Kondisi Warga Korban Longsor Lebak Banten 2020 Lalu Sangat Pihatin

  • Whatsapp
banner 468x60

Pewarta : Nurjamin

Koran SINAR PAGI, Kab.Lebak – Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Pengawasan Reformasi Indonesia (LPRI) Banten, Usman Hadi mengaku prihatin melihat kondisi warga koban Longsor disertai banjir di Lebak Banten yang terjadi pada Januari 2020 lalu.

Melalui tim investigasinya, Usman menelusuri fakta informasi terkait adanya korban longsor yang masih bertahan hingga 15 bulan ditempat pengungsian.

“Pasca bencana lalu menyisakan derita berkepanjangan dengan tidak adanya perhatian dan kepaśtian dari pemerintah baik pusat mapun daerah,” kata Uman Hadi kepada media ini, Rabu (24/3/2021) sore.

Lebih lanjut dikatakn, dirinya akan terus mencari tahu akar permasalahan yang dinilai tidak berujung secara kelembagaan, karena menurutnya, pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak tidak serius menangani nasib korban banjir dan longsor ini.

“Saya akan telusuri kasus ini karena sudah menyangkut Hak Asasi Manusia, saya akan surati pihak terkait dalam menuntaskan penderitaan masyarakat,” tegasnya.

Dia meyakini ada miss antara pemerintah pusat dengan daerah dalam kasus ini, sehingga menyebabkan terlantarnya warga korban bencana longsor.

Sementara ini, 300 kepala keluarga yang terdampak bencana seperti dari Kampung Cigobang, Desa Banjarsari, Kec.Gedong kini berada di Hunian Semetara (Huntara) yang berdiri diatas lahan milik sebuah perusahaan.

Longsor yang terjadi pada Tahun 2020 lalu disebabkan itensitas curah hujan yang sangat tinggi, sehingga menyebabkan ratusan rumah warga dari 4 kecamatan, yakni, Kecamatan Lebak Gedong, Kecamatan Cipanas, Kecamatan Sajira dan Kecamatan Kalang Anyer, ambruk, namun dampak dari peristiwa tersebut kerusakan yang sangat parah dirasakan oleh warga Kapung Cigobang.

Salah satu warga Kampung Cigobang yang tempat tinggalnya lenyap dalam peristiwa tersebut, Amsori menuturkan, musibah yang memporakporandakan desanya beberapa waktu lalu masih menyisakan trauma yang mendalam, terlebih lagi dirinya bersama ratusan kepala keluarga lainnya harus tinggal dihunian sementara yang difasilitasi oleh pemerintah daerah.

Ditambahkan, ia bersama ratusan kepala keluarga lainnya menempati Huntara ini sudah 15 bulan, menurutnya dalam kurun waktu 15 bulan menetap di hunian sementara tanpa adanya kejelasan pemerintah baik daerah maupun pusat dalam menangani pasca longsor tersebut jelas mempengaruhi psikologis terhadap warga.

“Kepada pemerintah pusat dan daerah, kami tidak berharap banyak, cuma minta tolong perhatikan nasib kami, mau sampai kapan kami harus menetap di hunian sementara, kami siap direlokasi ketempat yang lebih aman, tentunya sesuai dengan harapan, kami sudah lelah menunggu kepastian, dan perlu kehidupan yang layak,” keluhnya.

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90