Anak Pondok Pesantren Tahfidz Guntur Juga Mau Lebaran

Pewarta : Sermon Simanihuruk

Koran SINAR PAGI, PAYUNG,- 1 bulan lebih berlalu pasca terjadinya kebakaran di Pondok Pesantren (Ponpes) Tahfidz Guntur di Dusun Pangkalan Batu, Desa Ranggung, Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan, perlahan bantuan masyarakat mulai berkurang, perhatian masyarakat pun beralih. Tidak lagi kepada ponpes tapi pada kemeriahan menyambut Lebaran Iduladha. Jelas Allah Swt tidak pernah tidur, meski tidak sebanyak bantuan pasca kejadian, pertolongan Allah Swt tetap ada, salah satunya melalui Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Melati Erzaldi.

Pesantren ini memprioritaskan penerimaan anak yatim piatu dan duafa. Usai terjadi kebakaran dan kisah pesantren tersebar, beberapa orang tua membawa anaknya untuk didaftarkan. Namun sayang dengan sarana dan prasarana yang tersedia, hanya dapat menampung paling banyak 65 santri yang terdiri dari 51 santri laki-laki dan 14 santri perempuan. Para santri ini tidak hanya dari dalam daerah saja, beberapa bahkan berasal dari luar kabupaten. Seluruh kebutuhan disediakan gratis, maka tak heran beberapa santri yatim piatu hanya datang dengan baju yang dikenakan saat itu saja.

Bersama anggota TP PKK Babel, Ketua Melati mengunjungi anak-anak didik ponpes untuk memberikan kebahagian dan sebagian bantuan yang tidak terpikirkan oleh orang-orang yang pernah memberikan bantuan ke ponpes. Adab sangat dijunjung tinggi di ponpes ini, sehingga tidak mengherankan jika para santri paham mengenai etika dan tata krama, Senin (19/7/2021).

“Para pengajar di sini kan sangat sopan, sungkan untuk minta apa-apa, padahal dana masih ada di saya. Ketika di ingatkan sama ustazah, saya baru sadar ternyata sudah 5 hari berturut-turut kami makan mi instan. Saya sudah tidak sempat memikirkan perut karena banyak yang masih di urus. Bantuan memang banyak, tapi kadang yang diberi malah sudah ada,” ungkap Uztaz Ahmadi Sofyan atau kerap disapa Abi.

Para donatur kadang memberi bantuan tanpa bertanya kebutuhan pondok terlebih dahulu, akibatnya tak jarang pemberian ini tidak bisa dimanfaatkan. Namun bantuan ini sebisa mungkin dimanfaatkan agar tetap berguna, seperti dibagikan ke warga sekitar.

“Pesan ibu, anak-anak harus hormat sama ustaz-ustazah. Kalian harus saling sayang, semua di sini keluarga, ketika satu ada yang tersakiti maka semuanya merasa tersakiti. Karena kalau berantem bisa mengurangi keberkahan kita semua. Karena itu, kita harus saling sayang, kompak, saling bantu. Jangan bebankan semua kepada ustaz dan ustazah,” ungkap Ketua Melati.

Hanya 3 pengurus yang mengabdikan diri untuk Ponpes Tahfidz Guntur dan biasa menginap, yaitu Ustaz Muhammad Guntur, Ustazah Anjeli, dan Ustazah Dwi. Sedangkan Ustaz Ahmadi Sofyan bolak balik ke rumah untuk membeli keperluan ponpes. Dengan didikan mereka, beberapa anak telah menghafal Alquran. Di usia yang masih sangat belia beberapa anak telah menyelesaikan 3 juz, bahkan salah satu anak yang baru masuk 3 minggu telah selesai menghafal 1 juz Alquran.

Di ponpes ini sulit mendapatkan sinyal, sehingga kontaminasi dunia luar dapat diminimalisir. Ustaz Guntur juga menggunakan speaker Alquran untuk mempercepat hapalan, anak-anak diperdengarkan dengan ayat suci Alquran setiap senggang dan membaca Alquran tiap usai salat wajib. Bahkan, ada anak yang hanya hafal Surah An Nas dan belum lancar membaca Iqro, namun sudah hafal 1 juz. Sehingga tidak jarang jika diperlihatkan dengan cara para santri yang kerap bersenandung asmaul husna ketika sedang bermain bersama.

“Walaupun perjalanannya tidak mudah, tapi ibu senang sekali bisa bertemu anak-anak. Ibu doakan semoga anak-anak bisa lancar mengahfal Alquran, bisa menyematkan mahkota emas kepada orang tua. Karena itu, wajib belajar dengan sungguh-sungguh, hormat sama orang tua di sini. Semoga kalian terus menjadi anak yang soleh dan solehah,” ungkapnya.

Usaha Ustaz Guntur untuk memperkenalkan Islam di lokasi ini tidak mudah, hal ini berawal dari tahun 2017, anak-anak yang masih asing dengan orang luar menjadikan mereka tidak mudah di dekati. Hal ini menjadi tantangan tersediri yang harus dipecahkan solusinya. Ketika anak-anak masih belum tahu apa-apa. Dirinya mulai dengan memperkenalkan doa-doa sehari-hari dilanjutkan dengan mengajarkan wudu dan tata cara salat.

”Harapan saya, kedatangan ibu bukan karena saya, bukan karena pesantren yang habis kena musibah, tapi karena kecintaan ibu kepada Alquran. Sejatinya Allah Maha menggetarkan hati, Maha membolak-balikan hati manusia lewat hapalan Alquran dan senandung Alquran yang terus dilantunkan anak-anak,” ungkap Ustaz Guntur.

Usai berbincang dengan anak-anak, Ketua Melati juga datang ke ponpes bersama Bunda Destri yang kerap mendongeng untuk anak-anak. Tampak, anak-anak tertawa dengan kisah mengenai kodok yang diceritakan.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Melati menyerahkan bantuan berupa sarung bantal, keset kaki, pakaian dalam santri, telur, susu, alat salat untuk anak-anak dan dewasa. Tidak lupa, mengingat besok merupakan hari lebaran Iduladha, Ketua Melati juga menyerahkan beberapa loyang kue untuk para santri.

Selanjutnya, Ketua Melati dan anggota menuju Dusun Pangkalan Batu untuk melihat pemukiman warga dan lokasi pertama didirikan ponpes. Ketika tiba di lokasi, Ketua Melati juga memantau persiapan pembangunan tenda untuk salat Id Iduladha dan hewan kurban untuk menyambut lebaran.

(5)