Darah Suci Guru Tumpah di Papua

  • Whatsapp
banner 468x60

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua Pengurus Besar PGRI)

Wafatnya dua guru bernama Yonatan Raden dan Oktavianus Rayo menjelaskan bahwa profesi guru berisiko kematian. Darah suci Sang Guru tumpah di Kampung Julukoma dan Distrik Beoga Kabupaten Puncak, Papua. Ini satu kisah getir keganasan kelompok kriminal bersenjata (KKB). Kebengisan kelompok kriminal bersenjata ini melintasi batas dan sangat sadis.

Yonatan dan Oktavianus adalah guru pahlawan, pahlawan guru. Darah sucinya sebagai pelayan anak didik tumpah di tanah Papua. Prof.Dr.Dadan Wildan mengatakan, “Satu guru gugur, masa depan anak bangsa ikut terkubur”. Nilai seorang guru sangat berharga karena Ia adalah pelayan masa depan sejumlah anak didik.

Kita sangat tahu persis saat Jepang porak poranda dalam Perang Dunia ke 2 maka jumlah guru yang ditanyakan Kaisar. Artinya nilai seorang guru adalah nilai masa depan. Nilai keberlanjutan masa depan bangsa melalui anak didik. Anak didik berada dalam layanan entitas guru. Guru adalah penentu masa depan bangsa melalui anak didik.

PB PGRI dalam surat “belasungkawanya” menyatakan “Mengutuk Keras Penembakan Pada Guru”. Kutukan PGRI adalah sebuah ekspresi suara guru Indonesia yang memandang kelompok kriminal bersenjata kelewat sadis dan bengis. Bila orang bersenjata berhadapan dengan orang atau kelompok bersenjata adalah hal biasa. Namun bila kelompok kriminal bersenjata berhadapan dengan guru yang membawa misi mendidik dan kemanusiaan kemudian memuntahkan peluru pada tubuh guru, sungguh sadis dan bengis.

Pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama melindungi para guru. Mengapa ? Karena para guru yang bertugas melayani anak bangsa, anak masyarakat dan penentu masa depan bangsa harus terlindungi. Melindungi para guru adalah tanggung jawab semua pihak. Jangan sampai di Papua guru ditembaki, di daerah lain guru pun diperlakukan diskriminatif. Semua guru di negeri ini harus terlindungi.

Melindungi nasib keamanan entitas guru sama dengan melindungi masa depan bangsa. Tanpa guru maka masa depan generasi bangsa mau dilayani siapa ? Hanya bertumpu pada tangan dingin entitas guru lah masa depan anak bangsa akan terselamatkan. Menyelamatkan, melindungi dan memulyakan guru sama dengan menyelamatkan generasi dan masa depan bangsa. Tidak ada bangsa besar dan maju tanpa keterlibatan entitas guru.

Pemerintah dan semua pihak harus hadir melakukan upaya maksimal perlindungan dan pembelaan pada keamanan profesi guru, terutama di daerah yang rawan konflik. Guru diIukai, dibunuh dan ditembaki menjadi kisah buram profesi guru di negeri kita. Setiap tahun selalu ada kisah guru dianiaya dan teraniya. Kapan derita guru secara fisik, finansial dan status honorer akan berakhir ? Menunggu kiamat ? Tentu tidak !.

Sejarah kebengisan dan kebiadaban oknum tertentu pada profesi guru selalu terjadi. Sejumlah kisah penganiaya guru itu diantaranya adaIah : 1) kelompok kriminal bersenjata, 2) oknum orangtua siswa bersenjata melabrak guru, 3) oknum preman melakukan pemerasan pada guru, 5) oknum anak didik membunuh guru, 6) oknum ormas tertentu dan sejumlah oknum aparat negara pun kadang terlibat.

Kisah wafatnya “Pahlawan Guru” Yonatan dan Oktavianus membawa “pesan suci” yakni mari semua pihak hormati martabat guru, lindungi profesi guru dan keluarganya. Dalam UURI No 14 Tahun 2005 mengamanahkan bahwa “Setiap Guru Harus Dilindungi”. Siapa yang paling wajib melindungi ? Kita semua. Mengapa kita semua harus melindungi profesi guru. Karena kita semua berutang pada guru, karena mereka berjasa mencerdaskan anak bangsa.

Tidak ada masa depan yang baik tanpa campur tangan entitas guru. Semua orang hebat, pemimpin terbaik selalu terlahir melintasi proses pendidikan dari tangan dingin entitas guru. Tidak ada manusia hebat keluar dari belahan batu atau jatuh dari pohon. Semua warga negara dan pemimpin hebat lahir dari sentuhan tangan dan layanan entitas guru. Guru adalah profesi penentu mutu masa depan SDM bangsa.

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90