Meletakkan Bahagia, Derita Dan Kebaikan

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Menulis itu gampang, sebagaimana tulisan Saya ini. Bicara pun gampang sebagaimana apa yang keluar dari mulut Saya. Hal yang sulit adalah mempraktikan apa yang kita tulis, kita bicarakan dan kita pikirkan. Tidak mudah, sangat tidak mudah. Maka tak heran kita mengenal ungkapan, “Ah teori!”. “Ah NATO!”. “Ngomong kan gampang”. Faktanya memang demikian, mudah bicara, menuliskan dan memikirkan sesuatu tapi mempraktikannya susah.

Seperti apa yang akan Saya tuliskan berikut. Memikirkan bahagia dan menuliskannya itu gampang tapi merasakannya tidak mudah. Membicarakan derita dan menuliskannya itu gampang tapi melepaskan dan men-zero-kan hati dan pikiran dari derita dan pikiran negatif itu sangat tak mudah. Termasuk menuliskan hal baik dan membicarakan hal baik itu mudah bisa meluncur dari mulut siapa pun, apalagi penceramah. Tapi melakukannya dan menempelkannya dalam pikiran, perkataan dan tindakan kita sangat tak mudah.

Ada satu pikiran, hanya pikiran dan solusi agar kita hidup lebih baik. Konon katanya sukses itu terlahir karena kita mampu mengalahkan egoisme diri kita sendiri, kenegatifan pikiran kita sendiri dan energi negatif diri kita sendiri. Menjadi pribadi positif itu tak mudah. Namun menjadi pribadi negatif jauh lebih mudah. Mengapa kita manusia mesti belajar, mesti sekolah, mesti reflektif. Mengapa kita mesti TTM, tasyakur, tafakur dan muhasabah diri? Agar kita terus bertumbuh menjadi lebih baik, mulia dan berkarakter.

Ujungnya berakhlak mulia bagi diri, orang lain dan kehidupan sesuai anjuran Ilahi. Kita harus menjadi “pribadi Ilahiah” bukan “makhluk jahiliah”. Ini tentu tak mudah. Menjadi “pribadi Ilahiah” dan menghindari menjadi “makhluk jahiliah” mudah dituliskan dan dikatakan, namun sangat sulit di praktikan. Menurut Saya setidaknya lakukan cara berikut. Cara apa? Cara meletakkan derita, bahagia dan kebaikan. Letakan dimana? Tancapkan dimana? Ini hanya metode mental menguatkan bawah sadar kita terkait meletakkan ketiganya.

Pertama bila kita mulai menyukai bangun malam dan lebih terasa ada “hubungan” antara kita dengan Ilahi. Mulai ada “GR” antara kita dengan Ilahi maka sekalian letakkan energi bahagia, derita dan kebaikan pada tempatnya. Dimana tempatnya? Bisa saja secara mental dan praktik, kita letakan derita di sajadah. Sajadah yang sering kita gunakan shalat malam, mengapa tidak saat kita bersujud segala derita, pikiran negatif “kucurkan” dari kepala kita di sajadah. Jangan menempel pada pikiran dan perasaan kita. Berat membawanya, “Tidak akan kuat” kata Dilan. Terlalu kata Rhoma Irama.

Nah kebahagiaan letakkan dimana? Kebahagiaan letakan di orang lain, berikan pada orang lain? Ini tentu sangat-sangat sulit “memberikan” kebahagian pada orang lain. Bukankah manusia pada dasarnya semua mengejar kebahagiaan pada dirinya sendiri? Ya faktanya demikian! Namun selalu ada orang-orang istimewa yang luar biasa dimana Ia kuat dan tabah memberikan kebahagiaan untuk orang lain. Bukankah seorang Ibu lebih rela anaknya bahagia? Bukankah pada hakekatnya anak dari seorang Ibu adalah orang lain? Meletakan kebahagiaan menjadi milik orang lain adalah entitas para manusia altruistik. Entitas altruistik mengutamakan orang lain sukses dan bahagia.

