Transformasi Guru Abad 21

  • Whatsapp
banner 468x60

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Prof.Dr.Bibin Rubini, Rektor Universitas Pakuan Bogor mengatakan bahwa keterampilan guru abad 21 ada enam. Pertama critical thinking, kedua creatifity, ketiga collaboration, keempat communication, kelima computational logic dan keenam compassion.

Keenam keterampilan guru abad 21 ini harus dimiliki para guru. Anak akan kritis, kreatif, kolaboratif, komunikatif, komputerize dan kompasional tergantung gurunya. Ungkapan bijak mengatakan, “Anak didik mengikuti gurunya”.

Menjadi guru hanya mengajar dan menyampaikan informasi semata akan ditinggalkan anak. Ungkapan “Guru tak bisa digantikan” adalah ungkapan yang debatable. Guru faktanya bisa digantikan mesin bila Ia hanya “informan” pengetahuan.

Google dan sejumlah aplikasi informatif lainnya jauh lebih mudah difahami anak dan fleksibel dibanding guru biasa Si Tukang Ngajar. Apalagi gurunya lelet dan lola. Lelet selalu terlambat datang ke sekolah, ke ruang kelas atau ke ruang virtual. Lola selalu lambat melayani anak didik.

Era abad 21 menurut Robert B Tucker adalah abad kecepatan. Lebih lengkap Ia mengatakan pembelajaran abad 21 harus serba cepat, nyaman, terjadi gelombang generasi, menawarkan banyak pilihan, menawarkan ragam gaya hidup, terkait kompetisi harga, mencari nilai tambah, mengutamakan pelayanan pelanggan, teknologi sebagai andalan dan memberi jaminan mutu.

Bila entitas guru mayoritas lelet dan lola tidak menutup kemungkinan akan digantikan oleh guru mesin, mesin guru. Bisa jadi suatu saat ada robot boneka guru yang smart dan disukai anak didik. Atau ada aplikasi hologram guru pintar yang bisa menjawab semua harapan anak didik.

Faktanya bisa jadi bahwa kehadiran guru Si Tukang Ngajar yang intruksional dan formalistik di ruang kelas. Hanya hadir di kelas atau di ruang virtual tapi tidak menarik dan tidak diperhatikan anak didik. Apalagi menjadi model atau teladan. Mengapa? Karena gadget yang ada di tangan anak didik jauh lebih menarik dan smart.

Mendesak ! Wayahna kata orang Sunda bahwa guru abad ini harus punya keterampilan kritis, kreatif, komunikasi, kolaborasi, komputer dan kasih sayang yang baik. Guru saat ini benar-benar dibuat repot karena harus “berlari-lari” menjawab tuntutan perubahan zaman dan tuntutan regulasi.

Transformasi profesionalisme guru menjadi sebuah keniscayaan. Bertransformasi atau ditinggal anak didik ? Bertransformasi atau digantikan robot guru ? Dalam sebuah webinar Saya katakan waspada ! Dihadapan anak didik ada tiga tipe guru.

Apa tiga tipe guru itu ? Pertama guru Si Tukang Ngajar. Kedua guru Pengajar dan pendidik. Ketiga guru idola. Nampaknya dihadapan anak didik guru pengajar dan guru pendidik saja sudah kurang menarik. Dibutuhkan guru-guru unik, khas, multitalenta dan menginspirasi anak didik. Itulah guru idola.

Guru yang penuh kasih sayang namun menginspirasi sangat dibutuhkan. Guru yang punya hati bagi anak didiknya dan punya “realitas fiktif” imajinatif yang mampu membawa setiap anak didiknya terbang pada satu dimensi sensasi yang Ia akan alami pada masa depan. Di era disruptif dibutuhkan guru-guru disruptif.

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90