Tanda Ibadah Kita Diterima !

Pewarta: Dwi Arifin

Koran SINAR PAGI (Kabupaten Bandung)-, Kadang hati manusia berbolak balik, hal itu secara tidak langsung mempengaruhi  semangat ibadahnya. Sebagian manusia ada yang beribadah saat tumbuhnya semangat, karena kehidupanya penuh dengan kelapangan. Namun ada juga yang menjadi melemah ibadahnya karena hilangnya semangat yang dipengaruhi kondisi kesempitan  hidupnya.  Kondisi tersebut dibahas oleh Ustadz Ruslan Gunawan S.Ag dalam kajian rutin di Masjid Mujahidin Katapang

Ustadz Ruslan saat mengawali dakwahnya menyampaikan sering kita perhatikan sebagian orang hanya rajin ibadah saja di bulan Ramadhan, namun di bulan lainnya kita saksikan mereka malah kosong dari amalan. Ibadah seakan-akan jadi musiman saja. Tempat sujud hanya disentuh di saat bulan suci saja. Seharusnya amal seorang mukmin barulah berakhir ketika ajal datang menjemput.

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin (yakni ajal).” (QS. Al Hijr: 99)

Setelah menyampaikan ayat itu, Ustadz Ruslan membahas ciri-ciri amal yang diterima dalam rangka penghambaan kepada Alloh. Menurut Ibnu Rojab kebiasan shaum sunah setelah shaum ramadhan diantara ciri amal itu diterima. Karena setiap kebaikan Alloh balas dengan kebaikan lanjutannya. Jadi kalau kita ingin melihat tadarus, sedekah, menjemput ilmu, silahturhami dan dakwah. Semua amal ibadah itu diterima atau tidak maka lihatlah apakah amal sholeh itu tetap berlanjut dalam keseharian kita?…

Dalam proses kehidupan ini, kita sebagai manusia sering diuji dengan kesempitan atau kelapangan, pada dasarnya semua itu rangkain program Alloh untuk mendekatkan diri padanya. Maka hati-hati jangan sampai kita beribadah seperti orang munafik mereka ibadah saat lapang, lalu enggan ibadah saat sulit dan ibadahnya cenderung dengan rasa malas.

Ustadz Ruslan lalu pada penghujung ceramahnya menceritakan tentang kisah hafidz qur’an yang ada hubungannya, bahwa setiap kebaikan dan proses ketaatan akan mendatangkan kemuliaan. Pada hari ini saya diundang menghadiri acara pernikahan seorang hafidz qur’an. Calon pengantin laki-laki itu awalnya dari keluarga sederhana, sempat berdagang keliling di Surabaya dan Yogyakarta.

Namun beliau selalu menyempatkan untuk menghafal Al-qura’an dengan bimbingan buku yang membahas cara menghafal Al-quran, belajar otodidak dipandu buku itu. Tak lupa tetap belajar dengan menempuh pendidikan paket B & C, setelah lulus hafalannya dijadikan modal untuk meraih beasiswa kuliah S-1 Sampai S-2. Dan setelah lulus ada seorang pejabat anggota DPRD Cihami yang menginginkan hafidz ini menjadi suami untuk putrinya. Lalu diberilah hadiah pernikahannya berupa rumah, kendaran dan pekerjaan untuk keduannya. Namun tentu bukan berarti seorang berniat menghafal quran untuk kenikmatan dunia. Tetapi memang dia menghafal karena ingin menjadi ahli qur’an. Sehingga Alloh langsung yang memberikan balasan terbaik padanya. Dari kisah itu menyimpulkan bahwa kebaikan akan dibalas kebaikan lagi.

(23)