Guru Honorer Penggerak Jadi ASN

  • Whatsapp
banner 468x60

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Dewan Penasehat PGRI)

Dalam video yang beredar Mendikbud Ristek Nadiem Makarim menyatakan, “Guru honorer 20 persen yang masuk guru penggerak pastinya akan difasilitasi menjadi ASN”. Segera mendapatan status ASN dan kesempatan untuk berakselerasi pada posisi tertinggi bila lulus seleksi guru penggerak.

Nadiem Makarim berulang-ulang mengatakan terkait adanya afirmasi dan akselerasi status dan karir bagi entitas guru penggerak. Ini sangat baik bila benar dan serius akan terus difasilitasi agar setiap guru penggerak menemukan status dan karir terbaiknya. Faktanya menjadi guru penggerak tidaklah mudah. Butuh niat baik, kemampuan baik dan kecakapan adaptatif.

Terutama guru honorer yang lolos seleksi guru penggerak “wajib” di ASN-kan. Mengapa tidak? Sejumlah 20 persen guru honorer yang terseleksi di program guru penggerak adalah guru honorer terbaik. Segera ASN kan mereka pasca sukses dalam giat menjadi guru penggerak. Nadiem Makarim mengatakan para guru penggerak adalah “Gurunya Para Guru”.

Bisa dibayangkan bila guru honorer penggerak saat bertugas menjadi penggerak dan pengimbas di entias ASN di satuan pendidikan, tentu akan ada kendala psikologis. Kendala psikologis bagi semua pihak. Masa guru ASN dimbas oleh guru honorer ? Masa guru honorer menjadi gurunya guru bagi entitas ASN? Masa guru ASN narasumbernyan guru honorer ? Guru ASN tidak enak body dan guru honorer pun sama.

Benar rencana Nadiem Makarim meng ASN kan para guru honorer penggerak adalah wajib dan segera. Plus jangan lupa Nadiem Makarim pun segera afirmasi para guru honorer kategori paling tua dan lama mengabdi. ASN kan mereka! Mereka adalah pahlawan dan guru penggerak sebenarnya. Mengapa mereka dianggap guru penggerak sebenarnya ? Karena mereka berani bergerak tiada henti puluhan tahun melayani anak didik, walau status masih honorer dan ekonomi morat marit.

Guru honorer yang lolos sebagai guru penggerak program Kemndikbud Ristek wajib di ASN-kan dan guru honorer tua “penggerak” yang sudah lama mengabdi tapi tidak secara formal masuk sebagai guru penggerak. Guru penggerak sebenarnya adalah guru honorer tua yang lama mengabdi di sekolah pinggiran, sekolah dikaki bukit, sekolah terluar dan tersembunyi di sekolah kota.

Memuliakan guru honorer yang prestatif dedikatif adalah utama. Kecuali para guru honorer pemalas hanya cari kerja tapa prestasi memang menjadi masalah. Sama dengan guru PNS yang santai bekerja tanpa prestasi. Guru dedikatif prestatif harus jadi perhatian pemerintah. Dari guru penggerak dalam program formal guru penggerak dan guru penggerak non formal yang sudah lama mengabdi anak didik terlayani dengan baik. Keduanya harus diakselerasi jadi ASN.

Bagi guru PNS penggerak teruslah bergerak karena ada “janji” Nadiem Makarim akan menjadikan entitas PNS guru penggerak mendapatkan kemudahan menjadi : 1) kepala sekolah, 2) pengawas sekolah, 3) aseseor dan 4) gurunya para guru. Terutama “janji” karir kepala sekolah akan diambil dari jalur guru-guru penggerak. Semoga ini bisa menjadi bagian dari karir para guru terbaik.

Bukti sejarah memperlihatkan tidak sedikit guru penggerak dan kepala sekolah penggerak sebeum ada program penggerak sudah b ergerak luar biasa. Bukankah Dirjen Jumeri dan Dirjen Iwan Syahril ada contoh sosok penggerak dan pribadi pejuang pendidikan? Keduanya yang saat ini menjabat di Kemdikbud Ristek adalah “Best Practice” hidup yang bisa menjadi contoh.

Pos terkait

banner 468x60