Teori Berjuang Dan Berjuang Teori

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua Pengurus Besar PGRI)

Sangat sulit berjuang dari hati untuk membela nasib guru tapi tak pernah menjadi guru. Bila tak pernah menjadi guru honorer, guru bantu, guru perbatasan, guru pelosok tentu tak mudah merasakan kebatinan guru. Bangsa Indonesia bersatu mengalahkan kolonialisme Belanda diantaranya karena merasakan penderitaan yang sama. Derita, rasa dan kebatinan yang sama melahirkan militansi, keseiramaan dan ketersambungan dengan semua pejuang kebangsaan.

Bung Karno merasakan langsung derita dari penjara ke penjara. Apa yang disuarakan Bung Karno adalah apa yang Dia alami sendiri sebagai bangsa yang dijajah dan dideritakan kaum kolonialis. Bung Karno terkenal sebagai orator, Ia telinga besar dan penyambung lidah bangsa Indonesia. Apa yang disuarakan Bung Karno bukanlah teori namun pengalaman sendiri sebagai bangsa yang terjajah dan teraniaya.

Begitu pun dalam organisasi profesi guru, pengalaman pernah menjadi guru PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, SLB adalah sebuah “best practice” bagi para pejuang nasib guru di organisasi profesi guru. Berjuang membela martabat guru bukanlah teori. Bila berorasi, bernarasi dan berdiplomasi sebagai pejuang guru namun tak pernah menjadi guru tentu tak mudah. Hanya orang-orang luar biasa yang berjuang membela nasib guru dan tak pernah menjadi guru.

Apresiasi pada tokoh atau pengurus organisasi profesi guru tapi tak pernah menjadi guru. Luar biasa bila menjadi pengurus organisasi profesi guru tak pernah menjadi guru atau tak pernah menjadi pengurus organisasi profesi guru sebelumnya. Mendadak bela guru atau mendadak jadi pengurus organisasi profesi guru padahal sebelumnya tidak pernah menjadi guru dan langsung menjadi pengurus adalah sangat istimewa. Ini bisa jadi semacam “mualaf” organisasi.

Akan lebih unik lagi bila ada pengurus PGRI tidak pernah tercatat di ranting mana? Iuran di ranting mana ? Tempat tugas di satuan pendidikan mana ? Apakah di tempat tugasnya ada anggota PGRI ? Datang entah dari mana dan bisa jadi pengurus. Ini sangat “istimewa” sangat ruarrr biasa! Sejatinya para pengurus PGRI adalah orang-orang yang tercatat di ranting, membayar iuran dan punya pengalaman dan “derita” pernah menjadi pengurus di level bawah. Hal ini penting agar rasa guru, rasa organisasi dan militansi benar-benar genuine bukan modus!

Saya beri judul tulisan ini dengan Teori Berjuang Dan Berjuang Teori. Teori berjuang dan perjuangan itu mesti dari hati. Militansi itu dari hati berbasis pengalaman dan perjalanan kehidupan terkait entitas nasib guru yang diperjuangkan. Bila kita tidak mengalami menjadi guru dan instan dalam organisasi maka perjuangan itu bisa saja hanya Berjuang Teori Hanya diplomasi, narasi dan modusi.

Bisa terjadi mengurus organisasi profesi guru berlatar modus, ingin menjadi apa atau ingin mendapatkan apa ? Lebih bahaya lagi bila mengurus organisasi profesi guru tapi faktanya menguras organisasi dibelakang layar. Misal menggunakan fasilitas organisasi untuk kepentingan pribadi dan keluarga. Bahkan lebih unik lagi bila kepentingan keluarga dibiayai oleh organisasi profesi guru. Jangan sampai ini terjadi!

PGRI akan terus tergerus dan kurus bila para pengurusnya malah menguras atau mencari nafkah di dalamnya. PGRI adalah organisasi perjuangan martabat guru bukan mencari martabat atas nama guru. Salut dan bangga pada para tokoh yang tak pernah menjadi guru tapi siang malam mati-matian memperjuangkan martabat guru. Sebaliknya disayangkan para guru yang apatis dan tak peduli organisasi profesi guru padahal Ia adalah guru. “Hai para guru kemana aja loe ?”

Terutama para guru SMA/SMK mari kita “mudik” kembali ke kampung halaman entitas guru di organisasi PGRI. Back to PGRI! Entitas guru SMA/SMK mayoritas kurang militan di organisasi profesi guru. Kalah dedikatif dibanding guru SD. Padahal “energi” entitas guru SMA/SMK sangat potensial untuk menggerakan kekuatan kolektivitas organisasi guru. Bila semua kepala sekolah, pengawas sekolah dan guru-guru SMA/SMK aktif agresif di PGRI tentu akan wow.

Saya guru SMA dan kepala SMA, mengajak sahabat juang entitas guru mari berjuang satukan kebersamaan dalam rumah besar PGRI. Guru PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, GTK, pensiunan guru berkolaborasi seirama dalam rumah perjuangan PGRI. Bersama kita bisa! Kolaboratif, sinergi mengabdi bersama tanpa modus! Kecuali berjuang meningkatkan martabat guru Indonesia. Bila perlu dan karena terpaksa demo pun jadi bagian perjuangan. Merdeka belajar itu baik dan guru merdeka tentu lebih baik !

(14)