Menyambut Ramadhan Untuk Ketakwaan

Penulis : Idris Saepul S.Ud
Aktifis Radio FAJRI 1458 AM Bandung

Saudaraku, beberapa hari lagi kita akan bertemu dengan Ramadhan. Kita berdoa:

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي َشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Semoga Allah memberkahi kita di bulan Sya’ban ini dan menyampaikan kita di bulan Ramadhan. Aamiin.

Nabi Saw menyebut Ramadhan sebagai bulan penuh keberkahan (syahrun mubârakun).

قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ كَتَبَ اللّهُ عَلَيْكُمْ صِيَا مُهُ فِيْهِ تُفْتَحُ اَبْوَابَ الجِنَانِ وَتُغْلَقُ اَبْوَابُ الجَحِيْمِ وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ اَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرُ هَا فَقَدْ حُرِمَ
“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan keberkahan. Allah telah mewajibkan kalian shaum di dalamnya. Di bulan itu pintu-pintu surga di buka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Di bulan itu terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tidak diberikan kepadanya kebajikan pada malam itu, berarti diharamkan baginya segala rupa kebajikan”. (H.R. Ahmad, An-Nasa’i, dan Al-Baihaqi, dari Abu Hurairah).

Maka sungguh rugi, orang yang menyia-nyiakan bulan yang agung ini, sebagaimana sabda Nabi Saw:
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَىَّ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
“Sungguh rugi seseorang yang ketika (nama)ku disebut di sampingya tetapi dia tidak bershalawat atasku. Sungguh rugi seseorang yang bertemu dengan Ramadhan lalu Ramadhan berlalu darinya sebelum dosa-dosanya tidak diampuni.” (HR Tirmidzi)

Maka bulan Ramadhan merupakan kesempatan berharga yang ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang beriman kepada Allah dan ingin meraih ridha-Nya. Sehingga kaum Muslimin sudah seharusnya menyambut tamu agung tersebut dengan sebaik-baiknya.

Imam Ibnu Rajab al-Hambali rohimahulloh menyebutkan, “Bagaimana mungkin orang yang beriman tidak gembira dengan dibukanya pintu-pintu surga? Bagaimana mungkin orang yang pernah berbuat dosa dan ingin bertobat serta kembali kepada Allah Ta’ala tidak gembira dengan ditutupnya pintu-pintu neraka? Dan bagaimana mungkin orang yang berakal tidak gembira ketika para setan dibelenggu?”

Oleh karena itu, jangan sampai kesempatan Ramadhan ini berlalu sia-sia. Raih keutamaan Ramadhan yakni dilipatgandakan pahala amal shaleh dengan sungguh-sungguh. Siapkan diri dengan sebaik-baiknya dengan agenda-agenda yang telah tersusun. Apakah tadarrus al-Qur’an, shalat sunnah, shadaqah, zakat, i’tikaf, qiyamul lail, amar makruf nahi mungkar dan aktivitas taqarrub lainnya.

Ingat, Allah SWT mencintai hamba-hambaNya yang bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada-Nya, terlebih lagi di bulan Ramadhan. Dalam hadits Qudsi, Allah SWT berfirman:
“Dan tidaklah hambaKu bertaqarub kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa yang Aku fardhukan atasnya, dan hambaKu terus bertaqarrub kepadaKu dengan amal-amal nawafil hingga Aku mencintainya …” (HR al-Bukhari, Ibnu Hibban dan al-Baihaqi).

Hadits ini menjelaskan bagaimana taqarrub (mendekatkan diri) yang lebih disukai oleh Allah, yaitu dengan melaksanakan apa yang diwajibkan dan melengkapinya dengan amalan-amalan sunnah. Tentu, amal-amal fardhu harus diprioritaskan. Ibn Hajar al-‘Ashqalani menyatakan di Fath al-Bârî, sebagian ulama besar mengatakan bahwa “Siapa yang fardhu lebih menyibukkan dia dari nafilah (amalan sunnah) maka dimaafkan, sebaliknya siapa yang nafilah menyibukkan dia dari amal fardhu maka dia telah tertipu”.