Lantas dimana meletakkan kebaikan? Mengapa tidak coba kita letakkan, kuatkan dan tancapkan kebaikan pada diri kita sendiri. Buang jauh-jauh hal yang munkar, iri dengki, keji lalim dari diri kita. Semayamkan pikiran baik, keyakinan baik pada diri kita sendiri. Apa yang dipikirkan dan diyakini akan menimpa diri, demikian kata pepatah bijak. Mengapa tidak kita letakkan energi baik pada pikiran, perasaan dan keyakinan kebatinan kita. Ini akan sangat positif, be positif diri. Sekali lagi ini hanya tulisan dan perspektif. Tapi bisa kita coba.

Dalam ajaran agama, kita fahami bahwa “Allah Tergantung Prasangka Mu”. Termasuk diri kita sendiri tergantung prasangka positif negatif diri kita sendiri. Pemilik diri kita adalah diri kita sendiri, Tuhan sudah pasrahkan agar kita “merawat” diri kita sendiri. Diri kita tergantung kita sendiri. Sesiapa yang ingin sukses bukan harus mengalahkan orang lain tapi kalahkan dulu diri kita sendiri. Terutama buang jauh-jauh, kubur dan hindari hal-hal negatif dalam diri kita. Bahkan anggap Syeitan itu tidak ada tapi yang ada adalah “Syeitan Energi Negatif” dalam diri kita.

Yuk mari kita tempatkan derita di sajadah, bahagia di orang lain dan energi nurullah kebaikan dalam diri kita. Bisa? Sabisa-bisa harus bisa! Berawal dari niat bisa, mencoba untuk bisa, membiasakan, terbiasa dan akhirnya sangat bisa! Menjadi manusia itu menjadi diri sendiri dan menjadikan orang lain mendapatkan manfaat dari Sang Diri kita. Orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya adalah orang-orang yang sudah melepaskan egosisme diri dan nafsu duniawi yang membebani. Kita pada faktanya hanyalah butiran debu. Kebetulan butiran debu itu punya akal dan rasa.

Hidup memang tidak mudah untuk lebih baik, bertumbuh, berkembang dan bermanfaat. Tapi ketidakmudahan itu adalah ujian dan kanal ibadah. Disinilah manusia kadar dan “karatnya” diuji. Dalam tulisan sebelumnya Saya pernah menarasikan ada jenis manusia yang lebih baik dari seorang ibu kepada anaknya. Padahal kebaikan seorang Ibu kepada anaknya sangat luar biasa. Bukankah kasih Ibu sepanjang masa tanpa harap balas? Benar, benar sekali. Tapi kebaikan seorang Ibu itu karena ada ikatan biologis emosional. Seorang anak sebelumnya Ia kandung sembilan bulan dan Ia rawat sejak bayi.

Maaf, monyet pun merawat anaknya. Secara basic instrinct semua binatang dan manusia pun punya energi emosional untuk mencintai anaknya tanpa batas dan harap balas. Namun sebagaimana Saya katakan faktanya ada beberapa jenis manusia yang bahagia dan berusaha agar orang lain sukses dan bahagia. Padahal tidak ada ikatan emosional biologis. Ia berbuat baik pada semua orang tanpa harap balas. Ia hanya punya ikatan secara spiritual sosiologis pada sesama manusia. Ia tak berharap pujian, balikan atau manfaat apa pun selain hanya memberi dan tak berharap kembali. Bisa jadi jenis manusia ini berprinsip “Siapa yang memberi kebahagiaan pada orang lain maka Tuhan akan mengurus kebahagiaan secara khusus untuk dirinya”.

Bisakah kita menjadi manusia jenis di atas? Bisakah kita meletakan derita di sajadah? Meletakan bahagia pada orang lain? Menyimpan energi kebaikan pada diri kita sendiri? Mari kita cobakan dan uji diri kita. Apakah diri kita ini jenis manusia teori atau manusia pelaku? Setidaknya energi atau perspektif ini ada dalam pikiran perasaan kita untuk dipraktikan. Segalanya hanya Allah yang maha tahu dan maha ridha apa pun yang akan terjadi dengan diri kita. Semoga Allah jadikan kita jenis manusia altruistik bukan egoistik nyinyiristik!

(6)