Kades Wilayah Cidaun Suarakan Agar Pemerintah Prioritaskan Desa Tertinggal

banner 468x60

Pewarta: Dwi Arifin

Koran SINAR PAGI (Kota Bandung0-, Sebanyak 45 kepala desa dari perwakilan desa-desa berkategori mandiri dan tertinggal atau yang mewakili secara luring dan juga DPMD Kabupaten/Kota se-Jawa Barat secara daring. Mengahadiri acara AKSARA (Akademi Desa Juara) di aula H. Mutawali, Kantor DPM-Desa Provinsi Jawa Barat, Jalan Soekarno-Hatta Kota Bandung, pada hari Rabu, 29-30 September 2021. Kegiatan tersebut berlangsung selama 2 hari. Dengan menghadirkan 3 orang narasumber yaitu Guru Besar IPDN, Fernandes Simangunsong serta Ade Julius Rizky dan Nyoman Indra dari PT. Brain Capital Indonesia.

Perwakilan peserta, Kepala Desa  Gelar Pawitan Kecamatan Cidaun Kabupaten Cianjur, Heri Kuswanto S.Sos.I mengungkapkan Desa kami perwakilan dari katagori desa tertinggal menurut indeks desa membangun, karena insfakstruktur, kondisi ekonomi, kesehatan dan akses pendidikan belum memadai. Dari materi yang disampaikan narasumber sangat luar biasa, ada inspirasi dan motivasi untuk memajukan bumdes, menggali potensi yang ada. Seperti hasil bumi kapulaga, gula aren, cengkih dan beras, semuanya akan dikembang.

Selain itu karena desanya memiiki keasrian dan nilai tempat wisata agro. Rencana kedepannya kami buat konsep saung itu jadi tempat ngopi pengunjung, bukan hanya yang selama ini dijadikan tempat istirahat saja.

Masih banyak potensi lain diantaranya bidang peternakan. Misalnya hewan ternak kambing semua laku dijual mulai dari kotoran sampai daging. Agar memudahkan mereka berternak kami akan buat makanan prementasi hewan ternak yang akan mendukung pertumbuhan ekonomi rakyat. Namun ada hambatnya saat ini seperti akses internet untuk komunikasi sulit, lalu transfortasi kendaraan roda 4 juga terkendala. Perihatin juga dampaknya kalau ada yang sakit harus dibawa pake sarung yang ditalikan ke kayu dan digotong warga. PLN juga belum masuk ke kampung-kampung sehingga saat ini hanya memanfaatkan kincir tradisional untuk kebutuhan listriknya. Karena masalah-masalah itulah banyak warga yang enggan atau tidak betah tinggal di desa.

Saat ditanya jumlah kebutuhan anggaran untuk membangun desanya dan total APBDesnya. Kalau dicermati agar desa ini menjadi kekuatan ekonomi yang sering dikampanyekan nawacita presiden untuk membangun dari pinggiran. Seharusnya desa katagori tertinggal harus lebih diperhatikan. Kalau hanya Rp.1.3 Miliar untuk satu tahun pembangunan. Namun desa lain yang katagori mandiri atau maju ada jalan provinsi dan kabupatennya, mereka tetap mendapatkan yang lebih besar. Hal ini sangat tidak merata dan tidak adil. Dan ketimpangan yang seperti itu bukan skala prioritas dalam hal memberikan bantuan bagi desa.

Informasi yang dihimpun koransinarpagijuara.com dari Kades Gelar Pawitan, Heri Kuswanto S.Sos.I yang sempat menjadi guru honorer SD selama  14 tahun. Dan berhasil mengelola sekolah kelas jauh MTs sampai SMK dan mendirikan yayasan pendidikan atau pesantren. Berjuang agar generasi di desanya memperoleh ijazah legal.

Menurutnya saat ini total penduduk desanya 4000 lebih, masuk ke data kependudukan yang tersebar di 37 RT. Lokasi desanya berada di hamparan, peta desa cagar alam. Perputaran uang di desanya sangat kecil, akses ke kota dan ke wilayah lain perlu menghabiskan waktu hampir setengah hari. Sehingga perlu dukungan pemerintah daerah atau pusat untuk mempermudah akses warganya memajukan ekonomi.

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90