Pelayanan Kesehatan Gigi di Puskesmas Selama Pandemi Masih Tutup

banner 468x60

Pewarta: Dwi Arifin

Koran SINAR PAGI (Bandung)-, Pelayanan dokter gigi di tingkat puskesmas wilayah kota dan kabupaten Bandung masih tutup (tidak ada pelayanan). Berbeda dengan klinik, mereka sudah membuka layanan, karena fasilitas untuk pelayanan dokter gigi di masa pandmi dinilai sudah cukup, berbeda dengan fasilitas poli gigi di Puskesmas masih banyak keterbatasan.

Ujang petugas di Puskesmas Katapang menyampaikan kepada para pasien yang datang ke puskesmas bahwa pelayanan poli gigi sejak masa pandemi masih tutup dan belum tau kapan akan bukanya. Coba saja ke dokter gigi yang ada di klinik atau praktek mandiri kelihatannya sudah buka, ucapnya sambil mengarahkan dan memberi alamat klinik-klinik dokter gigi wilayah terdekat (6/11/021)

Drg. Cahya Kustiawan dokter gigi di Apotek & Klinik Al-Masoem menjelaskan saya ini dokter yang bertugas di Puskesmas dan juga membuka praktek di sini dengan ijin prakteknya SIP: 445.93.056.VIII/13-drg/Dinkes. Perihal di Puskesmas masih tutup, tapi di Klinik ini sudah buka. Itu karena fasilitasnya sudah dipenuhi untuk melayani pasien di masa pandemi. Beda dengan fasilitas di Puskesmas masih banyak kekurangan alat kesehatan untuk pelayanan di masa pandemi yang semakin ketat dan dianjurkan Kementrian kesehatan.

Seperti alat penyedot dan pendeteksi virus dalam mulut, lalu alat pelindung diri yang khusus untuk pelayanannya. Karena virus itu biasanya menetap di air liur sekitar mulut dan mudah menyebar ke udara menular ke orang terdekat.

Drg. Cahya Kustiawan memaparkan pelayanan yang diterapkan di Kliniknya. Misalnya kita cek dulu tentang riwayat kesehatan pasien, mulai dari tentang aktivitas hariannya apakah anggota keluarganya / tetangganya berada atau sempat berpergian dari wilayah zona merah. Lalu kita cek kondisi tubuhnya apakah sedang demam, filek, batuk, sesak nafas, nyeri tenggorokan atau diare/mencret dan tanda-tanda lain gejala covid19. Dari proses itu maka ditentukan layak atau tidak pasien mendapatkan tindakan pelayanan medis tentang apa yang di keluhkannya.

Dan pelayanan di klinik lebih mahal dari pada di Puskesmas. Karena di Puskesmas itu ada subsidi, sedangkan di klinik tidak ada. Selain itu ada pelayanan tindakan untuk kesehatan gigi pasien yang bisa pakai kartu BPJS Kesehatan (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan) dan ada yang tidak. Misalnya kalau di Puskesmas itu cukup 150 ribu untuk perawatan pembersihan karang gigi rahang bawah dan atas yang totalnya 32 gigi. Tapi kalau di Klinik bisa sampai 500 ribu.

Dokter gigi dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Shaliha Hasim mengatakan, skrining ini mencakup pemeriksaan suhu, gejala dan kontak erat pada kasus COVID-19. Pasien yang bergejala seperti COVID-19 semisal demam dan batuk saat skrining harus siap ditolak untuk berkonsultasi.

“Kalau dia ada batuk tetapi memaksa untuk tindakan, minimal harus swab antigen dulu. Jadi, kalau ada gejala yang jelas, tidak akan kita terima. Kalau ternyata dia positif, masuknya ke dokter umum untuk diarahkan ke pengobatan COVID-19 dulu”

Menurut Shaliha, hal ini berbeda dengan dulu. Pasien sekedar batuk batuk, pilek atau mengaku tidak kontak dengan orang yang terkonfirmasi positif COVID-19 akan diterima untuk berkonsultasi.

Sebelum datang ke klinik gigi, pasien sebenarnya bisa memanfaatkan fasilitas telemedicine dulu sebagai deteksi awal masalah gigi mereka. Namun, memang tak semua kasus gigi bisa diselesaikan lewat telemedicine.

Setelah lolos penapisan, pasien harus masuk ke ruangan pemeriksaan sendiri sembari mengenakan APD. Apabila dia butuh ditemani pendamping, maka pendamping dibatasi hanya satu orang dan dia pun harus bersedia mengenakan APD.

APD untuk pasien dan pendamping biasanya bisa dibeli seharga Rp15 ribu yang terdiri dari gown (pakaian) dan head cap atau penutup kepala.

Selain itu pasien juga harus dilengkapi dengan informed consent (persetujuan medik) yang harus ditandatangi kalau mereka masuk dan dilakukan tindakan risiko tinggi tertular dan menularkan (COVID-19), kata Shaliha.

Selain menerapkan skrining ketat, Shaliha dan timnya memilih tetap praktik di tengah PPKM Darurat juga karena memiliki fasilitas APD level 3 sesuai anjuran Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI) dan Kementerian Kesehatan.

Ruangan praktik pun diatur sesuai protokol pencegahan penularan COVID-19 seperti memiliki ventilasi baik, penyemprotan ruangan setiap usai menangani satu pasien, dokter tidak makan dan minum serta salat di dalam ruangan pratik atau klinik.

Informasi yang dihimpun Koran SINAR PAGI dari berbagai sumber, virus covid 19 diketahui mudah menyebar melalui tetesan pernapasan dan prosedur gigi diketahui menghasilkan banyak aerosol sehingga menyebabkan kekhawatiran air liur yang keluar selama pembersihan atau prosedur restoratif dapat membuat ruang praktik dokter gigi menjadi lokasi transmisi tinggi virus penyebab COVID-19 itu.

Dokter gigi berada di garis depan praktik pengendalian infeksi dalam perawatan kesehatan. Selama pandemi, protokol baru diterapkan para dokter di ruang praktik termasuk sistem ventilasi ruangan yang diperkuat, peralatan penyedot aerosol ekstra, masker N95 dan pelindung wajah dan perpanjangan waktu henti antar pasien.

Faktanya virus covid 19 ini menyebar melalui aerosol, dan berbicara, batuk atau bersin di klinik gigi masih dapat membawa risiko penularan penyakit yang tinggi. Sehingga pelayanan kesehatan gigi tidak dipermudah seperti dulu, perlu syarat-syarat lainnya untuk pencegahan dari penularan virus covid19.

banner 728x90

Pos terkait

banner 468x60