Jokowi Muliakan Pensiunan

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua Pengurus Besar PGRI)

Ibu Saya adalah pensiunan guru SD. Betapa sangat bahagianya di jaman Presiden Jokowi saat menjelang Hari Raya Idul Fitri. Mengapa ? Karena sejumlah Presiden RI sebelumnya tidak ada yang memberi THR pada entitas pensiunan. Pensiunan seolah sepoy-sepoy terlupakan. Jokowi terlihat memuliakan pensiunan dalam persektif mereka.

Do’a para pensiunan mengalir pada Presiden Jokowi. Bahkan mantan Presiden SBY sempat memuji Jokowi dalam cuitannya, “Saya bersyukur dan mendukung pemerintah yang memberikan bantuan finansial kepada para abdi negara (ASN, TNI, Polri & pensiunan). Bantuan pemerintah itu tepat (terutama para abdi negara yang penghasilannya belum besar), di kala daya beli mereka sedang turun.”

Bukankah SBY pun adalah pensiunan ? Ia pun mendapatkan THR sebagai pensiunan pejabat negara. Semua orang ingin THR, termasuk mantan Presiden RI. Apalagi para pensiunan pegawai negeri biasa. Para pensiunan PNS non pejabat mayoritas hidup “pas-pasan” padahal jasa mereka luar biasa saat aktif sebagai ASN.

Tepat dan afirmatif masa kepemimpinan Presiden Jokowi memperlakukan para pensiunan. Ibu Saya pensiunan guru SD dan pasti merepresentasikan entitas pensiunan sangat mendukung adanya THR era Jokowi. Bagi entitas pensiunan adanya THR menjelasakan “negara hadir” di tengah usia akhir mereka.

Faktanya tidak sedikit pensiunan ASN bahkan tak punya rumah, ngontrak seumur hidup dan keadaan ekonominya sangat menyedihkan. Kehadiran gaji ke 13 dan THR walau setahun sekali bagaikan “Segelas Air” di Padang Pasir. Bagi pensiunan yang ekonominya mapan dan normal, THR dan gaji ke 13 bisa memberi angpau bagi cucu tercinta.

Memuliakan orang-orang yang telah berjasa pada negara dan bangsa adalah baik. Bahkan betapa indahnya keluarga para pahlawan Nanggala 402 di Hari Raya Idul Fitri dan momen hari raya mereka mendapatkan santunan khusus dari negara, mengapa tidakb ? Setiap keluarga pahlawan wajar mendapatkan hukum balas budi dari negara.

Jokowi dihadapan para pensiunan memiliki citra yang sangat positif. Walau pun Jokowi adalah salah satu atau satu-satunya Presiden yang sangat banyak dibuli tiada tara. Kehadiran Presiden Jokowi dalam pentas politik nasional benar-benar telah “mempermalukan” para tokoh kaliber nasional. Sosok wong biasa yang dianggap tak pantas dan tak layak malah dua periode menjadi Presiden RI.

Itulah kehidupan, Tuhan punya maksud untuk setiap orang. Tuhan lebih tahu apa yang akan terjadi dan apa yang Ia kehendaki. Hanya di jaman Jokowi lahir istilah Kadrun dan Cebong. Luar biasa Jokowi efek lahirkan dua “Gerandong” yang sama-sama provokatif dan cenderung nyinyir anyir keduanya. Kadrun dan Cebong dua makhluk militan yang terbawa suasana.

Hanya di jaman Jokowi lah dua “tema” jualan politik sangat memanas. Tema terkait agama dan PKI mengalahkan public enemy bernama korupsi. Tema korupsi dalam kontestasi dua kali Pilpres sangat tidak menarik. Hal yang menarik adalah tema provokatif terkait agama dan PKI. JuaIan “politik agama” dan “poIitik PKI” sangat seksi. Mem-PKI-kan dan mem-politisasi agama sangat kuat.

Politisasi agama dan politisasi PKI sangat mengemuka. Sekali Iagi “politik anti korupsi” menjadi kalah menarik dari provokasi dan politisasi PKI dan agama. Fakta sejarah menjelaskan setiap golongan partai politik dan entitas yang ingin berkuasa, cenderung “menghalalkan segala cara”. Gosip kecurangan, hoaxs sampai “memarahi” Tuhan pun terjadi.

Sejumlah tokoh ulama menjadi “sponsor” kedua belah pihak. KeuIamaannya menjadi “camplang” atau turun wibawa karena seolah menjual umat dan ayat. Ijtima ulama, mimpi-mimpi ulama pun hadir daIam kontestasi politik yang makin mengemukanya “politik identitas”. Semua kini menjadi pembeIajaran agar bangsa kita ke depan Iebih baik. Good Legacy semoga hadir kemudian

(3)