Khotib Al-Amin Ajak Birrul Walidain Seperti Sa’ad Bin Abiwaqqos & Uwais Al Qorni

Pewarta: Dwi Arifin

Koran Sinar Pagi (Kabupaten Bandung)-, Berbakti pada orang tua merupakan amal yang diperintahkan Alloh setelah bertauhid kepadanya. Sehingga antara hubungan baik kepada Alloh harus berlanjut dengan berbuat baik pada orang tua. Hal ini menjadi bahasan khusus Ustadz Acep Hermawan saat menjadi Khotib jum’at masjid Al-Amin Margahayu.

Pada awal isi khotbahnya Ustadz Acep Hermawan membacakan surat Al Isro dan Lukman yang berisi perintah beribadah kepada Alloh lalu berbuat baik pada orang tua.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” (Q.S Al- Isro ayat 23)

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Lukman ayat 13-14)

Beberapa ayat diatas kalau dicermati tidak bisa dipisahkan atau selalu bergandengan, berhubungan antara perintah beribadah kepada Alloh dan berbakti pada orang tua. Dulu ada sahabat Nabi namanya Sa’ad bin abiwaqqos, dan Uais Al Qorni. Keduanya menjadi teladan untuk berbakti pada orang tua.

Saad bin Abi waqqas merupakan anak yang patuh dan menjadi palayan kebutuhan harian ibunya. Walaupun ibunya saat itu belum masuk islam, yang menarik dari kisahnya. Ibunya tidak suka, kalau Sa’ad masuk islam, ibunya mengancam tidak akan makan dan minum selama 3 hari hingga akhirnya sang ibu lemas. Menjawab sikap ibunya, Saad menyampaikan bahwa walaupun ibu punya nyawa banyak dan digunakan untuk itu, semuanya tidak akan merubah keimanan kepada Alloh. Kisah itu mengingatkan kita, bahwa untuk hubungan keimanan harus dipertahankan, namun tidak boleh karena beda iman menghalangi kita berbakti pada orang tua.

Yang kedua kisah teladan Uwais Al Qorni, beliau seorang sahabat nabi seperti Saad bin Abiwaqos yang do’anya dikabulkan dan dijamin masuk Surga. Uwais merupakan penduduk Yaman yang senantiasa menjaga merawat ibunya yang lumpuh. Suatu saat Uwais diminta untuk mengantar ibunya berhaji dari Yaman sampai Mekah hingga mengelingi kabah dalam proses ibadah haji. Ibunya digendong Uwais. Hal itu menjadi betapa istimewanya keteladan Uwais saat berbakti pada orang tua.

Dan yang ketiga ada kisah dari tiga pemuda saat sedang berada di gua. Namun tiba-tiba lubang pintu keluar tertutup batu besar dan akhirnya. Ada diantara mereka yang berdoa berharap jika berhasil keluar dari gua, maka akan segera merutinkan amal baiknya memberikan minuman susu pada ibunya. Dan akhirnya batunya bergerak membuka pintu gua. Dari kisah ini kita diajarakan untuk memohon sesuatu dengan melengkapi berbakti pada orang tua.

Ustadz Acep menyimpulkan semoga dengan kisah-kisah yang tadi bisa menjadi sumber kesadaran. Bagi kita yang masih memiliki orang tua berupaya maksimal berbakti pada orang tua. Disaat zaman sekarang banyak anak-anak yang tidak punya sopan santun dan tak peduli pada orang tuanya.

(12)