Konflik SARA Membawa Nikmat

  • Whatsapp
banner 468x60

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Ungkapan “Sengsara Membawa Nikmat” adalah ungkapan yang agak ramah di telinga kita. Apalagi ada sinetronnya, dibintangi Si Cantik, Dessy Ratnasari asal Kota Sukabumi. Tayang di TVRI pada tahun 1991. Ungkapan “Sengsara Membawa Nikmat” membawa pesan bahwa dibalik kesengsaraan kalau kita sabar, terus berikhtiar dan berpasangka baik pada Ilahi, akan berakhir nikmat.

Lain dengan judul di atas yakni “Konflik SARA Membawa Nikmat”. Ini satu judul yang belum pernah ada sebelumnya. Tapi judul ini Saya sampaikan dalam narasi khusus terkakit perjuangan seorang guru muda yang penuh derita. Kisahnya cukup unik, penuh derita dan bahkan Ia suatu saat karena rindu orangtua dan keluarga besarnya nekat naik kapal barang.

Mengapa naik kapal barang ? Saat itu naik Kapal Pelni tidak mudah dan jadwalnya tertentu. Plus tidak cukup bekal tapi sangat rindu orangtua dan kampung halaman. Ia nekat naik kapal barang. Ia selama tiga hari tiga malam terombang ambing ombak laut. Antara hidup dan mati Ia tempuh demi rindu pada orangtua dan kampung halaman.

Beberapa kali Ia muntah dan hampir tak tahan diperjalanan. Akhirnya Ia sampai juga di kampung halamannya di Jawa Barat. Guru muda karena tugas negara Ia harus berkorban ditempatkan di suatu daerah yang sangat jauh melintasi lautan yang maha luas. Disisi lain Ia pun sangat merindukan dan berharap bisa bekerja dekat dengan orangtua dan keluarga.

Kisahnya dimulai saat seorang guru muda dari pulau Jawa Barat ditugaskan karena ikatan dinas ke wilayah Kalimantan. Seorang sarjana muda bujangan karena tugas negara harus berani meninggalkan kampung halaman dan kedua orangtuanya. Gaji kecil dan ditempatkan di wilayah yang masih asing dengan dirinya tentu penuh tantangan.

Dari hasil wawancara penulis dengan guru tersebut, sungguh unik. Hal unik yang Ia alami diantarnya adalah “terpaksa” mengajar semua mata pelajaran di jenjang SMA. Ia guru pengampu mata pelajaran kimia, tapi disekolah tempat Ia mengajar dan mendidik harus mengajar hampir semua mata pelajaran. Menurutnya saat itu di daerah Kalimantan membutuhkan sejumlah guru dari luar Kalimantan. Terutama dari Jawa.

Dengan gaji kecil senilai Rp 75 ribu per bulan. Ia pun awal-awal tahun tidurnya di sekolah. Bahkan saat orangtuanya meninggal, saat itu sulit alat komunikasi dan trasfortasi. Kabar wafatnya orangtua lambat diterima. Ia pun baru bisa pulang kampung beberapa hari kemudian setelah orangtua sudah selesai beberapa hari dikebumikan.

Tugas negara sebagai guru, demi Ibu Pertiwi orangtua sendiri saat wafat tidak bisa disaksikan. Begitu banyak liku dan dinamika “seorang guru perantau” di negeri orang. Namun sesuai judul di atas, setelah belasan tahun mengabdi sebagai seorang guru akhirnya ada satu tragedi kebangsaan kita. Terkait konflik SARA.

Di Kalimantan saat itu ada konflik SARA antara Suku Madura dan Suku Dayak Kalimantan. Sentimen suku dan kekerasan terkait SARA terus terjadi. Bahkan gerakan menolak sarjana pendatang dari luar Kalimantan saat itu mengemuka. Konflik sosial penguatan peran pribumi dan penolakan non pribumi menguat.

Apa yang terjadi kemudian ? Penolakan pada non pribumi dan konflik SARA ternyata membawa kisah lain bagi Si Guru muda Jawa Barat yang memang sudah lama ingin “mudik” ke kampung halaman. Konflik SARA membawa “nikmat” mutasi bagi Sang Guru Jawa Barat. Akhirnya Ia pun “berkat” konflik SARA dan penolakan non pribumi dengan mudah bisa pindah ke kampung halaman Jawa Barat.

Kini Ia sudah bertugas di Jawa Barat berkumpul bersama keluarga dan saudara-saudaranya. Kini Ia pun telah menjadi seorang kepala sekolah terbaik yang terpilih dalam seleksi PSP kementerian pendidikan kebudayaan ristek. Bapak guru ini bernama Amat Aswandi, S.Pd, M.Pd kepala sekolah penggerak SMAN 1 Caringin.

Berakit-rakit ke hulu berenang ketepian. Nampaknya kisah ini dialami sosok Amat Aswandi. Bukan hanya sengsara membawa nikmat, bahkan SARA membawa nikmat. Sengsara membawa nikmat atau SARA membawa nikmat dialami sosok Amat Aswandi. Seorang guru muda yang awal pertama ditugaskan penuh derita, kerinduan pada orangtua dan kisah menegangkan.

Pengabdian dan perjuangan itu “sengsara” yang akan membawa nikmat. Rezeki dan keberkahan punya jodohnya, dan bisanya berjodoh pada orang-orang ulet dan berprestasi. Sosok Amat Aswandi adalah contoh perjuang pendidikan yang berbuah keberkahan. Buah berkah jatuh tak jauh dari orangnya.

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90