Menyoal Perbuatan Menghina Guru

  • Whatsapp
banner 468x60

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua Pengurus Besar PGRI)

Seorang guru disatroni sejumlah orang dan direndahkan martabatnya sudah biasa dan sering terjadi di bangsa ini. Orang-orang sejenis ini memang beragama tapi tak punya rasa malu dan minus etika. Saat Saya masih jadi guru SMA banyak preman, ormas, LSM dan wartawan abal-abal “mengeruduk” sekolah.

Bahkan hampir terjadi perkelahian di sekolah dimana Saya bekerja. Segerombolan preman dan orang yang susah makan berusaha mengintimidasi Saya. Cari makan dan cari kasus di sekolah. Itulah dinamika kehidupan guru di sekolah. Kedaulatan sekolah, martabat guru menjadi “murah” diobok-obok oleh pihak tertentu.

Kejadian viral pekan ini “Guru Dimarahi Perangkat Desa Usai Unggah Video Jalan Rusak” adalah dinamika terkait harkat martabat guru dan kedaulatan sekolah. Mungkin Sang Perangkat desa yang marah-marah pada guru pengunggah video tak pernah diajari guru. Atau lupa bahwa dirinya dahulu pernah dididik oleh guru.

Sebagai politisi pendidikan yang memperjuangkan harkat martabat guru dan pendidikan, tindak menghina guru harus dilawan! Guru adalah “prajurit” pendidikan, jangan melow, mlenghoy dan melankolis. Guru harus tegar, tegas dan bila perlu berani “berkelahi” untuk menegakan kebenaran.

Ada entitas sakral di negeri ini yang jangan dihinakan. Pertama para ulama, guru, pemimpin pilihan rakyat, orang-orang yang berjasa dan orang-orang miskin. Terutama para guru. Mereka lah profesi mulia yang sampai saat ini menjadi pelayan masyarakat melaui anak didik. Anak didik adalah harta termahal setiap bangsa.

Menghina guru adalah tindakan yang sangat buruk. Menghina orang hina dan orang berdosa pun tak elok. Apalagi menghina menghakimi dan menistakan profesi guru. Guru memang rawan jadi korban. Politisasi, premanisasi, eksploitasi, diskriminasi dan segala hal negatif bisa menimpa guru.

UU RI No 14 tahun 2005 membawa pesan “Lindungi Profesi Guru”. Faktanya ? Masih ada sejumlah guru yang terbunuh, dilukai, diintimidasi, dipersekusi, dipolitisasi dan bahkan diporoti. Apa yang diporoti? Saat guru tersandung kasus hukum tidak sedikit malah diporoti oknum penegak hukum bekerja sama dengan ormas tertentu.

Alhamdulillah sejumlah orang yang pernah menghinakan guru tiada tara “sudah dipanggil oleh yang maha kuasa”. Bahkan beberapa orang yang suka menghinakan guru terlihat hidupnya tidak makin baik. Guru, ulama, pemimpin pilihan rakyat dan orang-orang baik harus dimuliakan.

Mulai dari aparat desa, aparat penegak hukum, aparat pendidikan, ormas dan preman pencari makan di sekolahan stop! Stop! Memperlakukan sekolahan, guru dan dunia pendidikan sebagai objek tak manusiawi. Guru adalah aparatur pendidikan dan bagian dari masyarakat. Saat Ia mengunggah video yang kritis pada dasarnya adalah mengedukasi publik.

Guru adalah pendidik. Ia bisa mendidik di ruang kelas dan di ruang publik. Medsos facebook adalah ruang publik yang bisa dimanfaatkan para guru untuk mengedukasi publik. Guru punya beban dan tanggung jawab mendidik. Termasuk “Mendidik Aparat Desa” secara non formal melalui medsos!

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90