Cara mendekatkan diri kepada Rabb yang paling baik dengan melakukan ibadah, ketaatan, penyucian jiwa, pembersihan hati dari berbagai macam bentuk keburukan. Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh ampunan. Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, meski telah dijamin masuk Jannah karena telah diampuni dosa-dosanya, baik yang terdahulu maupun yang akan datang, juga tak kalah semangat dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan ini. Dari Ubadah Bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda,
أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرُ بَرَكَةٍ، فِيهِ خَيْرٌ يُغَشِّيكُمُ اللَّهُ [فِيهِ] فَتَنْزِلُ الرَّحْمَةَ، وَتُحَطُّ الْخَطَايَا، وَيُسْتَجَابُ فِيهِ الدُّعَاءُ، فَيَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى تَنَافُسِكُمْ، وَيُبَاهِي بِكُمْ مَلَائِكَتَهُ، فَأَرُوا اللَّهَ مِنْ أَنْفُسِكُمْ خَيْرًا، فَإِنَّ الشَّقِيَّ مِنْ حُرِمَ فِيهِ رَحْمَةَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Duhai, telah datang bulan Ramadhan, bulan barakah, yang di dalamnya banyak kebaikan yang meliputi kalian. Maka turunlah rahmat. Berguguranlah segala kesalahan dan dosa. Di dalamnya doa dikabulkan. Maka Allah melihat semangat kalian. Para malaikat juga sangat bangga kepada kalian. Maka perlihatkanlah di hadapan Allah yang terbaik dari jiwa-jiwa kalian. Karena sesungguhnya celaka bagi siapa yang diharamkan rahmat Allah di dalamnya.” (HR. At-Thabarani dalam Targhib wa Tarhib, 2/60; Majma’ az-Zawaid, 3/142)
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menyambut kedatangan Ramadhan benar-benar untuk Allah Ta’ala. Tidak hanya sekedar menyiapkan makanan, minuman, ataupun pakaian, akan tetapi menyiapkan serangkaian ketaatan, ibadah, kedermawanan, dan kelemahlembutan.

Hikmah diwajibkannya kita berpuasa adalah agar kalian bertakwa. Syeikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi rohimahulloh di dalam kitab Aysar at-Tafâsîr menjelaskan makna firman Allah SWT ”la’allakum tattaqûn” yakni agar dengan puasa itu Allah mempersiapkan kalian untuk takwa yaitu melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan Allah SWT (Al-Jazairi, Aysar at-Tafâsîr, I/80).

Melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya itu dilaksanakan karena kesadaran jiwa dan akal. Maka pelaksanaannya memerlukan pengetahuan syar’i tentang halal dan haram. Karenanya, takwa bisa juga dimaknai sebagai kesadaran akal dan jiwa serta pengetahuan syar’i terhadap wajibnya mengambil halal dan haram sebagai standar bagi seluruh aktivitas lalu merealisasikannya secara praktis (‘amali) di dalam kehidupan.

Oleh karena itu, seharusnya pasca Ramadhan, akan lahir manusia-manusia baru, keluarga-keluarga baru, dan masyarakat baru yang bertakwa kepada Allah SWT, mengamalkan ajaran Islam, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sebab ketakwaan yang diperintahkan oleh Allah tidak hanya bersifat individual, tapi juga untuk semua masyarakat muslim.

Semoga Ramadhan 1442 H ini menjadi pemicu bagi kita untuk mewujudkan ketakwan hakiki, yakni menerapkan aturan Islam secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan: individu, keluarga, masyarakat, dan negara. Inilah wujud keimanan dan ketakwaan yang sebenarnya.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ
“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96)

Semoga Ramadhan kali ini menjadi pintu terbukanya keberkahan bagi negeri ini. Aamiin

(20)