internal Komisi I DPR RI menyetujui pemberhentian secara terhormat Panglima TNI Jenderal Hadi Tjahjanto dan memberikan apresiasi sebesar-besarnya. Selain itu rapat memberikan persetujuan terhadap pengangkatan calon Panglima TNI atas nama Jenderal Andika Perkasa,” ujar Meutya saat memimpin konferensi pers Komisi I DPR RI di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Sabtu (6/11/2021).

Sebagaimana diketahui Komisi I DPR RI hari ini telah melangsungkan RDPU dengan Jenderal Andika Perkasa yang saat ini menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dengan agenda pemaparan visi-misi calon Panglima TNI itu. Rapat itu dilanjutkan Rapat internal Komisi I dengan agenda persetujuan pengangkatan calon Panglima TNI dan persetujuan rencana pemberhentian secara terhormat Panglima TNI yang tengah menjabat.

Meutya mengatakan, Komisi I DPR RI sudah melakukan verifikasi dan melaksanakan RDPU dengan calon Panglima TNI kurang lebih 3 jam. “Dimana, seluruh fraksi di Komisi I sudah memberikan pandangannya. Saya ucapkan selamat (kepada Andika) dari seluruh fraksi dan pimpinan Komisi I,” ucap politisi Partai Golkar itu.

Menanggapi hasil rapat tersebut, Jenderal Andika Perkasa mengucapkan terima kasih. “Saya ucapkan terima kasih kepada ibu dan bapak semua, ” sebutnya.

Andika juga memastikan dirinya siap menerima pertanyaan dan pendalaman terkait visi misinya dari para anggota Dewan. Ia menekankan prioritas lembaga militer yang akan dipimpinnya ialah komitmen untuk berpegang teguh kepada peraturan dan perundang-undangan yang ada.

Saat Komisi I DPR RI menggelar uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) calon panglima TNI Jenderal Andika Perkasa. Dalam rapat itu, setelah Andika memaparkan visi dan misinya, ia meminta agar rapat dilanjutkan secara tertutup.

Informasi yang dihimpun koransinarpagijuara.com dari www.tribunnews.com, Di bawah kepemimpinannya, mitra kerja Meutya Hafid mulai dari Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto berserta kepala staf, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, Kepada Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Budi Gunawan, Menteri Komunikasi dan Informasi Johni G Plate.

Tak hanya itu, mitra kerja Komisi I juga adalah Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas); Badan Keamanan Laut (Bakamla), Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas), Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI), Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (LPP TVRI), Dewan Pers, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat,  Komisi Informasi Pusat (KI Pusat), Lembaga Sensor Film (LSF) dan Perum LKBN Antara.

Sebelum masuk ke dunia legislatif, Meutya  dikenal dunia pers sebagai wartawan yang memiliki tugas utamanya meliput langsung sejumlah perang di berbagai dunia. Dirinya pernah ditugaskan sebagai jurnalis pada konflik Palestina (2007), Meliput Pemilu Australia/ pergantian kepemimpinan di Australia (2007), Kudeta Militer Thailand (2006), Konflik Thailand Selatan (2006), Pemilu Irak (2005), Dialog Pemimpin Muslim dunia di Rusia tahun 2005.

Serta berbagai liputan dan pelaporan langsung didalam negeri diantaranya darurat militer di Aceh (2003), Tsunami Aceh (2005), Perjanjian Damai Aceh (2005), Pemusnahan senjata di Aceh (2005).

Pada 18 Februari 2005, Meutya sempat mengalami diculik dan disandera oleh sekelompok pria bersenjata ketika sedang bertugas di perang Irak. Dia akhirnya dibebaskan pada 21 Februari 2005.

Dari pengalamannya tanggal 28 September 2007, Meutya melaunching buku yang ia tulis sendiri yaitu “168 Jam dalam Sandera: Memoar Seorang Jurnalis yang Disandera di Irak”. Presiden SBY kala itu menghadiri langsung peluncuran bukunya.

Meutya juga pernah bertugas langsung melaporkan dan menjadi host berbagai program election/ Pilkada di berbagai provinsi diantaranya Jawa Barat, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lampung.

Meutya sering mewawancarai banyak tokoh Nasional dan pemimpin bangsa maupun tokoh/ pemimpin mancanegara. Diantaranya menjadi moderator dialog Presiden Iran Ahmadinejad, wawancara Wakil Presiden Iran, dan banyak pemimpin negara lainnya.

Meutya Hafid sempat memperoleh banyak penghargaan, diantaranya:

2013 : Press Card No. 1 – Penghargaan Tokoh pers nasional kaliber internasional (PWI Pusat)
2008 : Australian Alumnae Awards untuk bidang jurnalistik
2008 : Young Inspiring People (Hard Rock FM)
2007 : Elizabeth O’ Neill Journalism Award (Penghargaan bagi Jurnalis dari Pemerintah Australia)
2006 : Mewakili Indonesia dalam Asia 21st Young Leaders Meeting di Seoul, Korea Selatan
2006 : Penghargaan Kartini bidang Jurnalis (Lions Club Jakarta)
2006 : Wanita Pemberani (Samsung Award)
2005 : Women of courage (Kaukus perempuan Singapura)
2005 : Penghargaan dedikasi di bidang jurnalistik (UMM Malang)
1996 : National Youth Achievement Award (Kelas Perunggu dari Pemerintah Singapura)

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90