Pemimpin Puja-Puji Anti Kritik

Oleh : Caca Danuwijaya
(Guru SMA, Anggota PGRI)

Sebagai guru SMA aktvis PGRI Saya khwatir masa depan sebuah organisasi bila Sang Pemimpin PGRI di semua jenjang lebih menyuaki puja-puji dibanding kritik. Dalam jaringan PGRI se Indonesia yang Saya pantau sekitar 3 tahunan, banyak hal yang harus diperbaiki. Terutama tradisi puja-puji yang terlihat lebay dan lucu.

PGRI harus menjadi organisasi transformatif dan adaptatif menjawab tantangan alam. PGRI jangan sampai menjadi organisasi yang konservatif feodalistik. Mental puja-puji, manut-manut, paduan suara dan anti kritik sudah masa lalu. PGRI harus berparadigma baru yakni moderat, kritis dan humanis. Budaya kritis dan budaya dialogis harus lebih mengemuka. Bukan budaya feodalis otoriter.

Sebagai contoh kebiasaan pujian pada Ketua Umum PB PGRI terlihat lebay. Namun disisi lain minus kritik dan masukan yang objektif. Ketua Umum PB PGRI dan para ketua lainnya adalah “pelayan” anggota. Wajib dikritik! Misal saat Ketua Umum PB PGRI dua kali melakukan kesalahan fatal terkait PP yang salah disampaikan.

Kesalahan Ketua Umum diulang dua kali. Pertama dalam release resmi PB PGRI dan kedua dalam berita Koran Kompas cetak. Dalam jaringan WA organisasi hanya Saya yang berani mengkritik dan memberi “teguran” pada Ketua Umum PB PGRI yang salah dua kali memberikan informasi pada publik. Ini memalukan bagi organisasi besar sekaliber PGRI.

Tidak ada satu pun di jeringan WA organisasi yang mengkritik kesalahan Ketua Umum saat salah dua kali menjelasakan tentang PP No 19 Tahun 2003.

Dua kali Ketua Umum PB PGRI salah menjelaskan PP 19 Tahun 2003. Harusnya sekaliber Ketua Umum PB PGRI sebagai organisasi guru terbesar di Indonesia tidak salah membaca dan mengutif. Apalagi sampai diulang dua kali.

Ketua organisasi besar yang lebih banyak dipuja puji dan minus kritik sangat bahaya bagi masa depan organisasi. Pribadi yang emosional, bangga dipuja puji namun reaktif saat dikritik sangat bahaya bagi keberlangsungan organisasi. Sebagai guru, sebagai aktivis PGRI dan sebagai anggota yang tercatat di ranting dan membayar iuran khawatir melihat periode kedua PB PGRI makin banyak masalah.

Para pemimpin yang baik adalah para pemimpin yang “sudah selesai dengan dirinya” maka Ia bisa menyelesaikan masalah di luar dirinya. Bila Sang Pemimpin urusan diri ada masalah dan belum selesai sangat berisiko bagi sebuah organisasi. Bila Sang Pemimpin attitudenya bermasalah sangat berisiko bagi keberlangsungan organisasi.

Apalagi bila sebuah organisasi itu mengelola keuangan karena menarik iuran dari anggota. Ada uang di organisasi yang dihimpun dari anggota PGRI di seluruh Indonesia. Ini harus benar-benar dimanfaatkan untuk keberlangsungan sukses organisasi. Dahulu Dr. Andi Asrun mantan pengurus PB PGRI dan tokoh yang dekat dengan guru honorer pernah menyoal keuangan PB PGRI.

Dinamika dan Friksi internal PB PGRI sejak periode pertama dan sampai sekarang di periode ke dua masih terus berlangssung. Kemunduran dua Ketua PB PGRI dan satu Ketua PGRI level Kabupaten di periode ke dua Ketua Umum PB PGRI saat ini adalah sebuah fakta sejarah. PGRI sebagai organisasi profesi terbesar yang menarik iuran dari seluruh guru anggota PGRI harus lebih baik.

Tulisan ini adalah buah diskusi Saya dengan rekan guru aktif lainnya sesama anggota PGRI. Para pengurus PGRI adalah pembawa amanah anggota. Plus pembawa aspirasi, pembawa iuran anggota dan pembawa misi memperjuangkan martabat guru bukan martabat diri karena ditempat lain sulit mendapatan martabat. PGRI sejati tercatat di ranting dan membayar iuran. Plus saat sudah bukan pengurus tetap bersama guru dan membayar iuran.

(23)