Wisata Literasi Imajinasi Solusi Saat Pandemi

Penulis: Dwi Arifin (Jurnalis Media Cetak & Online, Duta Baca Daerah)

Kebutuhan manusia untuk berlibur atau bewisata sering disalurkan pada saat libur weekend, hari besar nasional dan libur tahunan. Namun saat ini momen liburan tersebut cenderung dibatasi karena masa pandemi. Pada dasanya liburan bertujuan menyegarkan pikiran dan badan. Tapi sebagian orang kaum akademisi lebih memilih liburan yang sifatnya fokus menyegarkan pikirannya saja.

Wisata imajinasi merupakan liburan yang tak dibatasi waktu dan tempat. Wisata imajinasi yang sangat bergantung kepada kekuatan otak akan terasa manfaatnya jika tersalurkan dengan baik. Mereka yang terbiasa menikmati wisata imajinasi sebagian memilih media bahan bacaan (kitab, buku, koran) atau gambar bergerak seperti video sebagai awal memasukinya.

Bayangkan saja dengan wisata imajinasi kita dapat bertemu secara tidak langsung di alam pikiran dengan orang-orang yang kita kagumi. Mereka hadir dalam pikiran melalui apa yang kita baca. Selain itu kita bisa memilih melihat sejarah dan pembangunan di wilayah lain yang ingin kita tuju. Dan khusus bagi kaum wanita bisa memilih melihat-lihat kuliner terbaru atau terpopuler, lalu mencoba membuatnya. Karena saat kita berwisata tidak terlepas dari menikmati kuliner. Atau kita bisa saja memperlindah lingkungan sekitar, seperti menambah tanaman hiasa di halaman dan menata ruang khusus bersantai. Hal itu akan membangun nuansa indah di rumah dan akhirnya kita lebih memilih liburan di rumah, karena miniatur tujuan wisata ada di sekitar kita. Semua proses wisata imajinasi akan membuat terasa seolah-olah kita benar-benar berwisata dan itu bisa saja lebih membekas dalam pikiran dan menguatkan ketajaman ingatan.

Wisata imajinasi membawa mereka tetap dapat merasakan sensai hiburan untuk dirinya. Mulai dari mengenal sejarah peradaban manusia, tokoh dunia, tempat terindah di daerah dan negara lain. Semuanya dapat dijadikan tujuan dengan modal biaya yang lebih hemat.

Wisata imajinasi kalau dibandingkan dengan wisata lain, cenderung lebih banyak keunggulannya. Karena minimnya resiko, hemat biaya dan kefokusan menyegarkan akal. Wisata langsung biasanya hanya fokus menyegerkan mata, tapi wisata imajinasi fokus menyegarkan bahkan mempertajam pikiran.

Berwisata imajinasi melihat dengan jarak jauh atau secara tidak langsung melalui literasi media bahan bacaan atau video, saat pandemi belum masyur menjadi pilihan masyarakat bawah dan menengah. Tapi bagi mereka yang sudah menikmatinya akan menjadi skala prioritas mengisi waktu luangnya.

(39)