Nilai Pengabdian Guru Honorer

  • Whatsapp
banner 468x60

Oleh : Dr.Dudung Nurullah Koswara,M.Pd.
(Dewan Pembina PGRI Dan Kepala SMA Penggerak)

Pengalaman menjadi guru honorer, guru bantu sementara (GBS), belasan tahun menjadi guru PNS dan sampai saat ini menjadi aktivis PGRI, membuat Saya mengenali suka duka entitas guru. Terutama guru-guru honorer yang sudah lama mengabdi, sangat Saya kenali.

Saya saat ini mengabdi sebagai kepala SMA penggerak, kekuatan guru honorer masih yang utama. Jumlah guru honorer di sekolah Saya lebih banyak dari jumlah PNS. Mereka adalah penopang sukses layanan pendidikan. Tanpa mereka sekolah bisa bubar.

Tanpa entitas guru honorer yang jumlahnya di seluruh Indonesia sekitar 1 jutaan, anak didik bisa terlantar. Diksi learning loss gegara Covid-19 saat ini, sebenarnya bisa terjadi sejak Indoensia merdeka bila guru honorer tidak hadir menolong negara.

Bila semua guru honorer di Indonesia mogok, tidak melayani anak didik dan saat PTMT tidak masuk maka jutaan anak didik akan terlantar. Negara berutang pada entitas guru honorer karena mereka dalam “kesengsaraan” tetap berusaha mensejahterakan anak didiknya.

Bila semua guru honorer dari dulu dan saat ini berhenti mengajar dan mendidik, luring dan daring maka layanan pendidikan di Indonesia akan lumpuh. Learning loss benar-benar akan terjadi ! Guru honorer punya etika, moral dan mencintai anak didik.

Ia mengutamakan dedikasi bukan mogok. Namun pemerintah harus waspada. Ada pepatah yang mengatakan, “Sabar itu ada batasnya”. Bagaimana bila suatu saat mereka semua mengundurkan diri ? Atau bisa jadi suatu saat ada kekuatan tokoh penggerak organisasi guru yang akan membangkitkan dan mempersatukan mereka untuk bergerak melawan ?.

Ada tiga kekuatan yang harus berdaya dan bersama dalam mensukseskan pendidikan dan menyelamatakan nasib entitas guru honorer.

Pertama, pihak pemerintah benar-benar harus sangat afirmatif pada semua guru honorer yang sudah lama mengabdi. Utamakan nilai dedikasi bukan hanya hasil tes !.

Dahoeloe pahlawan pejuang kemerdekaan itu tidak dilihat ijazah dan nilai akademiknya. Namun dilihat warna darahnya, darah merah putih. Para pahlawan saat ini adalah guru honorer diantaranya. Darah mereka merah putih. Mereka berjuang melayani anak didik walau Ia sendiri hidupnya terpuruk, status atau pun ekonomi.

Kedua, semua guru honorer pun harus benar-benar terus belajar dan tetap dedikatif. Kualitas guru honorer harus terus ditingkatkan. Adaptasi terhadap tuntutan perubahan. Tuntutan anak didik di ruang kelas dan ruang maya harus dilayani.
Kekuatan dedikasi guru honorer tetap dipertahankan.

Nilai dedikasi mereka harus sangat dihargai! Nilai manusia itu bukan di intelektualnya semata, melainkan disisi dedikasinya. Bukan siapa yang paling pinter tapi siapa paling bermanfaat ?.

Bisa jadi ada sarjana baru, pintar dan wow. Tapi Ia belum pernah mengabdi dan memberikan keringatnya pada negara. Darahnya belum merah putih. Bisa jadi darahnya masih darah pragmatis.
Harga manusia ada di manfa’at bukan di kekuatan akademik semata. Harga sarjana pendidikan yang sudah lama mengabdi adalah istimewa, harus diutamakan.

Ketiga, kekuatan organisai profesi guru. Zaman Dr. Sulistiyo (Ketua Umum PB PGRI) semua guru honorer merasa punya Bapak dan kekuatan luar biasa. Sekitar 1.1 juta guru honorer jadi PNS. Dr.Sulistyo adalah mantan guru SD dan benar-benar merasakan derita guru honorer.

Para pengurus organisasi guru yang ada di Indonesia harus bersatu padu memperjuangkan nasib guru honorer. Sejumlah video yang viral terkait dinamika guru honorer yang ikut seleksi PPPK cukup membuat kita ngilu. Air mata sembab menetes. Siapa yang salah ? Semua harus bertanggung jawab !.

Era Dr.Sulistiyo saat menjadi Ketua Umum PB PGRI sangat heroik, laki banget membela semua guru honorer. Para guru khususnya anggota PGRI merindukan pemimpin baru di PGRI yang bisa turun ke jalan (demo) dan bisa pula merapat dekat memberi solusi pada pemerintah. Bukan oposisi !.

Dr.Sulistiyo demo ok ! Kolaborasi pun ok ! Terbukti Ia sangat dekat dengan Presiden SBY saat itu. Kini bagaimana organisasi profesi guru di Indonesia ? Nampaknya tidak ada yang menonjol. Demo tidak dan mesra pun tidak dengan pemerintah. Tanggung dan menggantung.

Semoga pemerintah, entitas organisasi profesi guru dan guru honorer di seluruh Indonesia menuju lebih kolaboratif. Pemerintah afirmatif cius, organisasi profesi “galak” mengawal dan entitas guru honorer terus belajar meningkatkan kapasitas diri. Guru terbaik ada di nilai pengabdian dan terus belajar.

Ingat ! Anak didik adalah prioritas utama dan nilai tertinggi manusia di semua negara. Anak didik adalah pelanjut masa depan. Pemerintah, organisasi profesi guru dan guru honorer hadir demi mereka. Mereka para pewaris negara. Guru honorer wajib dimartabatkan demi martabat anak didik di masa depan.

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90