Khotib Jum’at Bahas Kemuliaan Bulan Sya’ban Hingga Kedatangan Ramadhan

  • Whatsapp
banner 468x60

Pewarta: Dwi Arifin
Koran Sinar Pagi (Kota Bandung)-, Mendekati datangnya bulan ramadhan. Khotib jum’at mulai mendakwahkan tentang kemuliaan bulan syaban dan ramadhan. Hal ini bertujuan agar setiap muslim maksimal menyambut kedatangan bulan umat nabi Muhammad yang datang satu tahun sekali.

Dr. Abdurrahman khotib jum’at masjid Pusdai Jabar dalam khutbahnya menyampaikan dengan akan datangnya bulan ramadhan kita harus berdo’a seperti yang dipanjatkan oleh orang-orang sholeh terdahulu.

Umat muslim dianjurkan berdoa untuk menyambut datangnya bulan Ramadan. Dengan do’a: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah (umur) kami kepada bulan Ramadhan.” (HR. Ahmad).

Dalam bulan syaban ini turun ayat tentang perintah bersholawat yang Alloh langsung mencontohkannya.

Seperti yang diabadikan dalam Al-quran surah al-Ahzab [33] ayat 56. “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Dalam bulan ini juga ada pemindahan kiblat umat nabi Muhammad. Pada bulan Rajab tahun ke dua Hijriyah, Nabi Muhammad mendapat wahyu untuk memindahkan kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram.

Ketika itu, Nabi Muhammad sedang salat menghadap Baitul Maqdis di Yerusalem. Tetapi, Allah menurunkan wahyu yang menjawab doanya selama ini. Wahyu yang terekam dalam surat Al Baqarah ayat 144 itu memerintahkan Nabi Muhammad berpaling ke Masjidil Haram, Makkah.

Ketika wahyu itu turun, Rasulullah sedang melaksanakan salat dua rakaat. Mengenai salat yang dikerjakan Rasulullah, ada dua versi penyebutan. Satu versi menyebut Rasulullah sedang menjalankan salat Zuhur, versi lainnya menyebut salat Ashar.

Setelah perintah itu turun, Rasulullah mengubah posisi kiblatnya dengan memutar 180 derajat ke arah kiblat baru. Para jemaah segera mengikuti perpindahan arah kiblat itu.

Catatan perubahan kiblat salat itu dapat pula dibaca pada Hadits Riwayat Ahmad

“Telah menceritakan kepada kami ‘Affan Telah menceritakan kepada kami Hammad dari Tsabit dari Anas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam salat menghadap Baitul Maqdis, lalu turunlah ayat: “Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram” maka ada seorang laki-laki dari Bani Salamah yang lewat ketika mereka (para sahabat Radliyallahu’anhum) sedang rukuk Salat Subuh rakaat ke dua, lalu ia menyeru: ketahuilah kiblat telah diubah, ketahuilah kiblat telah diubah ke Kakbah!. (Anas bin Malik Radliyallahu’anhu) berkata; maka mereka bergeser dalam posisi salat ke arah kiblat.”

Setelah membahas ayat itu, khotib jum’at menyempatkan mengingatkan jam’ah tentang kedatangan bulan ramdhan ini yang merupakan bonus pahala yang diberikan khusus pada umat nabi Muhammad. Kalau dilihat dan dibandingkan dengan umat terdahulu. Mereka umurnya panjang dan badannya besar sehingga cenderung sangat maksimal dan kuat untuk beribadah. Beda dengan umat islam akhir jaman cenderung kecil badannya dan umurnya tak sepanjang umat dulu.

Maka dengan kedatangan bulan ramadhan yang penuh lipatan pahala dan di dalamnya ada malam yang bernilai pahala seribu bulan. Sudah semestinya kita menyambutnya dan memaksimalkan ibadah sejak sejak sekarang.

Pos terkait

banner 468x60