Membaca Pesan Podcast Jokowi – Nadiem

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Kepala SMA Penggerak Dan Ketua PB PGRI)

Melihat dan mendengarkan podcast Jokowi dan Nadiem menarik untuk dicermati. Terutama bagi ekosistem pendidikan dan para praktisi pendidikan. Guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, kadisdik, para kepala daerah dan tentu para pengurus organisasi profesi guru, terutama PGRI. PGRI mesti terdepan dalam “melahap” informasi Pendidikan.

Banyak hal yang bisa ditangkap pesan dari podcast antara Presiden Jokowi dengan Mendikbudristek Nadiem Makarim. Sebelum Saya menjelaskan pesan terucap dari Jokowi dan Nadiem, Saya tangkap pesan khusus dari podcast ini. Apa ? Menjelasakan pada publik bahwa Nadiem Makarim yang banyak dikritik dan dianggap tak kompeten, ternyata dihadapan Jokowi masih dianggap istimewa.

Kritik dan prediksi Nadiem akan direshuffle ternyata tidak. Malah Ia mendapatkan “berkah” tambahan jabatan. Mendikbudristek adalah dua jabatan kementerian yang kini ditangan Nadiem. Dalam buku yang Saya susun berjudul “Nadiem Bintang Milenial” tahun 2019, ternyata faktanya sampai hari ini Ia masih bintang milenial. Nadiem sampai saat ini masih juara di entitas kementerian.

Nampaknya sampai jabatan Presiden Jokowi habis periode Nadiem akan tetap berkibar. Itulah kehidupan banyak dinamika yang bisa terjadi. Nadiem tetap sebagai bintang mulai saat pengangkatannya sebagai Mendikbud sampai saat ini menjadi Mendikbudristek. Banyak yang menginginkan jabatan Menteri Pendidikan, namun tentu Nadiem adalah pendukung dan jelas-jelas setia pada Jokowi.

Tidak sedikit orang awalnya tidak mendukung dan berdiri tegak menolak Jokowi, kini malah membungkuk-bungkuk ingin dan berharap jabatan Menteri atau wakil Menteri Pendidikan. Jokowi sangat tahu “portofolio” setiap pendukung dan penolaknya. Jejak “digital sejarah” organisasi atau pribadi yang tidak mendukung Jokowi tentu terarsipkan dengan baik. Nadiem memang masih bintang dihadapan Jokowi sejak sebelum Pilpres.

Kembali ke pesan podcast. Diantara pesannya di momen Hardikanas adalah betapa pentingnya kita memahami substansi dan spirit Ki Hajar Dewantara. Memerdekakan manusia, menghormati kemerdekaan manusia adalah hal yang mesti dibangun di dunia pendidikan kita. Merdeka Belajar adalah terjemahan pesan Ki Hajar Dewantara. Merdeka adalah diksi penting dalam dunia Pendidikan.

Selanjutnya Nadiem mengatakan terkait PSP (Program Sekolah Penggerak) dikaitkan dengan falsafah Ki Hajar Dewantara. Sekolah Penggerak berada di depan memberi pengimbasan dan keteladanan prestatif bagi sekolah lain. Sekolah level tengah melakukan transformasi layanan pembelajaran di ruang-ruang kelas dengan baik. Sekolah pinggiran, pedesaan dan level bawah harus didorong dan harus minta bantuan pada pemerintah, pemerintah daerah agar tidak tertinggal.

Jokowi menghendaki anak merdeka, mau menjadi apa pun. Tinggalkan cara-cara lama yang tidak kontekstual dan tidak dibutuhkan lagi oleh anak didik. Digitalisasi, hybridisasi dan penggunaan sejumlah plaform yang efektif untuk proses pembelajaran anak didik harus terus ditingkatgalakan. Jokowi pun menghendaki semua anak dapat belajar dengan baik. Anak kota, anak desa pinggiran, sama punya hak mendapatkan layanan pendidikan terbaik.

Nadiem pun mengatakan pergantian UN menjadi AN yang mengukur literasi, numerasi dan karakter anak didik adalah hal penting. Bahkan Ia mengatakan perundungan, intoleransi dan jenis jentik-jentik radikalisme bisa dipetakan. Akan ada Big Data sekolah terkait dinamika karakter dan kenakalan anak didik. Ketika ada data besar terkait anak didik yang bermasalah maka tindakan dan layanan anak didik dapat dilakukan sesuai dinamika anak didik. Ada juga kata menarik dari Nadiem kedepan semua kepala sekolah adalah alumni guru penggerak.

Terkait BOS Nadiem menjelaskan adanya pola baru yakni langsung ke sekolah. Tidak “birokratik” ke pemerintah daerah dahulu. Plus fleksibilitas BOS oleh para kepala sekolah untuk buku, masker atau pun beli perahu untuk menyebrangkan anak dari daerah lain, pulau sebelah. Bahkan kini muncul “BOS Majemuk” yakni bantuan BOS disesuaikan dengan tingkat kemahalan daerah. Anak di Jakarta dan anak di Papua tentu “modalnya” berbeda.

Kedepan akan ada bantuan laptop dan projector untuk puluhan ribu sekolah. Bantuan untuk mahasiswa pun tidak akan sama Rp 2,4 juta. Akan ada mahasiswa dengan bantuan sampai Rp 12 juta dalam prodi tertentu. Prinsip “Keseragaman Belum Tentu Adil”. Jokowi dan Nadiem dalam podcast nampak kompak dan sepakat terkait upaya perbaikan Pendidikan. Tentu Jokowi dan Nadiem adalah sosok yang punya keterbatasan, mari kita pahami.

Dalam akhir diskusi Presiden Jokowi menjelaskan karakter dirinya saat Ia menjadi pelajar dahulu. Ia mengatakan bahwa dirinya “Tidak Mau kalah”. Contohnya Ia tak mau kalah belajar. Bila orang lain bisa belajar dua jam maka Ia berusah belajar selama 4 jam. Tidak mau kalah dengan cara tidak mau putus asa. Tidak mau kalah dengan cara senang berkompetisi. Tidak mau kalah dengan cara serba ingin tahu sampai hal detil.

(26)