Pemilik PGRI Dan Memiliki PGRI

Oleh : Caca Danuwijaya
(Guru SMA, Anggota PGRI)

PGRI adaIah organisasi profesi guru tertua dan terbesar di Indonesia. Banyak kisah heroik dan jasa PGRI pada nasib dan martabat guru. Terutama era Ketua Umum Basyuni Suriamiharja, Mohamad Surya dan Sulistiyo. Ketiganya berasal dari guru sekolahan. Mereka merasakan bagaimana dinamika dan pahit manis menjadi seorang guru.

Para pemimpin PGRI yang tercatat dari ranting dan membayar iuran PGRI adalah anggota pemilik PGRI. Bisa jadi ada pengurus PGRI di tingkat atas tapi tidak pernah tercatat di ranting mana dan iuran dimana? Lebih parah lagi bila tidak pernah menjadi guru SD, SMP, SMA sederajat. Ini akan sangat aneh mengurus organisasi guru tak pernah jadi guru.

Mudah membedakan pengurus pemilik PGRI dengan pengurus yang ingin memiliki PGRI. Pengurus pemilik PGRI pasti tercatat di ranting dan membayar iuran. Pengurus “memiliki PGRI” biasanya tidak punya ranting dan tidak bayar iuran. Kecuali saat ingin jadi pengurus buru-buru bermodus membayar iuran. Bahkan membuat KTA dadakan.

Pengurus pemilik PGRI sekalipun sudah bukan lagi pengurus Ia akan tetap membayar iuran dan tercatat di ranting PGRI. Ia adalah guru aktif yang masih mengajar di satuan pendidikan dan membayar iuran. Beda dengan pengurus “memiliki PGRI” mereka hanya menjadi pengurus yang ingin “memiliki PGRI”. Saat tak menjadi pengurus lagi pasti bingung.

Mengapa bingung ? Bayar iuran dimana ? Tercatat di ranting mana ? Di tempat kerjanya pun tidak ada anggota PGRI dan ranting PGRI. Para pengurus PGRI yang hanya ingin memiliki di tempat kerjanya pun tidak ada anggota PGRI. Para pengurus PGRI sebaiknya datang dari mantan guru, guru aktif atau pun pernah menjadi pengurus di level bawah sebelumnya.

Mengapa para pengurus PGRI harus pernah menjadi guru ? Agar Ia punya kebatinan guru, tahu tentang dunia guru. Mengapa Ia harus pernah menjadi pengurus di level bawah sebelumnya ? Agar Ia memiliki pengalaman dan wawasan terkait dinamika organisasi. Bila langsung jadi pengurus tanpa pengalaman dari bawah bahaya ! Ia akan mengalami masalah ! Atau menebarkan konflik internaI.

Bila pengurus organisasi profesi guru tidak pernah menjadi guru pasti Ia hanya meraba-raba tentang guru atau hanya menggunakan tenaga dan pikiran orang lain dalam melayani guru. Bahkan bukankah PB PGRI dalam kepemimpinan yang sekarang pernah di demo guru honorer ? Kok organisasi profesi guru malah di demo guru ? Bisa jadi karena Ketua Umumnya tak memiliki rasa guru karena tak pernah menjadi guru.

Hanya di periode Ketua Umum sekarang Gedung Guru PB PGRI pernah didemo para guru honorer. Tidak ada satu pun organisasi profesi guru kantornya di demo guru honorer. Hanya di PB PGRI periode Ketua Umum yang sekarang Gedung Guru PB PGRI didemo sejumlah guru honorer. Semoga ini tidak terjadi lagi. Bahkan tuntutan Ketua Umum mundur pun pernah termuat dalam media siendo.com, Jpnn.com dan indensiainside.id.

Pengurus PGRI yang tidak pernah menjadi guru, tidak tercatat di ranting, tidak bayar iuran dan tidak pernah menjadi pengurus di level bawah sebelumnya berisiko mendatangkan konflik dan tak mengerti urusan guru dan organisasi. Hidup Guru! Hidup PGRI! Solidaritas Yes ! Bila meluncur dari pengurus yang tak pernah jadi guru dan tidak pernah mengurus organisasi guru level bawah sebelumnya, pasti masalah.

Mengapa Basyuni Suriamiharja, Mohamad Surya dan Sulistiyo sukses membawa nama besar PGRI dan nyaris tidak ada konflik internal ? Karena mereka berasal dari guru dan pernah mengurus organisasi guru di level bawah sebelumnya. Semoga dalam kongres PGRI di tahun 2024 benar-benar bisa mendatangkan pemimpin pria mirip Basyuni, Moh. Surya dan Sulistiyo, Semoga !

(132)